Tampilkan postingan dengan label Blora - Sumber Daya Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blora - Sumber Daya Alam. Tampilkan semua postingan
Label: , , , , , , , ,

Wisata Blora - Monumen Nol Kilometer Cepu Pertamina



Aku memohon perlindungan baginya (Ayatuz Zidni Everesta Apriyonia) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk." (HR. Abu Daud) , Amiin

Moment piknik pertama untuk Zii di tanggal 22 Februari 2021. Piknik tipis-tipis di Kilometer 0 Cepu Pertamina.

Kilometer 0 Cepu Pertamina adalah sebuah objek wisata sejarah berupa monumen yang terletak di Kecamatan Cepu, kabupaten Blora, Jawa Tengah. Tepatnya di Jl. Gajah Mada, Mentul,  Kelurahan Karangboyo, dekat dengan lapangan Bina Patra.

Monumen ini merupakan pengingat bahwa sejarah dunia industri perminyakan di Indonesia yang dikelola oleh Pertamina itu dimulai dari sebuah sumur minyak yang ada di Cepu ini.

Seperti namanya, Monumen Kilometer 0 Cepu Pertamina ini memang dibangun oleh Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, untuk mengingatkan sejarah perminyakan di Cepu. Karena itu pula, Pertamina EP Aset 4 melengkapi Monumen Kilometer 0 dengan monumen Pompa Unit karena arti tersendiri bagi pergerakan bisnis Pertamina.


Selain itu, Pompa Unit ini bisa dijadikan wahana edukasi bagi masyarakat agar mengetahui tahu proses pengangkatan minyak bumi menuju penampungan menggunakan unit pompa ini. Monumen Kilometer 0 Cepu Pertamina juga memberikan pesan untuk senantiasa mengawali hidup ini, untuk terus belajar dan hidup benar. 

Selain monumen, di sini juga ada taman yang dilengkapi tempat bersantai dan beberapa koleksi burung. Sebelum pandemi mendera, setiap malam minggu sering ada pertunjukan seni di sini lho. Semoga pandemi ini lekas berakhir ya, amiin...


Sudah pernah ke sini kak?

 #PesonaIndonesia

#IndonesiaIndah 

#WonderfulIndonesia 

#IndoTraveller 

#TrueClimber 

#TheROKer

#BloraTheExplorer 

#MyShafarMySyiar 

#DiaryPendaki 

#CatatanPerjalanan 

#BackpackerIndonesia 

#HijabTraveller

#Wisatakuliner

#wisatablora

#Cepueksis

#WisataBelanja

#Kulinerblora

#EksploreBlora

#PasarBlora

#PasarTradisional

#Pertamina

#Patuhprotokolkesehatan

#LawanCorona

#Kedungtuban 

#Blora

#JawaTengah 

#VisitIndonesia 

#Indonesia

#Bayilucu

#MyBaby

0 komentar
Label: , ,

Pladu Bengawan Solo

Bagi masyarakat di kampungku dan sekitarnya mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata Pladu, tapi sebagian dari mereka juga masih belum tahu betul asal muasal Pladu. Karena selama ini mereka menganggap Pladu adalah fenomena alam yang menguntungkan bagi mereka. Pladu versi orang awam kampungku adalah datangnya hujan frontal setelah musim kemarau, sehingga membuat endapan lumpur sungai Bengawan Solo naik ke permukaan. Keadaan yang demikian membuat makhluk hidup yang ada di sungai kehilangan penglihatannya dan berenang tak tentu arah hingga ke permukaan sampai ke tepian sungai.

Pladu adalah saat yang sangat dinantikan oleh sebagian masyarakat yang bertempat tinggal di daerah sekitar aliran bengawan Solo. Mereka akan menyambut dengan suka cita karena ikan dan udang seolah menghampiri mereka dan menyerahkan diri untuk dipanen tanpa susah payah Tapi tahukan mereka, bahwa Pladu adalah hasil dari perbuatan keji yang dilakukan oleh sebagian orang/oknum yang tidak bertanggung jawab, yang demi melancarkan kepentingannya pribadi mereka telah merusak ekosistem yang ada di dalam air sungai? Menurut hasil investigasi, survey dan logika saya setelah cari tahu sana sini, Pladu memang awalnya terbentuk dari fenomena alam, yaitu datangnya hujan frontal seperti pengertian awam tadi, tetapi tidak sampai membuat ikan kehilangan penglihatannya. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan debit air sungai meningkat ditambah dengan keruhnya air sungai kemudian dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuang limbah industrinya ke sungai. Kandungan racun dari limbah cair pabrik yang tidak diolah lebih dulu itulah yang menyebabkan kehancuran makhluk hidup air sungai. Bahkan limbah cair yang sudah diolah, sisa olahannyapun masih mengandung bahan beracun dan berbahaya seperti Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), Krom (Cr), Seng (Zn) dan Nikel (Ni).

Untuk kawasan aliran sungai bengawan Solo kadar racunnya mungkin tidak terlalu tinggi atau masih diambang batas, terbukti ikan ataupun udang tidak sampai mati, layaknya ikan yang terkena racun dengan kandungan Merkuri (Hg), limbah yang berasal dari pabrik kertas (Pulp=bubur kertas). Belum ada penelitian mengenai hal ini, racun apa yang terkandung dalam ikan Pladu ini. Namun jika ikan yang tercemar ini dikonsumsi terus menerus tentu saja akan berdampak yang tidak baik untuk kesehatan. Ikan yang tercemar oleh merkuri jika dikonsumsi oleh ibu hamil bisa merusak janin bahkan kematian. Pladu itu sendiri hanya terjadi kurang dari 10 kali dalam kurun waktu satu tahun. Ternyata apa yang dianggap menguntungkan menurut masyarakat itu sebenarnya tidaklah benar. Karena selain merusak alam juga kelangsungan hidup ikan dan manusia itu sendiri. Ikan sungai bengawan Solo memang berbeda dengan ikan air tawar lainnya, rasanya gurih, dan sangat jarang kita temui. Mungkin karena tidak mudah menangkapnya akibat derasnya arus sungai, kecuali jika musim kemarau. Ikan-ikan bengawan Solo antara lain, Jendil, Rengkik, Thengil, Badher dan Wader. Paling enak adalah ikan Jendil. Harga satu ekor ikan Jendil dengan panjang 15cm saja bisa setara dengan harga satu ekor ayam kampung. 

[]Lovalia : Berbagai Sumber

2 komentar
Label: , , , , ,

WISATA BLORA : WADUK BENTOLO


Obyek Wisata Waduk Bentolo terletak di wilayah Kecamatan Todanan + 0,5 Km kearah selatan dari Goa Terawang atau + 34 Km kearah barat kota Blora, mudah dicapai dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
 
Obyek Wisata Waduk Bentolo adalah obyek wisata alam buatan berupa waduk yang di bangun Pemerintah Kabupaten Blora yang mempunyai fungsi utama yaiut sebagai irigasi tanah pertanian. Luas areal Obyek Wisata Waduk Bentolo + 270.795 m².
 
Karena letaknya yang cukup strategis , dengan alamnya yang indah dan menawan serta tiupan angin yang nyaman membuat Waduk Bentolo mempunyai daya tarik tersendiri , sehingga di samping sebagai fungsi irigasi Waduk Bentolo juga mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai tempat penggondokan bagi pramuka (Lembaga Candika Pancasona) dan juga tak kalah pentingnya sebagai fungsi kepariwisataan. Obyek Wisata ini sering di kunjungi oleh masyarakat/anak-anak muda dari luar daerah untuk sejenak bersantai atau untuk menyalurkan hobi memancing.

Buat kamu yang datang kesini, kamu bisa refreshing atau melepas penat sambil mancing ikan gaes. Pengunjung disini berasal dari Blora dan wilayah sekitarnya. Seperti kawasan wisata Blora pada umumnya, kamu akan menjumpai nuansa hijau di sekitar waduk yang menyebabkan warna air menjadi hijau karena terkena panyulan sinar matahari. 

Nah, buat kamu yang lagi ada di dekat kawasan ini, tidak ada salahnya untuk mampir dan mengabadikan beberapa momen keren disini. Selamat berkunjung !

NOTE :
Waduk ini, pada tahun 2014-sekarang, sempat timbul polemik karena airnya dimanfaatkan oleh salah satu perusahaan di dekat waduk. Namun warga merasa rugi dan akhirnya mencari solusi bersama pemerintah.
 
 
[]LOVALIA : Berbagai Sumber
 

0 komentar
Label: , ,

WISATA BLORA : CAGAR BUDAYA GOA PAWON NINGALAN

Goa Pawon, kalau kamu ketikkan dua kata tersebut pada kotak dialog GOOGLE, maka yang akan keluar adalah Goa Pawon di daerah Jawa Barat. Hmmm... tapi kali ini Goa Pawon yang akan saya ceritakan adalah Goa Pawon di dukuh Ningalan desa Ngraho Kecamatan Kedungtuban.  Awalnya goa ini merupakan lubang kecil saja yang kemudian semakin hari semakin bertambah lorong-lorongnya, hmm kenapa ? :D

Disebut Goa Pawon karena di sinilah terdapat aktivitas warga setempat membuat pawon ( tungku ). Saya pertama kali berkunjung ke Goa Pawon sekitar tahun 2007. Ketika itu saya diajak oleh kawan saya yang kebetulan rumahnya di dekat lokasi Goa Pawon untuk menghadiri acara sedekah bumi. Dan akhirnya saya juga diajak untuk berkunjung ke Goa Pawon.

Nah ... di sinilah gambaran saya tentang pawon selama ini musnah heheh. Bagaimana tidak? Selama ini saya membayangkan cara membuat pawon adalah dengan menggunakan tanah liat/ lempung yang dibentuk sedemikian rupa lalu dikeringkan dan dibakar. Sama seperti pembuatan tembikar, karena memang seperti itulah cara saya membuat prakarya di sekolah. Tapi ternyata tidak demikian kawan. Alih-alih menggunakan tanah liat, pawon dibuat dengan cara memotong batu padas ( kayaknya namanya gitu ) langsung dari asalnya ( bumi lah yaa ). Batu yang sudah diambil tadi lalu dibentuk menjadi pawon dengan cara dipahat. Setelah itu barulah dikeringkan dan dibakar.

Sungai Jernih di bawah Gua Pawon
Kedungtuban
Hmmm memotong batu dari atas seperti itu adalah hal yang sangat berbahaya. Dan memang menurut kawan saya pernah ada kejadian goa itu runtuh. Astagfirullah...

Kegiatan warga membuat pawon dengan memotong batu itu sudah turun temurun. Dan dari batu yang terus menerus diambil itu ternyata menjadikan lorong yang kian sambung-menyambung lho,,, Dan ajaibnya, ada air menetes dari langit-langit dan dinding goa.

Sungai Jernih di bawah Gua Pawon
Kedungtuban
Untuk menyusuri Goa Pawon ini kamu membutuhkan senter ya guys. Karena semakin ke dalam semakin gelap. Goa Pawon ini berada di tepi sungai kecil yang airnya cukup jernih, hmm kebayang kan semakin asyiknya suasana sekitar.

Oh ya Goa ini ramai dengan anak-anak remaja ketika hari libur. Terakhir kali saya ke sana bersama kawan-kawan KOMPPAK ( Komunitas Pelajar Pecinta Alam Kedungtuban ) tahun 2013 kemaren. Kamu mau ke sana ? Hayuukkkk ....



Sungai Jernih di bawah Gua Pawon
Kedungtuban



Sungai Jernih di bawah Gua Pawon
Kedungtuban

Sungai Jernih di bawah Gua Pawon
Kedungtuban

Gua Pawon (Kedungtuban-Blora)

Gua Pawon (Kedungtuban-Blora)

0 komentar
Label: , ,

WISATA BLORA : INDAHNYA SUNSET DI EMBUNG KERUK RANDUBLATUNG

Kali ini usai rapat pleno PD IPM Blora, kawan-kawan mengajak saya untuk hangout ke Embung Keruk Randublatung. Masyarakat sekitar menyebutnya Waduk Keruk. Kebetulan hari mulai sore dan menurut kawan-kawan memang indahnya ketika senja tiba. Hmm jadi penasaran? Simak cerita saya.

Embung Keruk terletak di dukuh Keruk Kelurahan Randublatung, sekitar tiga kilometer dari kantor kecamatan Randublatung. Luas Embung Keruk adalah sekitar delapan hektar, direncanakan kedepan akan diperluas sampai 22 hektar dan mencukupi kebutuhan air 250 hektar lahan pertanian.

Kita harus melewati jalan setapak di hutan kecil untuk sampai di Embung Keruk ini. Tidak usah takut, karena jalan setapak ini memang digunakan warga sebagai jalan sehari-hari. Panorama dalam hutan kecil itu pun cukup indah dan teduh dengan pepohonan. Setelah itu masuk ke pemukiman warga dan kalau kamu bingung kamu bisa tanya warga sekitar. Karena memang tidak ada petunjuk untuk sampai ke Embung Keruk ini

Embung Keruk ini berfungsi sebagai infrastruktur pengairan sawah. Terutama saat musim kemarau seperti ini, peran Embung sangat penting untuk mengairi pesawahan di sekitarnya. Di tepi waduk batu-batu putih ditata sedemikian rupa sehingga menambah cantik panorama. Belum lagi jika matahari hendak terbenam, wahhh keren banget guys.

Embung Keruk dibangun oleh kerja sama antara warga setempat dengan menggunakan tenaga dan alat seadanya. Proses konstruksinya sangat sederhana, pekerjaannya hanya menggunakan alat-alat ringan saja seperti cangkul, sekop dll. Hal ini menyebabkan pada bulan Juni 2006 tanggul yang dibangun untuk membendung embung keruk runtuh. Keruntuhan yang terjadi disebabkan oleh tingginya curah hujan pada satu hari penuh yang menyebabkan volume embung meningkat secara signifikan. Hal ini menyebabkan tekanan hidrostatis yang menekan dinding tanggul menjadi lebih tinggi. Setelah kejadian itu dimulailah renovasi secara lebih modern agar tidak terulang hal serupa.

Paling seru ke sini ketika menjelang senja. Karena kalian akan merasakan sensasi sunset yang nggak kalah indahnya sama di Bali eciieee .... SERIUS lihat foto-foto lengkapku di sini

3 komentar
Label:

SEJARAH PENGEBORAN MINYAK

Mr. Andrian Stoop (Belanda) Penemu sumber minyak dan pendiri kilang minyak Cepu
Mr. Adrian Stoop serta semburan minyak saat di bor di Desa Ledok Kec. Sambong, Blora



Salah satu lapangan minyak di Nglobo th. 1900



Pengiriman BBM ke SPBU tempo dulu



Sumur yang di bor pertama kali di Jawa Tengah Th. 1893



Pengambilan minyak dengan menggunakan mobil kuno


[] Lovalia - Berbagai Sumber

0 komentar
Label: ,

Wisata Blora - Wisata Geologi Sumur Minyak Tua


Wisata Blora Wisata Geologi Sumur Minyak TuaKarena pada umumnya kawasan Wisata Blora Wisata Geologi Sumur Minyak Tua lokasinya berada di perbukitan dan ditengah kawasan hutan hal ini sangat menarik, unik dan menawan, sehingga banyak dikunjungi baik Wisatawan Nusantara maupun Mancanegara. 
Adapun disekian banyak Wisata Blora Wisata Geologi Sumur Minyak Tua yang di ketemukan baik di wilayah Kabupaten Blora sendiri atau disekitarnya, terdapat sumur minyak tua yang ditambang secara tradisional oleh masyarakat setempat dengan menggunakan tali dan timba yang ditarik. Terdapat sekitar 15 orang diwilayah Wonocolo, tetapi masih masuk dikawasan hutan jati KPH Cepu Kabupaten Blora. 
Wisata Blora Wisata Geologi Sumur Minyak Tua merupakan wisata alam atau kegiatan wisata dibidang ilmu kebumian dengan obyek berupa lokasi yang berkaitan erat hasil proses geologi yang terkandung dan tersimpan didalam alam antara lain Geologi Wisata yang berhubungan dengan minyak dan gas bumi.

Sumur minyak dan gas bumi di wilayah Kabupaten Blora yang pertama kali di ketemukan oleh BPM pada tahun 1890, jumlah sumur sekitar 648 buah, 112 buah sumur diantaranya dapat memproduksi minyak kurang lebih 16.550.790 m2, sedangkan ladang gas bumi yang berada di wilayah Cepu terdapat di Balun dan Tobo.

0 komentar
Label: , ,

WISATA BLORA - SUMBER LUMPUR KESONGO

Sumber Lumpur kesongo merupakan sebuah keajaiban alam yang ada di Area Perhutani KPH Randublatung Blora, terletak di Petak 141 RPH Padas BKPH Trembes, Luasnya + 100 Ha berupa hamparan tanah kosong yang sebagian ditumbuhi rumput serta beberapa kubangan air / rawa – rawa. Jarak dari Kota Randublatung sekitar 30 Km kearah Barat (Kecamatan Gabus Kabupaten Grobogan)

Semburan lumpur yang terjadi di Kesongo tidak sebesar semburan yang terjadi di LAPINDO-Sidoarjo. Namun lokasi semburan di Kesongo berjumlah banyak dan menyebar. Proses semburan lumpur pun cukup unik karena kejadiannya menyerupai proses muntahnya magma dari gunung berapi.

Bentuk lokasi semburan lumpurpun menyerupai bentuk miniatur dari gunung berapi. Kumpulan dari semburan lumpur ini sangat menyerupai kumpulan gunung berapi yang saling berdekatan yang sedang berlomba mengeluarkan magma dari perut bumi.

Pada waktu tertentu semburan lumpur di Kesongo menjadi besar yang terjadi dalam seharian. Besarnya semburan kurang lebih sama dengan semburan di Bledug Kuwu Grobogan. Pada saat akan terjadinya ledakan besar pada Lumpur kesongo biasanya ditandai dengan adanya suara gemuruh dan gempa kecil terlebih dahulu.

Kawasan Lumpur Kesongo memiliki luas 119,1 ha, yang terdiri dari 3 tipe habitat. Ketiga tipe tersebut adalah kawasan semburan lumpur, kawasan rawa dan kawasan padang rumput (savanna). Kawasan semburan lumpur merupakan kawasan yang dipenuhi oleh lumpur yang keluar dari perut bumi, pada daerah ini tidak ada vegetasi yang bisa hidup.

Kawasan yang menjadi daerah semburan lumpur memiliki luas kurang lebih 5 hektar. Pada kawasan ini biasanya dijadikan sebagai tempat masyarakat untuk meminta berkah pada Ki Joko Linglung. Pada saat setiap ritual, peziarah selalu membawa susu putih yang dituangkan ke dalam kawah lumpur agar permohonannya terkabul oleh Ki Joko Linglung.

Konon menurut masyarakat sekitar, susu putih merupakan makanan favorit dari Ki Joko Linglung. Selain sebagai tempat pemujaan lokasi semburan lumpur merupakan lokasi tempat bermain dan mencari makan beberapa jenis satwa yang hidup di sekitar lokasi tersebut. Kawasan padang rumput merupakan kawasan yang mayoritas ditumbuhi oleh vegetasi rumput. Kawasan savanna di Kesongo memiliki luas kurang lebih 112 ha.

Pada lokasi ini merupakan tempat mengembala ternak masyarakat sekitar. Selain itu masyarakat juga mengambil rumput untuk pemenuhan pakan ternak mereka yang di kandang di rumahnya. Selain dijadikan sumber pakan ternak masyarakat sekitar kawasan, kawasan padang rumput Kesongo juga merupakan habitat bagi beberapa jenis burung terrestrial dan amfibi.

Kawasan rawa Kesongo merupakan kawasan yang sepanjang tahun selalu di tutupi oleh air atau lumpur. Pada kawasan ini selain selalu di penuhi oleh air juga ditumbuhi oleh ilalang rawa. Selain itu, pada kawasan ini juga menjadi habitat burung air, reptil dan amfibi.

Di kawasan ini terdapat beberapa jenis burung yang termasuk kedalam jenis satwa RTE yang dilindungi oleh PP No.7 tahun 1999, IUCN dan Cites. Beberapa burung yang termasuk dalam kategori RTE yang terdapat di Kesongo adalah Cangak Abu (Ardea cinerea), Cangak Merah (Ardea purpurea), Bambangan Merah (Ixobrychus cinnamomues), Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus) dan Belibis Batu (Dendrocygnajavanica).

Keberadaan beberapa jenis burung air langka yang terdapat pada lokasi ini kemungkinan berasal dari daerah pantai dan danau yang terdapat cukup jauh dari lokasi ini. Kemungkinan mereka bermigrasi ke tempat ini karena di habitat aslinya telah terdesak oleh aktifitas manusia. Dikarenakan cocok dengan kondisi habitat di Kesongo, kemudian kawanan burung air ini membentuk koloni habitat barunya di kawasan Kesongo yang lebih aman dari gangguan manusia.
 
Mengingat keunikan dan fungsi ekologisnya yang sangat penting, kawasan Kesongo oleh Perum Perhutani Unit I KPH Randublatung bersama dengan Tropical Forest Trust (TFT) menetapkan kawasan ini sebagai kawasan lindung.

Selain itu kawasan kesongo merupakan kawasan yang teridentifikasi sebagai kawasan HCFV (High Conservation Value Forest). Dalam kawsan kesongo teridentivikasi sebagai kawasan HCV 1 kawasan migrasi satwa (rawa kesongo), HCV 2 Habitat satwa kunci (kuntul putih (Bubulcus ibis)), HCV 3 Ekosistem RTE (savanna dan rawa air tawar), HCV 5 Pemenuhan kebutauhan dasar (sumber pakan ternak/savanna), dan HCV 6 situs budaya (Kawasan sumber lumpur kesongo).

 Sehingga penetapan kawasan kesongo sebagai kawasan lindung merupakan langkah yang tepat bagi KPH Randublatung. Untuk lebih mengoptimalkan fungsi lindung dari kawasan kesongo, KPH Randublatung berencana untuk membuat kawasan zona penyangga (buffer zone) terhadap kawasan Kesongo. Kawasan zona penyangga Kesongo merupakan kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan kawasan Kesongo.

Untuk membuat kawasan zona penyangga ini, KPH Randublatung mengorbankan kawasan produksi yang berada di dekat kawasan kesongo. Saat ini kawasan yang akan dijadikan sebagai kawasan zona penyangga Kesongo masih merupakan kawasan hutan produksi dengan vegetasi mayoritas jati. Kedepannya kawasan hutan produksi (Jati) tersebut akan di bentuk menjadi kawasan Hutan Alam Sekunder.

Penggelolan yang ada dalam kawasan ini nantinya berupa pengelolaan untuk mendukung terbentuknya kondisi hutan alam sebagai kawasan pelindunganbiodiversity di KPH Randublatung. Hutan produksi yang akan diubah fungsi dan keperuntukannya sebagai kawasan lindung adalah seluas 631,2 ha.

Melihat keunikan, fenomena dan pesona alam yang dimiliki oleh kawasan Kesongo, kawasan ini sangat cocok untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata minat khusus. Pengembangan objek wisata minat khusus bertujuan agar fungsi lindung dari kawasan ini tidak mengalami gangguan yang besar dari aktifitas kegiatan pariwisata. 
 
[]Lovalia - Berbagai Sumber 
 

0 komentar
Label: , , , ,

LEGENDA BLORA - SUMBER LUMPUR KESONGO

Pada suatu hari di belantara hutan Randublatung Ki Joko Linglung datang untuk melakukan pertapaan. Pada pertapaannya itu, Ki Joko Linglung menjelma menjadi seekor ular yang sangat besar. Pertapaan ini memakan waktu bertahun-tahun lamanya, sehingga tubuh ular penjelmaan Ki Joko Linglung tertutup oleh pepohonan dan tanaman merambat. Berdasarkan pesan sang guru, selama bertapa Ki Joko Linglung dilarang makan, kecuali ada sesuatu yang masuk kedalam mulutnya. Dalam pertapaannya, Ular “ Joko Linglung” membuka mulutnya, sehingga terlihat seperti mulut goa.
Suatu ketika, datanglah sepuluh anak pengembala mengembalakan sapinya di daerah tempat Ki Joko Linglung bertapa. Tiba-tiba terjadi hujan lebat sehingga kesepuluh pengembala itu mencari tempat berteduh. Secara tidak sengaja, salah satu dari sepuluh pengembala tersebut ada yang menemukan goa. Kemudian dia mengajak teman-temannya untuk berteduh di goa yang diketemukannya. Namun satu dari teman mereka tidak mau masuk ke dalam goa tersebut.

Pada saat berteduh kesembilan pengembala tersebut tidak menyadari kalau goa tempat mereka berteduh merupakan mulut dari ular penjelmaan Ki Joko Linglung yang sedang bertapa. Di dalam goa kesembilan anak tesebut memukul-mukulkan goloknya ke dinding goa. Dikarenakan terkejut dan kesakitan dengan adanya orang yang masuk ke dalam mulutnya, ular jelmaan Ki Joko Linglung pun menutup mulutnya. Dan kesembilan pengembala tadi pun tertelan ke dalam perut ular penjelmaan Ki Joko Linglung.

Satu teman mereka yang tidak masuk ke dalam mulut goa tersebut kaget melihat kejadian itu. Dan Ki Joko Linglung yang telah kekenyangan setelah memakan kesembilan anak pengembala tersebut mengeluarkan air liur dari mulutnya. Hal tersebut dikarenakan dia telah berpuasa bertahun-tahun lamanya. Air liur Ki Joko Linglung yang jatuh ke tanah (bumi) secara menakjubkan menjadi letupan-letupan sumber lumpur yang keluar dari perut bumi. Setelah merasa kenyang Ki Joko Linglung pun kembali melanjutkan proses pertapaannya dengan masuk ke perut bumi. Sumber lumpur yang keluar dari perut bumi itu, sampai saat ini terus keluar dengan lokasi yang berpindah-pindah.Pada saat tertentu terjadi letupan yang besar dan berlangsung seharian. Masyarakat sekitar menyakini lokasi lumpur yang berpindah-pindah itu merupakan tempat pertapaan Ki Joko Lingkung

Satu anak pengembala yang selamat itu pun pulang ke desanya. Dia kemudian menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama teman-temannya. Tempat semburan lumpur tersebut akhirnya dinamakan Kesongo atau Pesongo yang berasal dari kata apesnya cah songgo (sialnya anak sembilan). Dikarenakan cerita tentang kesaktian Ki Joko Linglung dan tempat pertapaannya tersebut berkembang di masyarakat luas, maka tempat ini pun sampai sekarang merupakan tempat yang banyak dikunjungi orang untuk melakukan ritual permohonan berkah kepada Ki Joko Linglung agar diberi kesuksesan dunia. Dalam setiap kegiatan ritual orang yang akan meminta berkah Ki Joko Linglung selalu membawa susu putih yang diyakini merupakan makanan kesukaan Ki Joko Linglung. Hal tersebut bertujuan agar keinginan peziarah dapat dikabulkan hajatnya oleh Ki Joko Linglung.
Lovalia - Berbagai Sumber

4 komentar
Label: , ,

WISATA BLORA : WADUK GRENENG TUNJUNGAN


Waduk Greneng merupakan sebuah tempat Obyek Wisata Alam berupa Waduk terletak didukuh Greneng desa Tunjungan Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora + 12 km kearah barat laut dari Kota Blora. Obyek Wisata ini mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai fungsi utama irigasi tanah pertanian dan pembesaran ikan air tawar. Karena letak dan lokasinya yang begitu indah dan menarik, serta berlatar belakang dekat dengan hutan Wilayah KPH Mantingan yang menambah suasana berkesan keindahan pemandangan alamnya, sehingga Obyek Wisata Waduk Greneng juga merupakan Obyek Wisata yang banyak dikenal oleh masyarakat baik dari dalam maupun dari luar kota, khususnya kaum remaja yang mempunyai hoby memancing.

Obyek Wisata Waduk Greneng Blora mempunyai hamparan yang sangat luas + 45 ha dengan terdapat beberapa macam / jenis air tawar, sehingga banyak masyarakat setempat yang menjajakan ikan hasil tangkapannya, dalam hal ini merupakan kegiatan yang dapat menambah semaraknya suasana waduk sekaligus sebagai daya tarik Obyek Wisata Waduk Greneng.

Untuk mencapai Obyek Wisata Waduk Greneng Blora dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dan disamping itu medannya mudah dilalui.Dan GRATIS lho ... cukup bayar parkir aja. Tapi ingat ... jaga keindahan dan kebersihan ya ..



[]Lovalia

0 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters