Tampilkan postingan dengan label Tentang Blora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Blora. Tampilkan semua postingan
Label: ,

Surat Cinta untuk Blora Mustika (HUT 267 Blora)

Logo HUT 267 Kabupaten Blora
Dalam kamus ilmiah populer, retrospeksi adalah keinginan meninjau atau menghayati kembali ke belakang. Atau retrospeksi bisa juga dikatakan sebagai cara pandang terhadap apa-apa yang sudah dilakukan, yang mana termasuk di dalamnya mengevaluasi keberhasilan sekaligus kegagalan di masa lampau, serta berharap dapat membangun rencana langkah-langkah prospektif, terobosan-terobosan di masa depan. 

Mengapa membincangkan retrospeksi Hari Jadi Kabupaten Blora, dalam aras ini, menjadi sangat penting? Tentu saja usaha retrospeksi bermanfaat bagi kita dalam mengambil pelajaran dari peristiwa yang sudah-sudah. Mengutip Elisabeth Kubler Ross, “Tidak ada kesalahan, tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Seluruh peristiwa adalah anugerah yang diberikan kepada kita untuk kita pelajari.”

Usia Kabupaten Blora bisa dibilang tua, bahkan lebih tua dari usia kemerdekaan negara ini. Tepat pada tanggal 11 Desember 2016, genap warga Kabupaten Blora memperingati Hari Jadi Kabupaten Blora yang ke-267. Namun demikian, sudahkah seluruh masyarakat Blora merasakan kehidupan yang MUSTIKA di sini?

Saya memang tidak dilahirkan di Blora, tetapi saya dibesarkan di kabupaten tercinta ini. Dua puluh tahun saya berada di Blora tercinta, menurut hemat saya, belum banyak perubahan yang signifikan di sini. Tentu saja pengertian “perubahan” yang dimaksud bukan sebatas prestasi-prestasi pembangunan, karena “perubahan” tentunya pengertiannya harus lebih luas daripada itu.

Sebutan Blora Kota MUSTIKA (Maju, Unggul, Sehat, Tertib, Indah, Kntinyu, Aman), sampai hari ini pun menurut pendapat saya masih sekadar slogan. Blora masih belum MUSTIKA. Masyarakat kabupaten ini masih belum merasa memiliki slogan tersebut. Sampah di mana-mana dan parit-parit banyak yang tersumbat karena sampah. Taman-taman yang dibangun dengan dana puluhan juta itu apa kabarnya? Tak jarang belum genap satu tahun taman-taman yang seharusnya mempercantik tampilan kota justru terlihat menyedihkan. Pendek kata, kepedulian masyarakat kota ini terhadap kebersihan dan keindahan masih amat kurang. Menjadi kota indah dan nyaman hemat saya masih jauh dari harapan.

Dari aspek pariwisata, patutnya kita berterimakasih kepada kawula muda yang dalam beberapa tahun belakangan ini mulai sadar pariwisata. Anak-anak muda mulai mengupgrade pariwisata di kabupaten Blora, baik yang sudah terkelola, terlantar atau bahkan sudah terlupakan sama sekali. Harusnya ini menjadi sentilan tersendiri bagi pemerintah untuk merangkul anak-anak muda di setiap kecamatan guna mengembangkan pariwisata di seluruh penjuru Blora.

Dari aspek sarana prasarana umum, jalan raya dan pedesaan nampaknya masih menjadi PR panjang bagi pemerintah. Perlahan memang sudah mulai dirasakan pembangunan beberapa ruas jalan raya dan jalan desa. Namun, sayangnya seringkali proyek ini mangkrak, mogok di tengah perjalanannya sebelum selesai terlaksana seluruhnya.

Dari aspek ketertiban, masyarakat kota ini pun jauh dari kata “tertib”. Satu conth kecil, cobalah berkunjung ke kecamatan paling timur kabupaten Blora. Lalu lintas merupakan tempat yang tidak aman bagi pengendara, karena warga kota ini banyak yang “buta warna”. Lampu merah dipandang hijau, tak peduli disindir dengan bunyi-bunyi klakson dari motor-motor lain, tetap tancap gas, tabrak lampu merah! Kadang justru yang patuh pada lampu merah dicecar di jalan (pengalaman).

Dalam aspek pendidikan, kita harus terus berbenah. Masih banyak sekolah di kota ini yang minim perhatian, terutama kelengkapan sarana dan prasarana belajar mengajar. Mewujudkan Blora sebagai kota layak anak juga harusnya dijadikan motivasi kota ini untuk terus menerus berbenah diri.

Elemen masyarakat dan perangkat pemerintahan dari tingkat terkecil RT semestinya dilibatkan dengan gerakan Blora bersih, masyarakat dihimbau untuk membersihkan lingkungannya serta diberikan reward and punishment agar masyarakat terpicu akan sisi social serta menaikkan gaung HUT Kabupaten Blora. setelah bersih agar semakin  meriah setiap gang memasang umbul-umbul dan memeriahkan HUT dengan semangat kebersamaan. Kegiatan seperti ini, umumnya belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat, baru masyarakat di pusat kta saja yang tersentuh oleh kemeriahan HUT Blora.

Selain itu juga pemerintah ada baiknya memiliki program yang sifatnya memelihara kebudayaan serta sejarah, misalnya dengan membuat arahan kepada semua pemilik usaha seperti hotel, restoran, perkantoran memasang ucapan selamat hari jadi dengan pantun yang tidak perlu diseragamkan, biarkan saja pemilik usaha atau perkantoran tersebut membuat parikan (pantun  jawa) dengan imaginasi mereka, setiap masyarakat pasti akan melihat dan membaca, budaya parikan pun akan kembali memasyarakat secara perlahan. tentu hal ini akan menarik, setiap orang akan berhenti membaca, pemenangnya mendapatkan penghargaan. Asalkan program ini dilaksanakan secara berlanjut maka kebudayaan akan terpelihara.

Selain pantun, pelaku usaha yang memiliki akses langsung ke masyarakat seperti mall, hotel dan restoran dihimbau untuk memperdengarkan lagu yang mBlora Banget baik itu lagu ataupun instrumennya, nah lagu-lagu itu bisa didapatkan dari hasil kompetisi atau lomba lagu khas melayu yang mungkin bisa lombakan sebagai rangkaian HUT Kabupaten Blora.


Intinya pemerintah mesti memiliki visi dan program yang jelas dan memasyarakat. Mensikapi program great sale, saya mendukung asalkan target pasar yg diraih tidak hanya kepada masyarakat kalangan atas saja namun semua kalangan. Inilah beberapa ide yang mungkin bisa kita kembangkan dan dipersiapkan nanti di HUT ke 267, tentu ide-ide gila yang lain pun mungkin ada didalam benak semua masyarakat, dengan program yang terarah serta tidak dadakan maka hasil maksimal akan bisa kita raih, sebab perencanaan telah di buat, pendanaan pun tentu akan lebih memadai.



Akhirnya, dirgahayu Bloraku, semoga Blora semakin kondusif serta dapat menjadi destinasi bagi wisatawan domestic maupun mancanegara. Jangan takut berinovasi dan memberikan yang lebih buat Kabupaten Blora, terutama kaum pemuda, karena masa depan Kabupaten Blora ini berada ditangan anda nanti.

[]Lovalia 

4 komentar
Label: , ,

Legenda Blora : Terjadinya Sungai Lusi

Hasil gambarDi Kota Blora ada sebuah sungai yang melingkari kota. Sungai itu berada di sebelah timur kota Blora, mengalir dari utara ke selatan, kemudian berbelok ke arah barat. Sungai itu mengalir terus ke barat, masuk ke wilayah Purwodadi dan akhirnya bertemu dengan Sungai Serang. Sungai itu adalah sungai Lusi. 

Sungai Lusi melingkari separoh bagian kota Blora yang sebagian selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-krikil-lumpur dan pasir yang mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja. Tapi bila musim hujan datang, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air hingga duapuluh meter. Kadang-kadang sampai lebih. Dan air yang mengalir damai jadi gila berpusing-pusing. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di tepi-tepi kali seperti anak kecil yang mencabuti rumput. Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bidang ladang penduduk. Lusi! Dia merombak tebing-tebingnya


Bagaimanakah kisah terjadinya sungai Lusi? Ikutilah kisah dibawah ini.

Pada zaman Prabu Sri Jayabaya, raja yang bertakhta di Kediri, ada tiga orang pengembara yang bernama Ki MRanggi, Parta Gendul, dan Parta Balung. Setelah sekian lama mengembara meninggalkan Kediri, mereka berhenti di sebuah hutan di Gunung Butak yang banyak ditumbuhi pohon jati. Ki Mranggi melihat seputar tempat tersebut dan merasa cocok untuk tinggal di situ.

“Aku rasa tempat ini cocok untuk tempat tinggal. Bagaimana pendapatmu Parta Gendul?” Tanya Ki Mranggi kepada Parta Gendul.

“Saya setuju saja Ki Mranggi,” jawab Parta Gendul.

“Dan kamu Parta Balung, apakah juga setuju kalau kita tinggal disini?” Ki Mranggi memandangi Parta Balung minta pendapat.

“Saya kira saya bisa menyetujuinya Ki MRanggi,” jawab Parta Balung.

Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk tinggal di hutan yang terletak di Gunung Butak. Ternyata di tempat itu juga sudah ada penghuninya sebelum mereka bertiga datang. Dia adalah Ki Bahurena. Ketika Ki Bahurena berjalan menuju mata air, ia melihat tiga orang yang sedang membangun rumah sederhana di dalam hutan.

Ki Bahurena mendekati dan berkata,” Perkenalkan, aku Ki Bahurena. Apakah kalian mau tinggal di sini? Aku senang kalau kalian bertiga tinggal di sini sehingga aku mempunyai tetangga. “Lalu Ki Bahurena menyalamai Ki MRanggi, Parta Gendul dan Parta Balung.

“Terima kasih Ki Bahurena. Kami memang kan berdiam di Gunung Butak ini. Kami bertiga berasal dari Kediri,” jawab Ki MRanggi. Lalu Ki Mranggi memperkenalkan dirinya dan kedua temannya, Parta Gendul dan Parta Balung.

“Kalau kalian mau tinggal di sini silakan. Bukankah semua tanah di muka bumi ini milik TUhan? Jadi, siapa saja boleh tinggal di sini asalkan berniat baik dan tidak mengganggu makhluk yang ada di sini, baik pohon maupun hewan.”

“Baik Ki Bahurena. Kami akan jaga selalu pesan itu,” mereka bertiga mennjawab bersamaan.

Mereka bertiga tinggal di hutan Gunung Butak dengan senang dan damai. Ki Mranggi berpesan kepada Parta Gendul dan Parta Balung.

“Segala sesuatu yang kalian kerjakan hendaknya memberitahu aku dulu. Sebab akulah yang membawa kalian kemari dan lagi kita di sini masih baru belum tahu seluk-beluk daerah ini. Dan ingatlah selalu pesan Ki Bahurena itu”.

Pada suatu hari, Parta Balung ingin membuat perahu. Lalu Parta Balung berkeliling di sekitar tempat tinggalnya, matanya tertuju pada pohon suren. “Inilah pohon yang saya cari-cari untuk membuat perahu,”katanya dalam hati. Parta Balung menebang pohon suren. Semua yang dilakukan oleh Parta Balung itu tanpa sepengetahuan Ki Mranggi.

Setelah pohon suren di tebang, mulailah Parta Balung membuat perahu. Belum sempat menyelesaikan perahunya, tiba-tiba turun hujan deras di sertai angin rebut sehari semalam lamanya. Di tengah hujan dan angin ribut itu, tiba-tiba muncul seekor ular naga. Ular naga tersebut berjalan di dalam tanah, dan muncul gundukan tanah seperti bukit pada bekas jalannya. Tanah yang di lewati ular naga itu longsor dan longsoran tanah itu berubah menjadi aliran lumpur dan akhirnya terjadi banjir lumpur. Semua benda yang di terjang banjir lumpur itu roboh, pohon-pohon jati bertumbangan dan hutan menjadi rusak. Rumah-rumah penduduk di kaki Gunung Butak tidak luput dari amukan banjir lumpur itu, demikian juga rumah Ki Mranggi dan Ki Bahurena.

Ki Mranggi melihat di sekitar rumahnya dan disekitar hutan, ternyata telah rusak semua. Lalu ia berkata.
“Tempat ini telah rusak di terjang banjir lumpur. Oleh karena itu, tempat ini akan di namakan Desa Coban sebab di sini aku mendapat cobaan dari Tuhan.”

Lalu Ki Mranggi mencari ular yang telah membuat kerusakan parah itu. “Parta Gendul dan Parta Balung, kalian jangan pergi meninggalkan rumah ini. Walaupun sudah rusak kalian harus tetap jaga rumah ini. Aku akan pergi,” kata Ki Mranggi.

“Ki Mranggi akan pergi kemana?” Tanya Parta Gendul dan Parta Balung serempak.

“Aku mencari tempat tinggal ular naga yang telah merusak semuanya ini.”

“Baiklah Ki Mranggi, kami berdua akan tetap di sini. Hati-hatilah semoga berhasil.”

“Terima kasih. Aku segera pergi.”

Pencarian Ki Mranggi tidak membawa hasil. Ia gagal mendapatkan ular naga yang sudah menimbulkan kerusakan.

“Hampir putus asa aku. Sudah berjalan ke sana kemari, tidak dapat aku temukan ular naga itu. Aku harus mencari bantuan,” kata Ki Mranggi dalam hatinya.

Lalu ia mencari bantuan ke Syekh Jatikusuma yang bertapa di puncak Gunung Butak. Perjalanan menuju Gunung Butak harus mendaki dan menerobos hutan yang lebat. Perjalanan yang sangat melelahkan! Namun, demi tekad untuk memperoleh bantuan, segala jerih lelah tidak dirasakan oleh Ki Mranggi.

“Ada perlu apa saudara datang kemari?” kata Syekh Jatikusuma kepada Ki Mranggi yang mendatanginya di pertapaan.

“Aku datang ke pertapaan Syekh untuk memohon bantuan,” kata Ki Mranggi.

“Ada persoalan apa dan apa yang dapat saya lakukan? Kalau aku bisa, pasti aku membantumu, “jawab Syekh Jatikusuma.

“Begini Syekh Jatikusuma. Beberapa waktu yang lalu, di tempat aku tinggal di kaki Gunung Butak terjadi banjir lumpur. Banjir lumpur itu terjadi karena ulah ular naga yang berjalan di dalam tanah. Aku sudah mengejarnya berhari-hari, tetapi tidak menemukannya. Karena itu, aku datang ke sini mohon pertolongan Syekh.”

“Ya, sekarang aku mengerti. Aku akan menolongmu.”

Kemudian Syekh Jatikusuma meninggalkan Ki Mranggi. Ia mengambil pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Ia menjumpai kembali Ki Mranggi yang tertegun melihat pusaka yang di pegang oelh Syekh Jatikusuma.

“Keris apa itu?” Tanya Ki Mranggi penuh keheranan.

“ini keris pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Dengan pusaka ini, aku dapat menemukan tempat ular naga berada.”

Lalu Syekh Jatikusuma menancapkan pusaka itu di puncak Gunung Butak dan terbukalah puncak Gunung Butak itu. Di dalamnya ular naga sedang tidur pulas, tampak jinak dan tidak ganas. Namun, tiba-tiba datang angin ribut dan hujan deras yang berlangsung sampai beberapa hari.

Setelah hujan reda, di puncak Gunung Butak muncul beberapa mata air. Melihat munculnya beberapa mata air, Ki Mranggi terkejut dan bertanya kepada Syekh Jatikusuma.

“Dari manakah munculnya mata air itu dan akan mengalir kemanakah air itu?”

Syekh Jatikusuma dengan tenang dan yakin menjawab, “Lihatlah dan perhatikan saja ke mana airnya mengalir, kamu nanti akan mengerti.”

Mata air yang airnya mengalir ke timur dinamakan Sungai Kesemen melewati Desa Tahunan, Bangilan, dan terus ke Bojonegoro. Air yang mengalir ke arah barat menjadi Sungai Brubulan. Air yang mengalir kea rah utara menjadi sungai Mudal melewati daerah Pamotan. Sementara itu, mata air yang airnya mengalir ke arah selatan melalui Desa Gunung Kajar terus ke BLora dinamakan Sungai Lusi. Mengapa? Sebab daerah yang di lalui air tersebut tanahnya menjadi longsor dan para penduduknya mencari selamat atau mengungsi. Mengungsi dalam bahasa Jawa Kuno disebut ngusi. Dari kata ngusi itulah lahir nama Sungai Lusi.

Setelah melihat peristiwa itu. Ki Mranggi pulang ke rumahnya dan hidup seperti sedia kala. Ia hidup bersama Parta Gendul dan Parta Balung serta hidup berdampingan dengan Ki Bahurena. Setelah kematian Ki Mranggi, makamnya banyak di ziarahi dan makam itu di sebut sebagai Pundhen Mranggi sedangkan makam Ki Bahurena di sebut sebagai Pundhen Bahurena.


Dikutip Dari Buku :Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)

0 komentar
Label: , , , ,

Wisata Blora : Puncak Suroyudan , Pesona Kebun Matahari

Matahariku

Satu lagi destinasi wisata lokal Blora yang layak masuk daftar rekomendasi kamu saat hendak berpetualang di Kabupaten Blora. Wisata ini terletak di wilayah utara kecamatan Jepon yang pastinya seru banget untuk dikunjungi. Wisata tersebut digugusan Pegunungan Kendeng dan berada diketinggian sekitar 300 mdpl. 

Lokasi ini merupakan Kebun Bunga Matahari di Puncak Suroyudan. Tepatnya terletak di  Ds Soko di seberang jalan pemandian Sayuran. Tidak perlu bingung mencarinya karena menuju lokasi ada papan penunjuk jalan Lur.

Berasa di negeri dongeng
Murah meriah, cukup bayar parkir Rp 2.000,- anda bisa jalan kaki menyusuri lereng bukit. Jalan menanjak sekitar ketinggian 20 meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 10 menit. Bunga Matahari yang berada di kebun seluas 3000 meter persegi ini tampak syahdu menyambut kedatangan pengunjung. Lokasi yang indah untu kamu para pecinta fotografi atau yang ingin pre wedding di sini. :D

Bila hendak  berlibur ke Kebun Bunga Matahari nan cantik ini tidak perlu repot bawa bekal aneh aneh. Bila lelah karena kepanasan dan perut kondisi keroncongan, di seberang jalan dari lereng bukit kebun matahari ini ada resto baru yang menawarkan pesona landscape alam Blora yang menakjubkan, yaitu Warung Dhuwur Blora (WDB).

So, selamat liburan Lur ...
Pemandangan Puncak Suroyudan

[]Lovalia 
Berbagai Sumber

0 komentar
Label: , , , , ,

WISATA BLORA : WADUK BENTOLO


Obyek Wisata Waduk Bentolo terletak di wilayah Kecamatan Todanan + 0,5 Km kearah selatan dari Goa Terawang atau + 34 Km kearah barat kota Blora, mudah dicapai dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
 
Obyek Wisata Waduk Bentolo adalah obyek wisata alam buatan berupa waduk yang di bangun Pemerintah Kabupaten Blora yang mempunyai fungsi utama yaiut sebagai irigasi tanah pertanian. Luas areal Obyek Wisata Waduk Bentolo + 270.795 m².
 
Karena letaknya yang cukup strategis , dengan alamnya yang indah dan menawan serta tiupan angin yang nyaman membuat Waduk Bentolo mempunyai daya tarik tersendiri , sehingga di samping sebagai fungsi irigasi Waduk Bentolo juga mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai tempat penggondokan bagi pramuka (Lembaga Candika Pancasona) dan juga tak kalah pentingnya sebagai fungsi kepariwisataan. Obyek Wisata ini sering di kunjungi oleh masyarakat/anak-anak muda dari luar daerah untuk sejenak bersantai atau untuk menyalurkan hobi memancing.

Buat kamu yang datang kesini, kamu bisa refreshing atau melepas penat sambil mancing ikan gaes. Pengunjung disini berasal dari Blora dan wilayah sekitarnya. Seperti kawasan wisata Blora pada umumnya, kamu akan menjumpai nuansa hijau di sekitar waduk yang menyebabkan warna air menjadi hijau karena terkena panyulan sinar matahari. 

Nah, buat kamu yang lagi ada di dekat kawasan ini, tidak ada salahnya untuk mampir dan mengabadikan beberapa momen keren disini. Selamat berkunjung !

NOTE :
Waduk ini, pada tahun 2014-sekarang, sempat timbul polemik karena airnya dimanfaatkan oleh salah satu perusahaan di dekat waduk. Namun warga merasa rugi dan akhirnya mencari solusi bersama pemerintah.
 
 
[]LOVALIA : Berbagai Sumber
 

0 komentar
Label: ,

Menelisik Arti Sesanti "Cacana Jaya Kertabhumi"


Arti Logo Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
  • CUPU MANIK (HASTA GINA) Yang berbentuk segi lima melambangkan dasar falsafah Negara, yaitu Pancasila.
  • GUNUNG KEMBAR Kesetiaan rakyat Daerah Kabupaten Blora terhadap Pemerintahan Republik Indonesia. Kecintaan rakyat Daerah Kabupaten Blora terhadap Daerahnya.
  • POHON ENAM BATANG berwarna Hijau berpadu dengan MENARA MINYAK berwarna Putih Melambangkan kekayaan utama daerah Kabupaten Blora
  • SUNGAI (Lusi dan Bengawan Solo) yang dilukiskan dengan dua jalur bergelombang dan berwarna Biru. Melambangkan penyaluran usaha-usaha pemerintah demi peningkatan kesejahteraan rakyat. Menggambarkan bahwa kemakmuran daerah Kabupaten Blora antara lain tergantung kepada pemanfaatan air dari kedua sungai tersebut.
  • TRISULA Bertangkai Merah dan berwarna Putih mempunyai arti jiwa kepahlawanan rakyat Daerah Kabupaten Blora, berani bekerja, berani berkorban, dan berani menghadapi kesulitan ketiganya berlandaskan itikad baik.
  • LINGKARAN berwarna Kuning Emas Melambangkan sebagai kesatuan dan kedaulatan tekad rakyat Daerah Kabupaten Blora
  • KALA MAKARA Sebagai Lambang Kebudayaan dan kesenian daerah rakyat daerah Kabupaten Blora
  • BINTANG SUDUT LIMA berwarna Kuning Emas Sebagai lambang segala yang paling tinggi (Tuhan Yang Maha Esa) dan yang harus diagungkan demi keselamatan rakyat lahir dan bathin
  • PADI dan KAPAS Motif Dwi Tunggal sebagai lambang kemakmuran
  • Sesanti Daerah yang berbunyi "CACANA JAYA KERTA BHUMI " Yang diartikan : tempat (arena, medan) kejayaan, kemakmuran dan kedamaian yang langgeng, atau dengan kata lain : "Bumi Kabupaten Blora ini mengandung kekayaan alamiah yang besar, yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, dengan syarat harus berani bekerja keras (makarya)".
    Makna tersebut sangat tinggi derajat estetiknya, karena hanya Kabupaten Blora yang menyematkan moto menarik dan unik seperti itu. Maka dari itu, semua masyarakat Blora harus bangga dan cinta pada Kabupaten Blora.
    Tak hanya Blora, sebenarnya setiap daerah memiliki moto, semboyan, logo, filosofinya masing-masing. Semua warga Blora, patut dan wajib tahu makna dari Cacana Jaya Kerta Bhumi yang selalu dibaca dan dilihat di logo Kabupaten Blora
[]Lovalia : Berbagai Sumber

0 komentar
Label: , ,

LEGENDA BLORA : ASAL USUL NAMA BLORA


Kita mungkin lebih mengenal BLORA dengan artian : Berani-LOyal-RAsional . Namun, tidak banyak yang paham darimana sesungguhnya nama Blora berasal.

Asal usul nama Blora dan artinya sampai sekarang belum jelas. Menurut cerita rakyat, kata "blora" berasal dari kata 'belor' yang artinya 'lumpur' atau 'tanbecekah '. Selanjutnya kata 'belor' berkembang menjadi 'beloran' atau 'mbeloran' yang juga berarti 'tanah berlumpur'. Dalam perkembangan selanjutnya, kata 'beloran' atau 'mbeloran' diucapkan dengan kata 'bloran' atau 'mbloran'. Kata tersebut biasanya dipergunakan untuk menyebut nama suatu tempat yang mempunyai spesifikasi atau ciri-ciri seperti berikut. Akan tetapi sampai saat ini tidak ada desa di Kabupaten Blora yang namanya menunjukkan ke arah pengertian tersebut.

Tentang sejarah ini anda bisa membaca tulisan saya yang berjudul : Sejarah Kabupaten Blora 
Cerita lain menyebutkan bahwa nama 'Blora' berasal dari kata 'belo lara' (anak kuda sakit), yaitu seekor anak kuda tunggang yang dihadiahkan oleh Asisten Residen Rembang kepada senopati Ngadi yang telah berhasil memadamkan pemberontakan Naya Gimbal/ Naya Sentika sehingga dia diangkat menjadi bupati karangjati yang semula hanya berupa kawedanan. adapun ceritanya adalah sebagai berikut.

Tersebutlah di Kadipaten Bengir ada pemberontakan yang dipimpin oleh sisa-sisa laskar prajurit Diponegoro yang bernama Naya Sentika, yang oleh karena rambutnya panjang dan tidak terurus (gimbal), maka dia kemudian dikenal dengan sebutan 'Naya Gimbal'. sebagai cucu prajurit pribumi, sebagaimanahalnya para leluhurnya dalam jiwa Naya Gimbal sudah tertanam rasa nasionalisme yang tinggi. Dia sangat anti penjajah beserta antek-anteknya, termasuk para bupati maupun wedana yang membantu Belanda.

Naya Gimbal beserta prajuritnya menyerang Kadipaten Bengir yang termasuk dalam afdeling Asisten Resident Rembang, Resident Jepara Rembang. Sebagai pembantu pemerintahan Bengir, adalah tumenggung (wedana) Karangjati bernama 'Ngadi', yang merupakan adik kandung Bupati Bengir. Wedana Ngadi orangnya lumpuh, akan tetapi sanyat sekti.

Atas serangan prajurit Naya Gimbal, Kadipaten Bengir merasa kewalahan, bahkan senapati perang Kadipaten Bengir yang bernama Begede Jetis gugur dalam pertempuran terbebut. Pertempuran yang menewaskan senapati Begede Jetis tersebut terjadi di sawah Balung Gembung, sebelah selatan Mlangsen. Oleh para pengikutnya, jenasah Begede Jetis dimakamkan di Desa Jetis.

Untuk memadamkan pemberontakan tersebut, akhirnya Bupati Bengir mendapatkan petunjuk gaib (wangsit), bahwa yang dapat mengalahkan Naya Gimbal adalah adiknya sendiri yang bernama Ngadi. Oleh karena itu, Bupati Bangir lalu memberitahukan hal itu kepada adiknya. Ngadi pun lalu maju ke medan perang dengan cata ditandu.

Wedana Ngadi mempunyai pusaka ampuh berupa tombak dapur 'Godong Andong'. Dengan pengaruh kewibawaan pusakanya tersebut akhirnya dia berhasil menghalau dan mengalahkan prajurit Naya Gimbal. Wedana Ngadi mendapat petunjuk gaib (wangsit) untuk menguburkan jenasah senapati sebelumnya, yaitu Begede Jetis di sebelah utara Jetis, di tempat yang tananhnya tinggi (pojok). Oleh karena makamnya berada di tanah yang tinggi (pojok), akhirnya Begede Jetis juga mendaptkan sebutan 'Suman Pojok'.

Adapun Wedana Ngadi, oleh karena telah berjasa berhasil memadamkan pemberontakan Naya Gimbal, atas ijin Asisten Residen Rembang dia mendapatkan hadiah separoh wilayah Kadipaten bengir sigar semangka (dibagi dua sama rata), bagian selatan, dan selakigus dia diangkat menjadi Bupati. Pada saat pelantikannya sebagai bupati, Ngadi ingin memberi nama kabupatennya, namun belum juga mendapatkan ide. Pada waktu pelantikan tersebut, dari Asisten resident Rembang dia mendapatkan hadiah berupa seekor kuda tunggang (kuda jeti) yang masih muda (belo) tersebut jatuh sakit (lara). Oleh karena itu, Ngadi lalu memberi nama wilayah kabupatennya dengan nama 'Blora', yang merupakan dari kata 'belo lara'.

 Pemerintahan Bupati Ngadi sangat baik. Rakyat merasa nyaman dan tenteram. Singkat cerita, Bupati Ngadi akhirnya meninggal dalam usia lanjut. Sebelum mangkat beliau berpesan agar jika kelak meninggal agar dimakamkan di arah utara, berbatasan dengan Kabupaten Bengir. Masyarakat Blora menyebut makan Bupati Ngadi dengan sebutan 'Ngadi Purwa', berasal dari kata 'Ngadi', yaitu nama bupati yang dimakamkan dan kata 'purwa' yang berarti 'pemula'. Sebutan tersebut dimaksudkan untuk mengenang Bupati Ngadi sebagai pemula berdirinya Kabupaten Blora.

[]Lovalia : Berbagai Sumber
Note : karena penulis adalah pemuda yang terlahir di era modern jauh sebelum kisah ini terjadi, maka mohon kiranya jika ada kesalahan/ kekurangan dalam penulisan ini pembaca bisa meluruskan dan mengoreksi secara bijak.

4 komentar
Label: ,

KEADAAN WILAYAH DAN GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLORA

Hasil gambar untuk peta kabupaten blora
Peta Kabupaten Blora
Pict by google
1. Letak Geografis
Secara astronomi Kabupaten Blora terletak di antara 111�016' sampai dengan 111�338' Bujur Timur dan di antara 6�582' sampai dengan 7�248' Lintang selatan. Di sebelah Utara Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati, di sebelah Timur dengan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur), di sebelah Selatan dengan Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) dan di sebelah Barat dengan Kabupaten Grobogan. Luas wilayah Kabupaten Blora adalah, 1.820,59 km2 (182058,3077) atau sekitar 5,5 persen luas wilayah Propinsi Jawa Tengah. Kecamatan yang memiliki wilayah terluas adalah Randublatung seluas 211,13 km2 sedangkan Cepu dengan luas wilayah 49,15 km2 merupakan kecamatan tersempit.

2.Topografi 
Kabupaten Blora memiliki wilayah dengan ketinggian terendah 30-280 dpl dan tetinggi 500 dpl. Kecamatan dengan letak tertinggi adalah Japah (280 dpl) sedangkan kecamatan Cepu terendah mempunyai permukaan terendah (31 dpl). Kabupaten Blora diapit oleh Pegunungan Kendeng Utara dan Selatan sengan susunan tanah 56 persen gromosol, 39 persen mediteran dan 5 persen aluvial. Menurut penggunaan tanah, hutan mendominasi luas wilayah 90.416,52 hektar (49,66 persen), sebelum terjadinya penjarahan hutan jati di Kabupaten Blora merupakan hutan terluas dan merupakan komoditi unggulan,disusul lahan sawah seluas 46.186,99 hektar dan lahan tegalan (kering) seluas 26.315,34 hektar. Lahan sawah di Kabupaten Blora yang merupakan sawah tadah hujan seluas 29.760,99 hektar (64,44 persen), sawah beririgasi teknis 7449,0000 Ha, sawah beririgasi sederhana 4114,0000 Ha, sawah beririgasi desa (non Pu) 1640,000 Ha. dan sawah beririgasi setengah teknis 967 Ha. Sebagian besar lahan kering merupakan tanah tegalan (ladang) sebesar 26315,3381 Ha, sisanya merupakan pekarangan seluas 16705,1598 Ha dan lain-lain (waduk, kuburan, lapangan olah raga dan lain sebagainya) seluas 2430,7885 Ha.

3. Iklim dan Curah Hujan
Banyaknya hari hujan di Kabupaten Blora selama tahun 2007 relatif baik bila dibanding dengan tahun sebelumnya. Selama tahun 2007, curah hujan tertinggi di Kecamatan Kradenan sebanyak 2.638 mm, untuk hari hujan terbanyak terdapat di Kecamatan Blora sebanyak 115 hari.

4. Pembagian wilayah administrasi.
Jumlah kecamatan di Kabupaten Blora adalah 16 kecamatan yang terdiri 271 desa dan 24 kelurahan. Yang keseluruhannya terdiri dari 941 dusun, 1.204 RW dan 5.429 RT. Enam kecamatan memiliki wilayah kelurahan (Randublatung, Cepu, Jepon, Blora, Ngawen, dan Kunduran). Kecamatan Ngawen memiliki desa/kelurahan terbanyak (27 desa dan 2 kelurahan) sedangkan kecamatan Sambong dan Kradenan memiliki desa/kelurahan paling sedikit masing-masing dengan 10 desa.

5.Penduduk
Berdasarkan Blora Dalam Angka tahun 2007, penduduk Kabupaten Blora tercatat sebanyak 846.310 jiwa, perempuan sebanyak 428.512 jiwa dan laki-laki sebanyak 417.798 jiwa dengan sex ratio sebesar 97,50. Tingkat kepadatan tertinggi tercatat di Kecamatan Cepu sebesar 1.572 jiwa per km2. Pertambahan penduduk seiring dengan pertambahan jumlah KK, dari 230.972 di tahun 2006 menjadi 232.156 di tahun 2007.


KONDISI DAN POTENSI

1.ASPEK SDM
Pegawai Negeri Sipil dan Calon PNS di Kabupaten Blora berjumlah 10.763 orang, 6.545 laki-laki dan 4.218. Data tentang sarana dan prasarana pendidikan merupakan data pokok dalam membangun pendidikan di Kabupaten Blora. Dari data Blora Dalam Angka tahun 2007, jumlah SD/MI sebanyak 708 unit, SLTP/MTs 123 unit, SLTA 56 unit dan Akademi/perguruan tinggi sebanyak 4 unit. Akademi atau perguruan tinggi tercatat sebanyak 4 unit, 3 unit di Kecamatan Cepu dan 1 unit di Kecamatan Blora, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 2.200 orang, dosen tetap sebanyak 119 orang dan tidak tetap sebanyak 290 orang. Kegiatan kelompok belajar paket A dan B hingga tahun 2007 mencapai 82 dan 51 kelompok.

2.ASPEK EKONOMI

Pertanian.
Mayoritas mata pencaharian penduduk Kabupaten Blora adalah petani, utamanya pertanian tanaman pangan. Hal ini menjadikan Kabupaten Blora sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Tengah. Padi sawah merupakan komoditi utama pertanian tanaman pangan. Produksi padi sawah tahun 2007 sekitar 301.972 ton, Komoditi unggulan kedua adalah jagung dan kedelai. Pada tahun 2007 produksi jagung mencapai 284.730 ton, sedangkan kedelai mencapai 5.805 ton. Sementara perkembangan hortikultura didominasi buah mangga dimana jumlah produksinya pada tahun 2007 sebesar 486.787 kwintal. Selanjutnya produksi jeruk mencapai 112.297 kwintal.

Perkebunan. 
Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Blora hanya perkebunan rakyat. Luas dan produksi tidak terlalu banyak. Tidak ada perkebunan besar yang dikelola negara atau swasta berbadan hukum di Kabupaten ini. Produksi tanaman yang menonjol adalah kelapa dan kapuk, dimana produksi kelapa mencapai 4.284, 610 ton, sedangkan kapuk sebesar 227,229 ton.

Peternakan. 
Satu lagi yang menjadi andalan utama penduduk Kabupaten Blora selain padi dan palawija adalah usaha ternak. Kabupsten Blora merupakan kabupaten dengan jumlah ternak besar terbanyak di Propinsi Jawa Tengah, utamanya ternak sapi potong. Dalam beberapa kesempatan sering mewakili Jawa Tengah untuk mengikuti lomba ternak baik untuk popukasi, kualitas ternak maupun kekimpakan kelompok peternak di tingkat nasional. Pada akhir tahun 2007 populasi sapi potong mencapai 215.587 ekor, kambing 96.250 ribu ekor, dan domba 16.881 ekor. Dalam tingkat propinsi, Blora merupakan Kabupaten dengan jumlah ternak terbanyak terutama sapi potong. Ternak lain yang mempunyai populasi cukup banyak adalah ayam kampung sebanyak 1,177.635 ekor.

Perikanan 
Subsektor perikanan, meliputi kegiatan usaha perikanan darat yang terdiri dari usaha budidaya sawah, kolam dan perairan umum (sungai, waduk dan cekdam). Produksi perikanan yang ada didominasi oleh perikanan umum sebesar 251 ribu ton berasal dari sungai. 

Kehutanan.
Sebanyak 49,66 persen luas wilayah Kabupaten Blora digunakan sebagai hutan negara, terbagi dalam tiga kesatuan administrasi yaitu KPH Randublatung, KPH Cepu dan KPH Blora. Salah satu komoditi hasil hutan adalah kayu jati, dimana produksi terbesar dari KPH Cepu sebanyak 43.999,385 meter kubik. Tahun 2005 total produksi kayu jati bundar sebanyak 92.803,78 meter kubik.

Industri. 
Menurut Dinas Perdagangan, Industri dan Koperasi Kab. Blora terdapat 11.020 perusahaan industri kecil dan rumah tangga di tahun 2007. Jumlah tenaga kerja yang diserap adalah 39.299 orang, dengan nilai produksi mencapai 456 milyar rupiah.

Energi. 
Sebagai upaya peningkatan taraf hidup masyarakat pemerintah mengupayakan program listrik di Blora dipenuhi oleh PT. PLN. Sudah 100 persen desa/kelurahan yang terpasang aliran listrik dengan jumlah pelanggan sebanyak 156.557 di tahun 2007. Kebutuhan akan air bersih dilayani oleh PDAM. Meskipun baru delapan Kecamatan yang dapat dicukupi, jumlah air yang sudah disalurkan mencapai 1,65 juta meter kubik, turun 4,60 persen dari tahun sebelumnya.

Koperasi. 
Koperasi sebagai soko guru perekonomian sangat penting peranannya dalam lingkup usaha kecil dan menengah. Dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami kenaikan, demikian pula dengan jumlah anggotanya. Pada tahun 2007 jumlah koperasi naik sebesar 2,08 persen. Banyaknya koperasi ada 491 unit terdiri atas 17 KUD dan 474 non KUD dengan jumlah total anggota sebanyak 121.199 orang.

Pasar. 
Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli, produsen dengan konsumen. Jumlah pasar yang ada di Kabupaten Blora sebanyak 61 unit dengan jenis pasar terbanyak adalah pasar desa / tradisional.

3. ASPEK SARANA & PRASARANA

Prasarana Jalan. 
Jalan merupakan prasarana pengangkutan darat yang penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Dengan makin meningkatnya usaha pembangunan maka akan menuntut peningkatan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain. Panjang jalan di wilayah Kabupaten Blora pada tahun 2007 adalah 658,23 kilometer. Panjang jalan tersebut terbagi menjadi jalan propinsi sepanjang 153,58 kilometer dan jalan Kabupaten 504,65 kilometer.

Angkutan Darat. 
Kendaraan bermotor dan kereta api merupakan angkutan darat utama. Pada tahun 2007, jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Blora 149.168 unit Sementara itu banyaknya penumpang kereta api pada tahun 2007 tercatat 161.461 orang.

Telekomunikasi. 
Di era informasi, PT Pos Indonesia dan PT Telkom semakin diperlukan dalam penyediaan sarana perhubungan dan komunikasi. Tahun 2007 kegiatan PT Pos Indonesia antara lain mengirim surat sebanyak 74.864 surat dalam negeri dan 1.070 surat luar negeri. Kegiatan yang lain dari instansi tersebut adalah melayani wesel pos, paket pos, tabungan penjualan benda pos dan sebagainya. Sarana komunikasi lain yang semakin penting adalah Warung Telekomunikasi (Wartel). Pada tahun 2007, jumlah warung telekomunikasi di Kabupaten Blora mencapai 180 unit dan jumlah pelanggan telepon mencapai 10.240 pelanggan . Pelanggan telepon tersebut meliputi Pemerintah (283 pelanggan), PN/PT (207 pelanggan), dan masyarakat (9.750 pelanggan).

Hotel dan Pariwisata. 
Pengembangan pariwisata saat ini makin penting, tidak saja dalam rangka meningkatkan penerimaan daerah, tetapi juga dalam rangka memperluas kesempatan kerja. Pada tahun 2007, jumlah usaha akomodasi di Kabupaten Blora sebanyak 26 usaha dengan 595 kamar. Dua dari usaha akomodasi tersebut diklasifikasikan sebagai hotel berbintang. banyaknya obyek wisata di Kabupaten Blora tahun 2007, yaitu 30 obyek wisata dengan jumlah pengunjung sebanyak 110.176 orang.

Keuangan. 
Realisasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Kabupaten Blora menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007, realisasi penerimaan PBB Kabupaten Blora, tercatat lebih dari 3,5 triliun rupiah. Dibandingkan dengan tahun lalu mengalami kenaikan sekitar 5,53 persen. Informasi tentang inflasi sangat penting sebagai tolok ukur kestabilan perekonomian daerah. Pada tahun 2007, tingkat inflasi di Kabupaten Blora mencapai 6,67 persen.

[] Lovalia - Berbagai Sumber
Note : Artikel ini dibuat pada tahun 2011 dengan memadukan sumber-sumber yang ada, mohon irranya berkenan menambahkan di kolom kmentar jika artikel ini dirasa sudah tidak relevan dengan zaman. ^_^

0 komentar
Label: , , ,

Sejarah Blora : Arti Lambang Kabupaten Blora


Arti Logo Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
  • CUPU MANIK (HASTA GINA) Yang berbentuk segi lima melambangkan dasar falsafah Negara, yaitu Pancasila.
  • GUNUNG KEMBAR Kesetiaan rakyat Daerah Kabupaten Blora terhadap Pemerintahan Republik Indonesia. Kecintaan rakyat Daerah Kabupaten Blora terhadap Daerahnya.
  • POHON ENAM BATANG berwarna Hijau berpadu dengan MENARA MINYAK berwarna Putih Melambangkan kekayaan utama daerah Kabupaten Blora
  • SUNGAI (Lusi dan Bengawan Solo) yang dilukiskan dengan dua jalur bergelombang dan berwarna Biru. Melambangkan penyaluran usaha-usaha pemerintah demi peningkatan kesejahteraan rakyat. Menggambarkan bahwa kemakmuran daerah Kabupaten Blora antara lain tergantung kepada pemanfaatan air dari kedua sungai tersebut.
  • TRISULA Bertangkai Merah dan berwarna Putih mempunyai arti jiwa kepahlawanan rakyat Daerah Kabupaten Blora, berani bekerja, berani berkorban, dan berani menghadapi kesulitan ketiganya berlandaskan itikad baik.
  • LINGKARAN berwarna Kuning Emas Melambangkan sebagai kesatuan dan kedaulatan tekad rakyat Daerah Kabupaten Blora
  • KALA MAKARA Sebagai Lambang Kebudayaan dan kesenian daerah rakyat daerah Kabupaten Blora
  • BINTANG SUDUT LIMA berwarna Kuning Emas Sebagai lambang segala yang paling tinggi (Tuhan Yang Maha Esa) dan yang harus diagungkan demi keselamatan rakyat lahir dan bathin
  • PADI dan KAPAS Motif Dwi Tunggal sebagai lambang kemakmuran
  • Sesanti Daerah yang berbunyi "CACANA JAYA KERTA BHUMI " Yang diartikan : tempat (arena, medan) kejayaan, kemakmuran dan kedamaian yang langgeng, atau dengan kata lain : "Bumi Kabupaten Blora ini mengandung kekayaan alamiah yang besar, yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, dengan syarat harus berani bekerja keras (makarya)"

Sumber : www.blorakab.go.id

0 komentar
Label: ,

SEJARAH KABUPATEN BLORA

ASAL USUL NAMA BLORA

Menurut cerita rakyat Blora berasal dari kata BELOR yang berarti Lumpur, kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama BLORA. Secara etimologi Blora berasal dari kata WAI + LORAH. Wai berarti air, dan Lorah berarti jurang atau tanah rendah.. Dalam bahasa Jawa sering terjadi pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B, tanpa menyebabkan perubahan arti kata.Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata WAILORAH menjadi BAILORAH, dari BAILORAH menjadi BALORA dan kata BALORA akhirnya menjadi BLORA. Jadi nama BLORA berarti tanah rendah berair, ini dekat sekali dengan pengertian tanah berlumpur.

BLORA ERA KERAJAAN

Blora dibawah Kadipaten Jipang 

Blora di bawah Pemerintahan Kadipaten Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih dibawah pemerintahan Demak. Adipati Jipang pada saat itu bernama Aryo Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaan meliputi : Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri. Akan tetapi setelah Jaka Tingkir ( Hadiwijaya ) mewarisi tahta Demak pusat pemerintahan dipindah ke Pajang. Dengan demikian Blora masuk Kerajaan Pajang.

Blora dibawah Kerajaan Mataram 

Kerajaan Pajang tidak lama memerintah, karena direbut oleh Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mtaram bagian Timur atau daerah Bang Wetan. Pada masa pemerintahan Paku Buwana I (1704-1719 ) daerah Blora diberikan kepada puteranya yang bernama Pangeran Blitar dan diberi gelar Adipati. Luas Blora pada saat itu 3.000 karya (1 karya = � hektar ). Pada tahun 1719-1727 Kerajaan Mataram dipimpin oleh Amangkurat IV, sehingga sejak saat itu Blora berada di bawah pemerintahan Amangkurat IV.

Blora di Jaman Perang Mangkubumi (tahun 1727 - 1755) 

Pada saat Mataram di bawah Paku Buwana II (1727-1749) terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Mangku Bumi dan Mas Sahid, Mangku Bumi berhasil menguasai Sukawati, Grobogan, Demak, Blora, dan Yogyakarta. Akhirnya Mangku Bumi diangkat oleh rakyatnya menjadi Raja di Yogyakarta. Berita dari Babad Giyanti dan Serat Kuntharatama menyatakan bahwa Mangku Bumi menjadi Raja pada tanggal 1 Sura tahun Alib 1675, atau 11 Desember 1749. Bersamaan dengan diangkatnya Mangku Bumi menjadi Raja, maka diangkat pula para pejabat yang lain, diantaranya adalah pemimpin prajurit Mangkubumen, Wilatikta, menjadi Bupati Blora.

Blora dibawah Kasultanan 

Perang Mangku Bumi diakhiri dengan perjanjian Giyanti, tahun 1755, yang terkenal dengan nama palihan negari, karena dengan perjanjian tersebut Mataram terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Surakarta di bawah Paku Buwana III, sedangkan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengku Buwana I. Di dalam Palihan Negari itu, Blora menjadi wilayah Kasunanan sebagai bagian dari daerah Mancanegara Timur, Kasunanan Surakarta. Akan tetapi Bupati Wilatikta tidak setuju masuk menjadi daerah Kasunanan, sehingga beliau pilih mundur dari jabatannya

BLORA KABUPATEN

Blora sebagai Kabupaten 

Sejak zaman Pajang sampai dengan zaman Mataram Kabupaten Blora merupakan daerah penting bagi Pemerintahan Pusat Kerajaan, hal ini disebabkan karena Blora terkenal dengan hutan jatinya. Blora mulai berubah statusnya dari apanage menjadi daerah Kabupaten pada hari Kamis Kliwon, tanggal 2 Sura tahun Alib 1675, atau tanggal 11 Desember 1749 Masehi, yang sampai sekarang dikenal dengan HARI JADI KABUPATEN BLORA.Adapun Bupati pertamanya adalah WILATIKTA.

Perjuangan Rakyat Blora menentang Penjajahan 

Perlawanan Rakyat Blora yang dipelopori petani muncul pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Perlawanan petani ini tak lepas dari makin memburuknya kondisi sosial dan ekonomi penduduk pedesaan pada waktu itu.. Pada tahun 1882 pajak kepala yang diterapkan oleh Pemerintah Penjajah sangat memberatkan bagi pemilik tanah ( petani ) . Di daerah-daerah lain di Jawa, kenaikan pajak telah menimbulkan pemberontakan petani, seperti peristiwa Cilegon pada tahun 1888. Selang dua tahun kemudian seorang petani dari Blora mengawali perlawanan terhadap pemerintahan penjajah yang dipelopori oleh SAMIN SURASENTIKO.

Gerakan Samin sebagai gerakan petani anti kolonial lebih cenderung mempergunakan metode protes pasif, yaitu suatu gerakan yang tidak merupakan pemberontakan radikal. Beberapa indikator penyebab adana pemberontakan untuk menentang kolonial penjajah antara lain : Berbagai macam pajak diimplementasikan di daerah Blora Perubahan pola pemakaian tanah komunal pembatasan dan pengawasan oleh Belanda mengenai penggunaan hasil hutan oleh penduduk Indikator-indikator ini mempunyai hubungan langsung dengan gerakan protes petani di daerah Blora. Gerakan ini mempunai corak MILLINARISME, yaitu gerakan yang menentang ketidak adilan dan mengharapkan zaman emas yang makmur.


[]Lovalia : Berbagai Sumber
Note : karena penulis adalah pemuda yang terlahir di era modern jauh setelah kisah ini terjadi, maka mohon kiranya jika ada kesalahan/ kekurangan dalam penulisan ini pembaca bisa meluruskan dan mengoreksi secara bijak.

0 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters