Label: , , , ,

Wisata Hutan Kertas Karawang

Gerbang Masuk Hutan Kertas Karawang

Ngomongin wisata paling semangat jika ada lokasi baru yang asyik dan seru, tapi belum pernah kita lihat. Kebetulan liburan kali ini di Karawang pas lagi boring-boringnya, searching google tentang wisata Karawang dapet deh satu tempat yang ngga terlalu jauh dari habitat kami di Teluk Jambe

Bicara soal Karawang, ingatan kita pasti nggak jauh-jauh dari masa-masa perjuangan ya. Dari puisi Karawang-Bekasi gubahan Chairil Anwar, sampai ke peristiwa Rengasdengklok di masa Pergerakan Nasional. Hal ini tentunya membuat Karawang memiliki berbagai tempat wisata sejarah yang mohon maaf belum bisa saya tulis karena saya belum sempa mengunjunginya satu per satu, hehe ...

Spot foto utama
Yupsss, terlepas dari itu semua, Karawang merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang terletak di garis Pantai Utara Pulau Jawa. Tentunya dengan lokasi yang berada di kawasan pantai tersebut membuat Karawang memiliki banyak wisata pantai seperti Pantai Sedari dan Pantai Samudera Baru, mohon maaf juga belum bisa cerita tentang pantai-pantai ini karena saya belum sempat ke sana. Namun, disamping wisata sejarah, wisata curug dan wisata pantai, ternyata Karawang juga memiliki tempat wisata alam berupa hutan. Hutan apakah itu? Yuk simak cerita kelayapan saya kali ini di ..... HUTAN KERTAS KARAWANG !

Asal-usul Hutan Kertas Karawang 
 
Banyak spot foto yang Instagramable
Pakai istilah asal usul kok ya kayak legenda aja ya haha. Oke menurut beberapa artikel yang saya baca di google Hutan Kertas Karawang ini merupakan hutan buatan yang tanamannya adalah tanaman Kalitus. atau juga disebut dengan nama Eukaliptus. Tanaman ini merupakan tanaman yang banyak ditemui di Australia dan juga Indonesia. Pohon ini tidak begitu tahan dengan cuaca yang dingin. Oleh karena itu, tidak salah jika di Hutan Kertas Karawang ini, pohon Kalitus tumbuh dengan baik. Ya, memang Karawang dikenal sebagai daerah yang cukup panas cuacanya.

Pohon Kalitus yang ada di Hutan Kertas Karawang ini merupakan hasil penanaman yang dilakukan oleh PT Pindo Deli mulai dari tahun 2004 silam. PT Pindo Deli sendiri merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pembuatan kertas.

Tujuan PT Pindo Deli ini menanam pohon Kalitus ini adalah untuk menambah bahan baku pembuatan kertas. Seperti kita ketahui bahwa kertas memang dibuat dari pulp yang berasal dari batang pohon. Oleh karena itu, saat ini hutan tersebut dijuluki dengan nama Hutan Kertas Karawang, karena memang ditanam dengan tujuan untuk diolah menjadi kertas.

Pohon Kalitus sendiri dapat dimanfaatkan daun maupun batangnya. Daun tanaman Kalitus ini dapat disuling untuk diambil minyak Atsirinya. Sedangkan batang pohonnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan meubeler dan tentunya juga sebagai bahan baku pembuatan kertas.

 
Saya menyebutnya Panggung Payung haha
Jadi Wisata Photoshoot/ Selfie
 
Pada awalnya, Hutan Kertas Karawang merupakan hutan produksi. Namun seiring berjalannya waktu, lokasi hutan ini banyak digunakan untuk berfoto bahkan foto prewedding. Lambat laun hutan ini banyak dikunjungi oleh para pengunjung untuk berwisata.

Saat ini, tempat wisata ini sudah mulai dikelola sebagai tempat wisata yang dibuka untuk umum. Sudah mulai disediakan banyak sekali spot berfoto di tempat ini. Ada sebuah photo booth yang membentuk frame khas yang ada di aplikasi jejaring sosial Instagram. Selain itu, dipasang juga deretan payung yang digantung di antara pepohonan. Payung – payung ini membentuk semacam koridor yang cantik dan menarik untuk berfoto.

Jika anda berkunjung malam hari, suasananya akan lebih romantis karena lampu-lampu hias akan dinyalakan. Sayangnya saya ke sana pas siang hari. Tapi tetap asyik kok.

 
Fasilitas 
 
Selain spot-spot foto, di sini juga disediakan juga ayunan kain atau yang juga dikenal dengan nama hammock. Hammock ini dapat dengan mudah dipasangkan pada batang pohon Kalitus karena memang tanamannya tumbuh teratur. Ada juga playground untuk buah hati atau adik-adik kita yang masih kecil-kecil.
Mushola nya unik banget
 
Untuk sarana ibadah, disediakan tempat ibadah sederhana yang justru membuat semakin menyatu dengan alam sekitar. Tempat ibadahnya berupa mushola sederhana berbentuk tenda, terbuat dari plastik dan disediakan pula perlengkapan sholat seperti sajadah, mukena dan sarung. Sayang tempat wudhunya demikian terbuka sehingga untuk muslimah pasti kurang nyaman berwudhu di situ. Untuk toilet sendiri tersedia di luar pintu gerbang, di sebelah parkiran motor.

Untuk spot kuliner juga tersedia beberapa warung di luar lokasi. Sayangnya entah kenapa waktu itu banyak yang tutup. Semoga ke depan fasilitasnya semakin ditambah dan ditingkatkan lagi yaa...

 
 
Hubby unch
Lokasi dan Harga Tiket Masuk Hutan Kertas Karawang

Jika anda penasaran dengan tempat ini hutan kertas itu dimana sih tempatnya, sesuai dengan namanya, tempat wisata ini berada di Kabuaten Karawang. Adapun alamat lengkapnya tepat di lingkungan Depo PT. PINDODELI 2, Kp. Gintung, Desa. Kutamekar, Kec. Ciampel. Kabupaten. Karawang, Jawa Barat, Indonesia, Kode Pos. 41363.

Untuk mencapai lokasi hutan ini cukup mudah. Memang lokasinya tidak jauh dari Gerbang Tol Karawang Timur 2. Bahkan suara kendaraan yang lewat Tol Jakarta – Cikampek masih dapat terdengan dari Hutan Kertas ini.

Harga tiket masuknya pas kami ke sini sih kena Rp 10.000,- . Nggak tau deh karena pas hari libur atau emang segitu tarif normalnya. Soalnya di bebrapa artikel yang kita baca tarifnya Rp 5.000,- tapi nggak papa lah ya, untuk wisata refreshing  Rp 10.000 murah lah ya, lagian tempatnya asyik kok.  
 
 
 
[]Lovalia







2 komentar
Label: , ,

Serunya Kuliner Di Pasar Tumpah Galuh Mas, Karawang



Setelah sekian lama ngga post. Ada yang kangen ngelayap bareng saya nggak ya? Upsss

Oke sekarang saya mau cerita salah satu sudut unik di Kabupaten Karawang, tepatnya di kawasan Galuh Mas, Teluk Jambe

Sejak pertama kali diajak suami ke sini, jadi kecanduan. Hari minggu jadi hari yang paling dinanti pokoknya. Meskipun harus jalan kaki ada kali ya 3 km dari Baiti Jannati, tapi tetep semangat. Karena emang lebih seru kalau menikmati Minggu pagi sambil jalan kaki, (sambil ngomel tipis juga karena kecapekan) Ehem

Di sudut Galuh Mas ini pada pagi hari di hari Minggu selalu ramai dengan orang-orang yang berolahraga dan belanja di Pasar Tumpah. Begitu juga saya sama suami sih, tidak ada rencana buat belanja sih, hanya sekedar iseng saja jalan ke sana, beli cilok hehe

Dari alun-alun kota melewati jembatan citarum langsung belok kanan ke arah perumahan Galuh Mas. Melewati RSUD Karawang dan beberapa ruko-ruko yang masih tutup (masih pagi ngapain buka) , tidak semuanya tutup sih sebagian ada juga yang sudah buka. Sampai di bunderan langsung belok kiri, nah tak jauh dari sana sudah terlihat keramaian pasar pagi di hari Minggu.

Langsung saja mengikuti iringan kendaraan yang berjalan lambat, sehingga membuat lalu lintas padat merayap. Kalau di lihat kemacetannya di karenakan para pengendara motor yang berjalan lambat karena sambil nengok kanan-kiri lihat barang-barang yang di jajakan.

Pokoknya rame banget suasananya, kebanyakan para pedagang pakaian dan aneka fashion seperti tas, sepatu, jilbab dan lain-lain yang membuka lapak di sana. Dari yang harganya Rp 10.000,- sampai ratusan ribu ada di sana. Ada juga para pedagang perabotan rumah tangga, mainan dan aneka hiasan. Tidak ketinggalan aneka kuliner seperti es teh, tempe mendoan, baso, soto ayam, dan masih banyak  buka lapak di sana. Untuk yang cantik-cantik, kesempatan nih di sini banyak dijual murah boneka yang lucu-lucu. Kalau saya sendiri tida berniat belanja hanya mau lihat-lihat saja.Tujuan utama CILOK bwahaha

Sampai di putaran langsung balik arah lagi, di kiri kanan jalan memang penuh sekali dengan para pedagang, tidak mau ketinggalan para tukang parkir pun panen parkiran. Dari balik arah tadi kembali ke bunderan kalau kita ambil jalan lurus ada juga Pasar Tumpah di depan ruko green village perumnas teluk jambe, sama ramainya hanya saja para pedagangnya tidak berdagang di pinggir jalan, mereka berdagang di depan ruko yang belum pada buka. Jadi jalannya kendaraan ramai lancar.

Mengakhiri perjalanan saya setelah beli cilok dan es teh , langsung saja duduk-duduk manis di halaman masjid Puri Raya. Boleh masuk ke halaman, sekedar duduk-duduk, main sama anak atau foto-foto di sini. Yang pasti jaga kebersihan ya ...

[]Lovalia

0 komentar
Label: , ,

Misteri Jembatan Perbatasan Cepu-Padangan


📷 Jepret 📷 Jembatan Perbatasan (Cepu-Padangan)
Ceritane koyo ngene :

Jembatan ini berada di perbatasan Kota Cepu dan Padangan Bojonegoro yang menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jembatan ini dibangun pada tahun 1992 dan diresmikan oleh gubernur Jawa Tengah Soewardi pada tahun 1994

Jembatan dengan panjang 220 meter dengan rentang 90 meter dan lebar 9 meter ini dibangun oleh Pemerintah dengan Konsultan Direktorat Jenderal Bina Marga dan Kontraktor PT. Nindya Karya (Persero) dengan konstruksi bangunan rangka baja atas Kelas Tipe A

Jembatan penghubung Jawa Timur Jawa Tengah ini mempunyai mitos yang sampai sekarang masih dipercayai oleh warga sekitar jembatan

Menurut warga yang mempercayainya, di sebelah kanan jembatan kalo dari arah kota cepu, terdapat pintu gerbang kerajaan yg dijaga oleh makhluk yang besar. Ada juga yang bilang kalau makhluk halus yang menghuni jembatan itu sekali tempo meminta sesembahan (tumbal) yang berupa anak remaja. Hal ini seolah diperkuat fakta di lapangan yang memang beberapa kali ada korban yg jatuh dari jembatan bengawan solo ini, dan korbannyapun anak-anak remaja

Wallahu alam 😇  Yang jelas di manapun kita berada harus tetap berhati-hati, menghormati adat setempat dan tidak boleh sesumbar yaa

Oiya nggak perlu merinding disko kalau mau ke sini. Karena setiap sore sampai larut malam jembatan ini akan ramai dengan anak-anak muda dan warga sekitar yang nongkrong di angkringan atau warkop di sekitar jembatan
Intine soko cerita sing dowo mau ... Jembatan iki duuuooowwoooo ... Nanging isih  luwih dowo kangenku marang sliramu... Eeaaa #HoaxParah 😂😝 .
#DolanBloraYok
#jareaku  #CeritaDariBlora

Lovalia : Berbagai Sumber

1 komentar
Label: ,

Surat Cinta untuk Blora Mustika (HUT 267 Blora)

Logo HUT 267 Kabupaten Blora
Dalam kamus ilmiah populer, retrospeksi adalah keinginan meninjau atau menghayati kembali ke belakang. Atau retrospeksi bisa juga dikatakan sebagai cara pandang terhadap apa-apa yang sudah dilakukan, yang mana termasuk di dalamnya mengevaluasi keberhasilan sekaligus kegagalan di masa lampau, serta berharap dapat membangun rencana langkah-langkah prospektif, terobosan-terobosan di masa depan. 

Mengapa membincangkan retrospeksi Hari Jadi Kabupaten Blora, dalam aras ini, menjadi sangat penting? Tentu saja usaha retrospeksi bermanfaat bagi kita dalam mengambil pelajaran dari peristiwa yang sudah-sudah. Mengutip Elisabeth Kubler Ross, “Tidak ada kesalahan, tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Seluruh peristiwa adalah anugerah yang diberikan kepada kita untuk kita pelajari.”

Usia Kabupaten Blora bisa dibilang tua, bahkan lebih tua dari usia kemerdekaan negara ini. Tepat pada tanggal 11 Desember 2016, genap warga Kabupaten Blora memperingati Hari Jadi Kabupaten Blora yang ke-267. Namun demikian, sudahkah seluruh masyarakat Blora merasakan kehidupan yang MUSTIKA di sini?

Saya memang tidak dilahirkan di Blora, tetapi saya dibesarkan di kabupaten tercinta ini. Dua puluh tahun saya berada di Blora tercinta, menurut hemat saya, belum banyak perubahan yang signifikan di sini. Tentu saja pengertian “perubahan” yang dimaksud bukan sebatas prestasi-prestasi pembangunan, karena “perubahan” tentunya pengertiannya harus lebih luas daripada itu.

Sebutan Blora Kota MUSTIKA (Maju, Unggul, Sehat, Tertib, Indah, Kntinyu, Aman), sampai hari ini pun menurut pendapat saya masih sekadar slogan. Blora masih belum MUSTIKA. Masyarakat kabupaten ini masih belum merasa memiliki slogan tersebut. Sampah di mana-mana dan parit-parit banyak yang tersumbat karena sampah. Taman-taman yang dibangun dengan dana puluhan juta itu apa kabarnya? Tak jarang belum genap satu tahun taman-taman yang seharusnya mempercantik tampilan kota justru terlihat menyedihkan. Pendek kata, kepedulian masyarakat kota ini terhadap kebersihan dan keindahan masih amat kurang. Menjadi kota indah dan nyaman hemat saya masih jauh dari harapan.

Dari aspek pariwisata, patutnya kita berterimakasih kepada kawula muda yang dalam beberapa tahun belakangan ini mulai sadar pariwisata. Anak-anak muda mulai mengupgrade pariwisata di kabupaten Blora, baik yang sudah terkelola, terlantar atau bahkan sudah terlupakan sama sekali. Harusnya ini menjadi sentilan tersendiri bagi pemerintah untuk merangkul anak-anak muda di setiap kecamatan guna mengembangkan pariwisata di seluruh penjuru Blora.

Dari aspek sarana prasarana umum, jalan raya dan pedesaan nampaknya masih menjadi PR panjang bagi pemerintah. Perlahan memang sudah mulai dirasakan pembangunan beberapa ruas jalan raya dan jalan desa. Namun, sayangnya seringkali proyek ini mangkrak, mogok di tengah perjalanannya sebelum selesai terlaksana seluruhnya.

Dari aspek ketertiban, masyarakat kota ini pun jauh dari kata “tertib”. Satu conth kecil, cobalah berkunjung ke kecamatan paling timur kabupaten Blora. Lalu lintas merupakan tempat yang tidak aman bagi pengendara, karena warga kota ini banyak yang “buta warna”. Lampu merah dipandang hijau, tak peduli disindir dengan bunyi-bunyi klakson dari motor-motor lain, tetap tancap gas, tabrak lampu merah! Kadang justru yang patuh pada lampu merah dicecar di jalan (pengalaman).

Dalam aspek pendidikan, kita harus terus berbenah. Masih banyak sekolah di kota ini yang minim perhatian, terutama kelengkapan sarana dan prasarana belajar mengajar. Mewujudkan Blora sebagai kota layak anak juga harusnya dijadikan motivasi kota ini untuk terus menerus berbenah diri.

Elemen masyarakat dan perangkat pemerintahan dari tingkat terkecil RT semestinya dilibatkan dengan gerakan Blora bersih, masyarakat dihimbau untuk membersihkan lingkungannya serta diberikan reward and punishment agar masyarakat terpicu akan sisi social serta menaikkan gaung HUT Kabupaten Blora. setelah bersih agar semakin  meriah setiap gang memasang umbul-umbul dan memeriahkan HUT dengan semangat kebersamaan. Kegiatan seperti ini, umumnya belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat, baru masyarakat di pusat kta saja yang tersentuh oleh kemeriahan HUT Blora.

Selain itu juga pemerintah ada baiknya memiliki program yang sifatnya memelihara kebudayaan serta sejarah, misalnya dengan membuat arahan kepada semua pemilik usaha seperti hotel, restoran, perkantoran memasang ucapan selamat hari jadi dengan pantun yang tidak perlu diseragamkan, biarkan saja pemilik usaha atau perkantoran tersebut membuat parikan (pantun  jawa) dengan imaginasi mereka, setiap masyarakat pasti akan melihat dan membaca, budaya parikan pun akan kembali memasyarakat secara perlahan. tentu hal ini akan menarik, setiap orang akan berhenti membaca, pemenangnya mendapatkan penghargaan. Asalkan program ini dilaksanakan secara berlanjut maka kebudayaan akan terpelihara.

Selain pantun, pelaku usaha yang memiliki akses langsung ke masyarakat seperti mall, hotel dan restoran dihimbau untuk memperdengarkan lagu yang mBlora Banget baik itu lagu ataupun instrumennya, nah lagu-lagu itu bisa didapatkan dari hasil kompetisi atau lomba lagu khas melayu yang mungkin bisa lombakan sebagai rangkaian HUT Kabupaten Blora.


Intinya pemerintah mesti memiliki visi dan program yang jelas dan memasyarakat. Mensikapi program great sale, saya mendukung asalkan target pasar yg diraih tidak hanya kepada masyarakat kalangan atas saja namun semua kalangan. Inilah beberapa ide yang mungkin bisa kita kembangkan dan dipersiapkan nanti di HUT ke 267, tentu ide-ide gila yang lain pun mungkin ada didalam benak semua masyarakat, dengan program yang terarah serta tidak dadakan maka hasil maksimal akan bisa kita raih, sebab perencanaan telah di buat, pendanaan pun tentu akan lebih memadai.



Akhirnya, dirgahayu Bloraku, semoga Blora semakin kondusif serta dapat menjadi destinasi bagi wisatawan domestic maupun mancanegara. Jangan takut berinovasi dan memberikan yang lebih buat Kabupaten Blora, terutama kaum pemuda, karena masa depan Kabupaten Blora ini berada ditangan anda nanti.

[]Lovalia 

4 komentar
Label: ,

Renungan Hari Gunung Internasional


Peringatan setiap tanggal 11 desember hanyalah simbolis, 'penghargaan' tahunan teruntuk gunung-gunung di berbagai belahan dunia. Kesempatan ini diperingati untuk semakin menumbuhan kesadaran manusia tentang pentingnya gunung bagi kehidupan, sebagai anugerah sekaligus bencana, rumah bagi flora dan fauna, tempat melestarikan budaya dan juga sebagai daya tarik wisata.

Namun, sebesar apapun jasa gunung bagi manusia, seindah apapun gunung dipandang mata, sebagian manusia awalnya memproklamirkan diri sebagai penjelajah namun setelah dimabuk oleh 'pesona' gunung berubah haluan menjadi seorang penjajah. Tak sedikit gunung-gunung dijarah, digunduli, di komersialisasi secara berlebihan dan ditumpuki sampah.

Belum lagi tragedi kecelakaan berujung maut pada saat mendaki gunung yang beberapa kejadian diakibatkan oleh kurangnya persiapan semakin hari semakin santer terdengar. Kematian sangat dekat di tempat yang selama ini dipuja-puji sebagai 'surga'. Ya, surga berbahaya tersebut bernama gunung.

Gunung memang tak punya hati, tapi dia patuh terhadap Sang Pencipta dan Gunung sangatlah rapuh maka itulah kepedulian manusia dibutuhkan. Selamat Hari Gunung bagi kawan-kawan yang selama ini mengexpresikan kepeduliannya terhadap gunung dimanapun, sebesar atau sekecil apapun usaha kalian seperti membawa turun sampah pribadi dikala berwisata gunung sangatlah berdampak besar.
-
Semoga kedepannya gunung tidak hanya dianggap sebagai objek tanah dan bebatuan yang menumpuk, lebih dari itu, ada tanggung jawab besar dari generasi ke generasi manusia agar kelestariannya dapat tetap terjaga. Salam lestari.

[]Lovalia Inspired By : #gunungindonesia

0 komentar
Label: ,

Wisata Kalimantan - Wisata Gratis Tepian Sungai Mahakam

Gambar terkait
Sungai Mahakam dengan latar belakang Islamic Centre Samarinda

Sungai Mahakam , kawasan wisata alam ini tempat bersantai pada sore hari sambil menikmati jajanan , berperahu ditepian sungai Mahakam.
Sungai Mahakam merupakan sungai terbesar yang membelah provinsi Kalimantan (Borneo) Timur. Alur sungai ini, sebagian besar mengitari wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, dan Kota Samarinda. Bagian hulu sungai ini melintasi Kabupaten Kutai Barat, sementara bagian hilirnya melintasi Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda. Sungai Mahakam bisa dikatakan menjadi jantung kehidupan bagi sebagian besar masyarakat Kalimantan (Borneo) Timur.

Menikmati Sungai Mahakam
Di Samarinda, tepian Sungai Mahakam dimanfaatkan sebagai area publik yang menjadi tempat bersantai, khususnya pada sore hari. Pemerintah daerah setempat sudah menata sedemikian rupa, sehingga masyarakat tampak nyaman berada di tempat itu.

Menjelang sore hari, kita akan melihat puluhan pedagang membuka lapak-lapak makanan dan minuman, berikut tempat duduk untuk bersantai. Persewaan mainan pun tersedia bagi mereka yang ingin memanjakan anak-anaknya. Makanan yang dijajakan, sebenarnya tak terlalu banyak, seperti bakso, mie ayam, nasi goreng, mie goreng, dan jagung bakar. Tapi, suasana menjadi salah satu hal yang dijual di kawasan itu.

Menjelang matahari terbenam, kawasan tepian Mahakam akan semakin ramai dikunjungi. Sebab, menikmati senja di tepian menjadi daya tarik tersendiri. Bagi yang ingin menikmati suasana lain, beberapa rumah makan yang terletak di kawasan perbukitan juga menawarkan keeksotisan sebuah sungai yang bisa dinikmati dari ketinggian.

Di kawasan tepian kota ini, kita juga bisa menemukan sentra penjualan amplang dan oleh-oleh khas Kalimantan (Borneo) Timur, juga puluhan penjual telur penyu. Telur penyu, konon berkhasiat mengobati berbagai jenis penyakit.

Di Kota Tenggarong, Sungai Mahakam juga bisa dinikmati dari sebuah pulau yang berada ditengah sungai yang melintasi kota tersebut. Pulau itu adalah Pulau Kumala, yang telah dikelola menjadi sebuah taman wisata. Beragam wahana bisa dinikmati dengan tiket masuk yang sangat terjangkau.

Sungai Mahakam sebagai Jantung Transportasi
Beberapa wilayah di Kalimantan (Borneo) Timur hanya dapat dilalui dengan menggunakan transportasi sungai. Bahkan, transportasi sungai masih menjadi andalan bagi pengangkutan barang di Kalimantan (Borneo) Timur. Panjang sungai ini mencapai 920 km. Beberapa anak sungai yang bermuara di Sungai Mahakam diantaranya Sungai Tenggarong, Sungai Belayan dan Sungai Lawa.

Menyusuri tepian Sungai Mahakam, kita akan menemukan berbagai aktivitas sosial masyarakat yang wilayahnya dilintasi sungai tersebut. Aktivitas tersebut misalnya pemanfaatan sungai sebagai sarana transportasi untuk angkutan penumpang dan barang, serta hasil bumi yang diperdagangkan antar pulau dan diekspor ke berbagai negara, aktivitas nelayan pencari ikan dan kegiatan jual beli ikan hasil tangkapan.

Sebagian besar daerah hulu Sungai Mahakam hanya dapat dijangkau dengan menggunakan ketinting atau perahu motor, juga taksi air (kapal) jarak jauh. Pelabuhan Mahakam Hulu, menjadi titik keberangkatan kapal motor jarak jauh menuju sejumlah daerah diantaranya Melak, Long Iram, Long Bagun yang jarak tempuhnya antara satu hingga dua hari.

Tidak terlupakan sebuah mitos yang sangat kuat di masyarakat setempat, Barangsiapa datang ke Samarinda dan kemudian minum air Sungai Mahakam maka dia akan kembali lagi. Wow, insyaallah saya ke sana lagi ya hihi :) 

[]Lovalia : dengan memadukan beberapa sumber yang ada

0 komentar
Label: , ,

Wisata Kalimantan : Islamic Centre Samarinda, Kemegahan Peradaban Islam Indonesia





Masjid Islamic Center Samarinda (ICS) berdiri megah di tepian Sungai Mahakam. Pucuk-pucuk menaranya menjulang indah mengapit kubah besar berbentuk dome yang berdiri tegak. Dari atas Jembatan Mahakam yang berjarak sekitar 2 km, masjid ICS tampak begitu indah dan memesona. Terpukau saya dibuatnya, hingga rela berjalan kaki dan mendekat untuk menikmati estetika sekaligus bermunajat di dalamnya. 

Setelah melepas alas kaki di batas suci, saya melewati gerbang besar berwarna coklat tanah. Langkah saya terus terayun memasuki komplek ICS. Saya menjumpai area terbuka, termasuk area parkir dan taman yang luas, serta bangunan masjid yang berdiri megah dibalut seni arsitektur sangat menawan. 

Besar dan indah, itulah kesan pertama saat saya menyaksikan masjid ICS dari dekat. Sekeliling bangunan masjid dibalut arsitektur beragam gaya yang kental dengan nuansa khas negeri-negeri di Timur Tengah. Warna cat yang melapisi dinding masjid, seperti banyak sekali terlihat di masjid-masjid klasik Timur Tengah yang rata-rata berwarna cokelat tanah. Sementara pohon-pohon kurma yang ditanam di halaman masjid, membuat atmosfer timur tengah kian kental. 
Masjid ICS memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi, luas bangunan penunjang 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi. Tak heran jika masjid ini menjadi masjid terluas dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal Jakarta. 

Komplek ICS diresmikan pertama kali oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 16 Juni 2008. Dalam perkembangannya, masjid ICS telah mampu memenuhi keinginan masyarakat Samarinda untuk memiliki sebuah sarana tempat ibadah yang memadai. Sebuah kebanggaan yang tak hanya menjadi milik masyarakat Kaltim, tetapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Dari gerbang utama, saya berjalan menyusuri selasar masjid. Saya menjumpai ratusan kolom berbentuk melengkung seperti tapal kuda. Mulai dari selasar yang terbentang dari sisi timur, utara hingga sisi selatan bangunan utama masjid, hingga gerbang dan menara utama yang terhubung ke bangunan utama masjid. Bentuk tapal kuda tersebut sangat mencerminkan arsitektur Islam yang dikenal sebagai arsitektur gaya moorish yang banyak ditemukan pada bangunan Masjid Kordoba, Spanyol. 

Interior dan material finishing selasar penghubung terlihat sangat indah. Rasanya saya tidakingin berhenti mengayun langkah di atas lantai keramiknya yang di border dengan granit. Berada di antara ratusan kolom yang dilapis cat texture halus dengan umpak kolom dari batu alam oster yellow, saya seolah melihat adanya ruang-ruang yang tak berujung. Kekaguman saya terus berlanjut saat menatap plafon selasar yang terbuat dari kayu nyatoh lapis cat melamik. 

Keindahan selasar kian memikat ketika dilihat pada malam hari karena lampu-lampu lapis kuningan yang menempel pada dinding sisi dalam selasar, memancarkan pendar warna kekuningan yang menghadirkan kesan romantis. 

Dengan latar depan berupa tepian sungai Mahakam, masjid ICS memiliki menara dan kubah besar yang berdiri tegak. Konon, untuk rancangan menara diilhami menara masjid Nabawi di Madinah Almukarromah, dan kubah utamanya diilhami masjid Haghia Sophia di Istanbul Turki (yang sekarang sudah menjadi museum). 

Masjid ICS memiliki menara utama setinggi 99 meter yang terdiri dari bangunan sebanyak 15 lantai, dengan masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Angka 99 meter itu sendiri bermakna Asmaul Husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99. Yang menakjubkan, dinding luar menara dikelilingi lafadz Asmaul Husna yang dilapis batu granit, dengan teknik pembuatan water jet. 

Selain tangga, menara utama dilengkapi lift berkapasitas 10 orang dewasa. Di lantai paling atas menara, dinding ruangnya dilapisi kaca. Namun, udara di ruangan ini tetap sejuk karena dilengkapi dengan AC. Dari tempat tertinggi inilah saya bisa memandang indahnya kota Samarinda. Menyaksikan kapal-kapal tongkang yang berlayar membawa muatan, serta kelak-kelok sungai Mahakam yang menawan.

Empat menara masjid lainnya terletak di empat sudut masjid. Masing-masing setinggi 66 meter. Setiap makara (bagian atas menara) menggunakan material kuningan ketok. Sedangkan 2 menara lainnya yang lebih pendek dari 5 menara lainnya disebut Menara Kembar Satu dan Dua. Meskipun pendek tapi tetap indah karena dinding luarnya selain dilapis cat texture, juga dilapisi dinding Granit Juparana Kuning dan Juparana Coklat yang diimport dari luar negeri. 

Masjid dengan gaya arsitektur tidak biasa pada umumnya memang memiliki daya tarik. Itu sebabnya keunikan bangunan masjid inipun mengundang decak kagum bagi siapapun yang melihat, termasuk saya dan empat pengunjung wanita asal Belanda yang saya jumpai di selasar masjid. Keindahan arsitekturnya tak hanya pada bagian luar, tapi juga pada bagian dalam masjid. Menjelajahi bagian dalamnya, menjadi sebuah keharusan yang tentu tak ingin saya lewatkan.

Masjid ICS memiliki dekorasi marmer dan mosaik kaca. Pintu menuju ruang multipurposeberupa kaca yang dihiasi motif bintang delapan. Simbol bintang delapan sangat mendominasi hiasan masjid. Simbol ini saya jumpai hampir di seluruh bagian masjid, baik di dalam maupun di luar. Salah satunya motif mashrabiya atau kisi-kisi yang terdapat di seluruh bagian masjid, semuanya berbentuk bintang delapan. Ada juga di lantai, bahkan plafon. Selain simbol bintang delapan, sejumlah kaligrafi juga menghiasi sisi dalam bangunan masjid. 

Di area lobi lantai dasar terdapat bedug besar terbuat dari kulit sapi dengan panjang 4 m dan diameter 180 cm. Kayunya terbuat dari kayu bengkirai dari hutan Kalimantan dan terbuat dari satu kayu utuh. Batang kayu beduk yang tidak bulat sempurna membuat tampilan beduk jadi sedikit berbeda dan terlihat unik. Bedug besar ini sumbangan dari H. Suwarna mantan Gubernur Kaltim.

Di belakang bedug ditempatkan maket model Masjid Islamic Center Samarinda dalam sebuah meja dari kaca yang kerap menjadi salah satu perhatian utama para pengunjung masjid. Lampu gantung dari bahan kuningan tergantung pada ketinggian plafon masjid, memberi sentuhan klasik dalam balutan teknologi modern. Sedangkan rak Alquran menempel pada pilar-pilar besar di dalam masjid.

Keunikan lainnya dari masjid ICS terletak pada jumlah anak tangga yang terletak di lantai satu menuju lantai utama masjid yang berjumlah 33 anak tangga. Jumlahnya sengaja disamakan dengan sepertiga jumlah biji tasbih. Ketika menaiki tangga tersebut, saya bertasbih dalam hati dan menemukan hitungan yang tepat pada angka 33. 

Saat menunaikan salat Dzuhur di lantai utama, saya mengintip area mighrab dari balik tabir pembatas area salat wanita. Ornamen penghias mighrabnya menggunakan marmer hijau dengan aksen kerawangan berjumlah 12 buah. Mimbar untuk khotbah sekaligus sebagai ruang imam tampak megah karena menggunakan material kayu jati pilihan finish melamine.

Plafon kubah utama masjid berhasil menarik perhatian saya. Materialnya menggunakan bahan metal perforated dan ornamen fyber reinforcement plasctic (FRP). Saya memperhatikan lampu lapis kaca patri pada bagian tengah paling atas yang menjadi penghias kubah. Kaca-kaca patri itu mengikuti bentuk kubah, fungsinya untuk memaksimalkan pencahayaan pada siang hari. Pada bagian dinding kubah dihiasi kaligrafi ayat kursi. Pada plafon gypsum selain penerangannya menggunakan downlight, juga dihiasi dengan lampu-lampu gantung yang memperindah suasana. 

Tak lengkap rasanya jika saya tak menginjakkan sendiri tiap lantai bangunan masjid ICS. Sebab dengan cara inilah saya bisa mengetahui langsung fungsi masing-masing lantai yang terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama terletak di lantai basement. Fungsinya sebagai area parkir kendaraan dengan kapasitas 200 mobil dan 138 buah sepeda motor, toilet pria dan wanita untuk para jamaah, juga Ground Water Tank (GWT) sebagai penampungan air bersih untuk toilet dan tempat wudhu. 

Bagian kedua merupakan lantai dasar yang berfungsi sebagai ruang pertemuan dengan daya tampung hingga 5000 orang. Biasanya dipakai untuk acara seminar, resepsi pernikahan, maupun tabligh akbar. Bagian ini juga dilengkapi dengan plaza dalam dan plaza luar yang mampu menampung jamaah hingga 10.000 orang. Di samping kiri dan kanannya difungsikan sebagai area parkir berkapasitas 391 mobil dan 430 sepeda motor. Di plaza luar tersedia keran-keran air di sisi kiri dan kanan yang berfungsi sebagai tempat wudhu.

Pada bagian ketiga adalah lantai utama (lantai dua) yang merupakan ruang salat utama dengan daya tampung jamaah hingga 20.000 orang. Untuk menuju lantai utama ini bisa diakses dengan menggunakan tangga utama (tangga tasbih) yang terletak di lantai dasar. Material lantai ruang salat utama terbuat dari granit pilihan dengan corak beraneka warna, menghadirkan kesan hangat namun tetap sejuk karena menggunakan AC sebagai penyejuk ruangan.

Terakhir adalah lantai mezzanine yang terletak di atas lantai utama yang mampu menampung hingga 10.000 jamaah. Ada tangga di 4 menara sudut dan juga di sisi kiri dan kanan bangunan yang bisa digunakan untuk mencapai lantai mezzanine ini. Meskipun demikian, lantai atap tidak dipergunakan sebagai tempat salat. Pada lantai atap hanya terdapat unit chiller sebagai pendingin ruangan.

Masjid Islamic Centre Samarinda tak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Islam, tetapi juga memiliki sarana penunjang berupa fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk aktifitas umat. Semua bangunan sarana penunjang tersebut letaknya tepat dibelakang bangunan utama, menghadap ke Jalan Ulin.
Bangunan sarana penunjang masjid ICS terdiri dari 2 rumah penjaga masjid, 2 rumah imam, gedung asrama putra dan putri masing-masing 2 lantai dan dilengkapi gedung serba guna. Ada juga bangunan TK, koperasi, poliklinik, serta bangunan utilitas yang meliputi ruang genset, ruang pompa, ruang PLN, GWT dan bak sampah.

Masjid ICS merupakan salah satu ikon Kota Samarinda. Bagi pendatang yang baru pertama kali ke Samarinda, sangat mudah untuk menemukan lokasinya. Dari Jembatan Mahakam jaraknya sekitar 2 km saja. Komplek ICS terletak di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda. 

Di seberang jalan komplek ICS yang menghadap ke Sungai Mahakam, terdapat taman asri dengan bangku-bangku untuk duduk sambil menikmati suasana di tepian Sungai Mahakam. Pada malam hari atau selepas matahari tenggelam di ufuk barat, gemerlap lampu yang menerangi masjid ICS menghadirkan keindahan tersendiri. Dalam gelapnya malam kota Samarinda, masjid ICS tampak menawan ketika dipandang dari seberang sungai Mahakam. 

Bangunan masjid ICS tidak hanya megah dan indah dari segi arsitekturnya, tetapi juga dari letaknya yang sangat strategis di tepian Sungai Mahakam. Keindahan konsep arsitektural masjid ICS berpadu apik dengan keindahan Sungai Mahakam dan Jembatan Mahakam. Tak heran jika masjid ini menjadi salah satu destinasi yang tak boleh terlewatkan ketika menyambangi kota Samarinda. 

Rasanya tidak afdal berkunjung ke Samarinda tanpa menyaksikan dan menjejakkan kaki di masjid ini. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika bertandang ke Kota Samarinda.

[]Lovalia : dengan memadukan beberapa sumber

2 komentar
Label: , ,

Legenda Blora : Terjadinya Sungai Lusi

Hasil gambarDi Kota Blora ada sebuah sungai yang melingkari kota. Sungai itu berada di sebelah timur kota Blora, mengalir dari utara ke selatan, kemudian berbelok ke arah barat. Sungai itu mengalir terus ke barat, masuk ke wilayah Purwodadi dan akhirnya bertemu dengan Sungai Serang. Sungai itu adalah sungai Lusi. 

Sungai Lusi melingkari separoh bagian kota Blora yang sebagian selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-krikil-lumpur dan pasir yang mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja. Tapi bila musim hujan datang, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air hingga duapuluh meter. Kadang-kadang sampai lebih. Dan air yang mengalir damai jadi gila berpusing-pusing. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di tepi-tepi kali seperti anak kecil yang mencabuti rumput. Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bidang ladang penduduk. Lusi! Dia merombak tebing-tebingnya


Bagaimanakah kisah terjadinya sungai Lusi? Ikutilah kisah dibawah ini.

Pada zaman Prabu Sri Jayabaya, raja yang bertakhta di Kediri, ada tiga orang pengembara yang bernama Ki MRanggi, Parta Gendul, dan Parta Balung. Setelah sekian lama mengembara meninggalkan Kediri, mereka berhenti di sebuah hutan di Gunung Butak yang banyak ditumbuhi pohon jati. Ki Mranggi melihat seputar tempat tersebut dan merasa cocok untuk tinggal di situ.

“Aku rasa tempat ini cocok untuk tempat tinggal. Bagaimana pendapatmu Parta Gendul?” Tanya Ki Mranggi kepada Parta Gendul.

“Saya setuju saja Ki Mranggi,” jawab Parta Gendul.

“Dan kamu Parta Balung, apakah juga setuju kalau kita tinggal disini?” Ki Mranggi memandangi Parta Balung minta pendapat.

“Saya kira saya bisa menyetujuinya Ki MRanggi,” jawab Parta Balung.

Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk tinggal di hutan yang terletak di Gunung Butak. Ternyata di tempat itu juga sudah ada penghuninya sebelum mereka bertiga datang. Dia adalah Ki Bahurena. Ketika Ki Bahurena berjalan menuju mata air, ia melihat tiga orang yang sedang membangun rumah sederhana di dalam hutan.

Ki Bahurena mendekati dan berkata,” Perkenalkan, aku Ki Bahurena. Apakah kalian mau tinggal di sini? Aku senang kalau kalian bertiga tinggal di sini sehingga aku mempunyai tetangga. “Lalu Ki Bahurena menyalamai Ki MRanggi, Parta Gendul dan Parta Balung.

“Terima kasih Ki Bahurena. Kami memang kan berdiam di Gunung Butak ini. Kami bertiga berasal dari Kediri,” jawab Ki MRanggi. Lalu Ki Mranggi memperkenalkan dirinya dan kedua temannya, Parta Gendul dan Parta Balung.

“Kalau kalian mau tinggal di sini silakan. Bukankah semua tanah di muka bumi ini milik TUhan? Jadi, siapa saja boleh tinggal di sini asalkan berniat baik dan tidak mengganggu makhluk yang ada di sini, baik pohon maupun hewan.”

“Baik Ki Bahurena. Kami akan jaga selalu pesan itu,” mereka bertiga mennjawab bersamaan.

Mereka bertiga tinggal di hutan Gunung Butak dengan senang dan damai. Ki Mranggi berpesan kepada Parta Gendul dan Parta Balung.

“Segala sesuatu yang kalian kerjakan hendaknya memberitahu aku dulu. Sebab akulah yang membawa kalian kemari dan lagi kita di sini masih baru belum tahu seluk-beluk daerah ini. Dan ingatlah selalu pesan Ki Bahurena itu”.

Pada suatu hari, Parta Balung ingin membuat perahu. Lalu Parta Balung berkeliling di sekitar tempat tinggalnya, matanya tertuju pada pohon suren. “Inilah pohon yang saya cari-cari untuk membuat perahu,”katanya dalam hati. Parta Balung menebang pohon suren. Semua yang dilakukan oleh Parta Balung itu tanpa sepengetahuan Ki Mranggi.

Setelah pohon suren di tebang, mulailah Parta Balung membuat perahu. Belum sempat menyelesaikan perahunya, tiba-tiba turun hujan deras di sertai angin rebut sehari semalam lamanya. Di tengah hujan dan angin ribut itu, tiba-tiba muncul seekor ular naga. Ular naga tersebut berjalan di dalam tanah, dan muncul gundukan tanah seperti bukit pada bekas jalannya. Tanah yang di lewati ular naga itu longsor dan longsoran tanah itu berubah menjadi aliran lumpur dan akhirnya terjadi banjir lumpur. Semua benda yang di terjang banjir lumpur itu roboh, pohon-pohon jati bertumbangan dan hutan menjadi rusak. Rumah-rumah penduduk di kaki Gunung Butak tidak luput dari amukan banjir lumpur itu, demikian juga rumah Ki Mranggi dan Ki Bahurena.

Ki Mranggi melihat di sekitar rumahnya dan disekitar hutan, ternyata telah rusak semua. Lalu ia berkata.
“Tempat ini telah rusak di terjang banjir lumpur. Oleh karena itu, tempat ini akan di namakan Desa Coban sebab di sini aku mendapat cobaan dari Tuhan.”

Lalu Ki Mranggi mencari ular yang telah membuat kerusakan parah itu. “Parta Gendul dan Parta Balung, kalian jangan pergi meninggalkan rumah ini. Walaupun sudah rusak kalian harus tetap jaga rumah ini. Aku akan pergi,” kata Ki Mranggi.

“Ki Mranggi akan pergi kemana?” Tanya Parta Gendul dan Parta Balung serempak.

“Aku mencari tempat tinggal ular naga yang telah merusak semuanya ini.”

“Baiklah Ki Mranggi, kami berdua akan tetap di sini. Hati-hatilah semoga berhasil.”

“Terima kasih. Aku segera pergi.”

Pencarian Ki Mranggi tidak membawa hasil. Ia gagal mendapatkan ular naga yang sudah menimbulkan kerusakan.

“Hampir putus asa aku. Sudah berjalan ke sana kemari, tidak dapat aku temukan ular naga itu. Aku harus mencari bantuan,” kata Ki Mranggi dalam hatinya.

Lalu ia mencari bantuan ke Syekh Jatikusuma yang bertapa di puncak Gunung Butak. Perjalanan menuju Gunung Butak harus mendaki dan menerobos hutan yang lebat. Perjalanan yang sangat melelahkan! Namun, demi tekad untuk memperoleh bantuan, segala jerih lelah tidak dirasakan oleh Ki Mranggi.

“Ada perlu apa saudara datang kemari?” kata Syekh Jatikusuma kepada Ki Mranggi yang mendatanginya di pertapaan.

“Aku datang ke pertapaan Syekh untuk memohon bantuan,” kata Ki Mranggi.

“Ada persoalan apa dan apa yang dapat saya lakukan? Kalau aku bisa, pasti aku membantumu, “jawab Syekh Jatikusuma.

“Begini Syekh Jatikusuma. Beberapa waktu yang lalu, di tempat aku tinggal di kaki Gunung Butak terjadi banjir lumpur. Banjir lumpur itu terjadi karena ulah ular naga yang berjalan di dalam tanah. Aku sudah mengejarnya berhari-hari, tetapi tidak menemukannya. Karena itu, aku datang ke sini mohon pertolongan Syekh.”

“Ya, sekarang aku mengerti. Aku akan menolongmu.”

Kemudian Syekh Jatikusuma meninggalkan Ki Mranggi. Ia mengambil pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Ia menjumpai kembali Ki Mranggi yang tertegun melihat pusaka yang di pegang oelh Syekh Jatikusuma.

“Keris apa itu?” Tanya Ki Mranggi penuh keheranan.

“ini keris pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Dengan pusaka ini, aku dapat menemukan tempat ular naga berada.”

Lalu Syekh Jatikusuma menancapkan pusaka itu di puncak Gunung Butak dan terbukalah puncak Gunung Butak itu. Di dalamnya ular naga sedang tidur pulas, tampak jinak dan tidak ganas. Namun, tiba-tiba datang angin ribut dan hujan deras yang berlangsung sampai beberapa hari.

Setelah hujan reda, di puncak Gunung Butak muncul beberapa mata air. Melihat munculnya beberapa mata air, Ki Mranggi terkejut dan bertanya kepada Syekh Jatikusuma.

“Dari manakah munculnya mata air itu dan akan mengalir kemanakah air itu?”

Syekh Jatikusuma dengan tenang dan yakin menjawab, “Lihatlah dan perhatikan saja ke mana airnya mengalir, kamu nanti akan mengerti.”

Mata air yang airnya mengalir ke timur dinamakan Sungai Kesemen melewati Desa Tahunan, Bangilan, dan terus ke Bojonegoro. Air yang mengalir ke arah barat menjadi Sungai Brubulan. Air yang mengalir kea rah utara menjadi sungai Mudal melewati daerah Pamotan. Sementara itu, mata air yang airnya mengalir ke arah selatan melalui Desa Gunung Kajar terus ke BLora dinamakan Sungai Lusi. Mengapa? Sebab daerah yang di lalui air tersebut tanahnya menjadi longsor dan para penduduknya mencari selamat atau mengungsi. Mengungsi dalam bahasa Jawa Kuno disebut ngusi. Dari kata ngusi itulah lahir nama Sungai Lusi.

Setelah melihat peristiwa itu. Ki Mranggi pulang ke rumahnya dan hidup seperti sedia kala. Ia hidup bersama Parta Gendul dan Parta Balung serta hidup berdampingan dengan Ki Bahurena. Setelah kematian Ki Mranggi, makamnya banyak di ziarahi dan makam itu di sebut sebagai Pundhen Mranggi sedangkan makam Ki Bahurena di sebut sebagai Pundhen Bahurena.


Dikutip Dari Buku :Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)

1 komentar
Label: , , , ,

Wisata Blora : Puncak Suroyudan , Pesona Kebun Matahari

Matahariku

Satu lagi destinasi wisata lokal Blora yang layak masuk daftar rekomendasi kamu saat hendak berpetualang di Kabupaten Blora. Wisata ini terletak di wilayah utara kecamatan Jepon yang pastinya seru banget untuk dikunjungi. Wisata tersebut digugusan Pegunungan Kendeng dan berada diketinggian sekitar 300 mdpl. 

Lokasi ini merupakan Kebun Bunga Matahari di Puncak Suroyudan. Tepatnya terletak di  Ds Soko di seberang jalan pemandian Sayuran. Tidak perlu bingung mencarinya karena menuju lokasi ada papan penunjuk jalan Lur.

Berasa di negeri dongeng
Murah meriah, cukup bayar parkir Rp 2.000,- anda bisa jalan kaki menyusuri lereng bukit. Jalan menanjak sekitar ketinggian 20 meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 10 menit. Bunga Matahari yang berada di kebun seluas 3000 meter persegi ini tampak syahdu menyambut kedatangan pengunjung. Lokasi yang indah untu kamu para pecinta fotografi atau yang ingin pre wedding di sini. :D

Bila hendak  berlibur ke Kebun Bunga Matahari nan cantik ini tidak perlu repot bawa bekal aneh aneh. Bila lelah karena kepanasan dan perut kondisi keroncongan, di seberang jalan dari lereng bukit kebun matahari ini ada resto baru yang menawarkan pesona landscape alam Blora yang menakjubkan, yaitu Warung Dhuwur Blora (WDB).

So, selamat liburan Lur ...
Pemandangan Puncak Suroyudan

[]Lovalia 
Berbagai Sumber

0 komentar
Label: ,

Wisata Jawa Timur : Pantai Pasir Putih Remen, Tuban


Masih dalam suasana libur Idul Fitri , ada sebuah reuni kecil dengan adik-adik saya, alumni IPM SMK Muhammadiyah 2 Cepu, Kali ini kamu touring ke Pantai Pasir Putih Remen, Tuban.



Pantai pasir putih remen ini letaknya memang tidak dipinggir jalan pantura agak masuk-masuk desa tapi paling gampang kalau dari arah Rembang ada pertigaan besar dan pos polisi pereng-belok kiri-TPPI-masuk desa remen-perempatan setelah sdn remen 2 belok kiri lurus terus arah utara pantai …Kalau dari arah Tuban paling mudah dari arah terminal wisata kambang putih-pantai kute/cemara-mangroove center-terus ke barat setelah pasar jenu-jalan bercabang ambil kanan-PLTU-desa wadung-desa rawasan-desa mentoso-desa remen-perempatan setelah balai desa lurus-mentok belok kanan arah pantai.



Pantai pasir putih remen ini memang termasuk pantai yang belum banyak dikenal bahkan oleh warga Tuban sendiri. Melihat-lihat secara landscape kawasan pantai ini memang sungguh indah ada seperti beberapa kubangan air yang membentuk danau-danau kecil di sekitar pantai kemudian beberapa tumbuhan cemara di tepi pantai dengan garis pantai pasir putih yang panjang, pasirnya memang benar-benar putih dengan latar belakang sebuah pabrik ini yang menjadikan pantai pasir putih remen ini pantai yang paling unik mempunyai ciri khas dan indah di sekitar pesisir pantai utara di Jawa Timur.


Hari itu terlihat ramai pengunjung banyak anak muda-mudi dan beberapa keluarga berkunjung bahkan tidak hanya dari penduduk lokal saya pikir banyak yang dari luar kota juga, untuk menikmati keindahan pantai pasir putih remen. Coba simak beberapa dokumentasinya dan angin disini cukup semilir-semilir kencang tak terkendali..hehe



Tarif untuk memasuki wahana wisata bahari tersebut tidak mahal gaes, dijamin tidak akan mengempeskan kantong anda, cukup dengan membayar biaya parkir+sebagai tiket masuk senilai Rp.2.000 saja [pada waktu tulisan ini dibuat] anda dapat memasuki dan menikmati panorama alam pantai pasir putih yang menakjubkan. 

Disana juga sudah banyak penjual minuman,makanan,jajanan, serta oleh-oleh kaos bertuliskan “Pantai Pasir Putih Remen” yang bisa anda jadikancindera mata maupun oleh-oleh buat keluarga dirumah. Selain itu banyak pula yang menjual layang-layang yang unik dan lucu, sehingga kamu bisa flash back sedikit ke masa kecil dulu hihi.

Tidak perlu malu berlarian di atas pasir putih ini bersama kawan-kawan, karena moment seperti ini tidak kita dapatkan setiap hari :D




Oh iya ini lanjutan cerita mengenai situasi yang unik saat kami berada dalam perjalanan pulang(lanjutan dari cerita part 1 yang aneh)haha tapi betul atau tidak kamipun tak mengerti waktu itu karena waktu sudah menjelang magrib salah satu motor bocor, dan kami menyusuri sepanjang Pantura untuk mencari tukang tambal ban, tetapi tidak ketemu. Akhirnya kami kembali ke Pm bensin tadi , dan kami butuh tempat ibadah untuk menenagkan segenap pikiran dan bersyukur , ternyata kami baru sadar bahwa situasi pom bensin ini aneh(terletak di sekitar jalan pantura) sebelah kiri jalan kalau arah dari Tuban. Hawa mistis sangat terasa dan bukan omongs kosong ketika ternyata bukan hanya saya yang merasakannya tetapi kawan saya juga. 



Aneh bagi saya (ketika itu kebetulan saya sedang berhalangan untuk menunaikan shalat) , saya memperhatikan sekeliling banyak truk dan mobil tanpa awak berhenti disana, air dari tempat wudhupun kadang keluar kadang tidak pintu kamar mandi pun terlihat bergerak dengan suara sayatan bila terkena angin aku pikir situasinya pun semakin aneh karena disebelah ada sebuah mobil sedan yang penyok tapi tak berpenghuni dengan isi didalam yang masih baru sepertinya para penumpang keluarga tapi tak ada orang sedikitpun disana sama seperti mobil-mobil lainnya seperti, panther, pickup dan truk..akhirnya saya berfikir sejanak dan tertawa haha coba kita datang malam-malam ditempatingin istirahat seperti ini dan kehabisan bensin. 



Yap begtulah ceritanya jadi bagi pengendara yang melewati daerah pantura ini sebaiknya berhati-hati dan mempersiapakan kondisi motornya sebagus mungkin karena minimnya lampu penerangan juga di daerah ini..xixixixixi

[]Lovalia 


0 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters