Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah - Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah - Legenda. Tampilkan semua postingan
Label: , ,

Legenda Blora : Terjadinya Sungai Lusi

Hasil gambarDi Kota Blora ada sebuah sungai yang melingkari kota. Sungai itu berada di sebelah timur kota Blora, mengalir dari utara ke selatan, kemudian berbelok ke arah barat. Sungai itu mengalir terus ke barat, masuk ke wilayah Purwodadi dan akhirnya bertemu dengan Sungai Serang. Sungai itu adalah sungai Lusi. 

Sungai Lusi melingkari separoh bagian kota Blora yang sebagian selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-krikil-lumpur dan pasir yang mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja. Tapi bila musim hujan datang, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air hingga duapuluh meter. Kadang-kadang sampai lebih. Dan air yang mengalir damai jadi gila berpusing-pusing. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di tepi-tepi kali seperti anak kecil yang mencabuti rumput. Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bidang ladang penduduk. Lusi! Dia merombak tebing-tebingnya


Bagaimanakah kisah terjadinya sungai Lusi? Ikutilah kisah dibawah ini.

Pada zaman Prabu Sri Jayabaya, raja yang bertakhta di Kediri, ada tiga orang pengembara yang bernama Ki MRanggi, Parta Gendul, dan Parta Balung. Setelah sekian lama mengembara meninggalkan Kediri, mereka berhenti di sebuah hutan di Gunung Butak yang banyak ditumbuhi pohon jati. Ki Mranggi melihat seputar tempat tersebut dan merasa cocok untuk tinggal di situ.

“Aku rasa tempat ini cocok untuk tempat tinggal. Bagaimana pendapatmu Parta Gendul?” Tanya Ki Mranggi kepada Parta Gendul.

“Saya setuju saja Ki Mranggi,” jawab Parta Gendul.

“Dan kamu Parta Balung, apakah juga setuju kalau kita tinggal disini?” Ki Mranggi memandangi Parta Balung minta pendapat.

“Saya kira saya bisa menyetujuinya Ki MRanggi,” jawab Parta Balung.

Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk tinggal di hutan yang terletak di Gunung Butak. Ternyata di tempat itu juga sudah ada penghuninya sebelum mereka bertiga datang. Dia adalah Ki Bahurena. Ketika Ki Bahurena berjalan menuju mata air, ia melihat tiga orang yang sedang membangun rumah sederhana di dalam hutan.

Ki Bahurena mendekati dan berkata,” Perkenalkan, aku Ki Bahurena. Apakah kalian mau tinggal di sini? Aku senang kalau kalian bertiga tinggal di sini sehingga aku mempunyai tetangga. “Lalu Ki Bahurena menyalamai Ki MRanggi, Parta Gendul dan Parta Balung.

“Terima kasih Ki Bahurena. Kami memang kan berdiam di Gunung Butak ini. Kami bertiga berasal dari Kediri,” jawab Ki MRanggi. Lalu Ki Mranggi memperkenalkan dirinya dan kedua temannya, Parta Gendul dan Parta Balung.

“Kalau kalian mau tinggal di sini silakan. Bukankah semua tanah di muka bumi ini milik TUhan? Jadi, siapa saja boleh tinggal di sini asalkan berniat baik dan tidak mengganggu makhluk yang ada di sini, baik pohon maupun hewan.”

“Baik Ki Bahurena. Kami akan jaga selalu pesan itu,” mereka bertiga mennjawab bersamaan.

Mereka bertiga tinggal di hutan Gunung Butak dengan senang dan damai. Ki Mranggi berpesan kepada Parta Gendul dan Parta Balung.

“Segala sesuatu yang kalian kerjakan hendaknya memberitahu aku dulu. Sebab akulah yang membawa kalian kemari dan lagi kita di sini masih baru belum tahu seluk-beluk daerah ini. Dan ingatlah selalu pesan Ki Bahurena itu”.

Pada suatu hari, Parta Balung ingin membuat perahu. Lalu Parta Balung berkeliling di sekitar tempat tinggalnya, matanya tertuju pada pohon suren. “Inilah pohon yang saya cari-cari untuk membuat perahu,”katanya dalam hati. Parta Balung menebang pohon suren. Semua yang dilakukan oleh Parta Balung itu tanpa sepengetahuan Ki Mranggi.

Setelah pohon suren di tebang, mulailah Parta Balung membuat perahu. Belum sempat menyelesaikan perahunya, tiba-tiba turun hujan deras di sertai angin rebut sehari semalam lamanya. Di tengah hujan dan angin ribut itu, tiba-tiba muncul seekor ular naga. Ular naga tersebut berjalan di dalam tanah, dan muncul gundukan tanah seperti bukit pada bekas jalannya. Tanah yang di lewati ular naga itu longsor dan longsoran tanah itu berubah menjadi aliran lumpur dan akhirnya terjadi banjir lumpur. Semua benda yang di terjang banjir lumpur itu roboh, pohon-pohon jati bertumbangan dan hutan menjadi rusak. Rumah-rumah penduduk di kaki Gunung Butak tidak luput dari amukan banjir lumpur itu, demikian juga rumah Ki Mranggi dan Ki Bahurena.

Ki Mranggi melihat di sekitar rumahnya dan disekitar hutan, ternyata telah rusak semua. Lalu ia berkata.
“Tempat ini telah rusak di terjang banjir lumpur. Oleh karena itu, tempat ini akan di namakan Desa Coban sebab di sini aku mendapat cobaan dari Tuhan.”

Lalu Ki Mranggi mencari ular yang telah membuat kerusakan parah itu. “Parta Gendul dan Parta Balung, kalian jangan pergi meninggalkan rumah ini. Walaupun sudah rusak kalian harus tetap jaga rumah ini. Aku akan pergi,” kata Ki Mranggi.

“Ki Mranggi akan pergi kemana?” Tanya Parta Gendul dan Parta Balung serempak.

“Aku mencari tempat tinggal ular naga yang telah merusak semuanya ini.”

“Baiklah Ki Mranggi, kami berdua akan tetap di sini. Hati-hatilah semoga berhasil.”

“Terima kasih. Aku segera pergi.”

Pencarian Ki Mranggi tidak membawa hasil. Ia gagal mendapatkan ular naga yang sudah menimbulkan kerusakan.

“Hampir putus asa aku. Sudah berjalan ke sana kemari, tidak dapat aku temukan ular naga itu. Aku harus mencari bantuan,” kata Ki Mranggi dalam hatinya.

Lalu ia mencari bantuan ke Syekh Jatikusuma yang bertapa di puncak Gunung Butak. Perjalanan menuju Gunung Butak harus mendaki dan menerobos hutan yang lebat. Perjalanan yang sangat melelahkan! Namun, demi tekad untuk memperoleh bantuan, segala jerih lelah tidak dirasakan oleh Ki Mranggi.

“Ada perlu apa saudara datang kemari?” kata Syekh Jatikusuma kepada Ki Mranggi yang mendatanginya di pertapaan.

“Aku datang ke pertapaan Syekh untuk memohon bantuan,” kata Ki Mranggi.

“Ada persoalan apa dan apa yang dapat saya lakukan? Kalau aku bisa, pasti aku membantumu, “jawab Syekh Jatikusuma.

“Begini Syekh Jatikusuma. Beberapa waktu yang lalu, di tempat aku tinggal di kaki Gunung Butak terjadi banjir lumpur. Banjir lumpur itu terjadi karena ulah ular naga yang berjalan di dalam tanah. Aku sudah mengejarnya berhari-hari, tetapi tidak menemukannya. Karena itu, aku datang ke sini mohon pertolongan Syekh.”

“Ya, sekarang aku mengerti. Aku akan menolongmu.”

Kemudian Syekh Jatikusuma meninggalkan Ki Mranggi. Ia mengambil pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Ia menjumpai kembali Ki Mranggi yang tertegun melihat pusaka yang di pegang oelh Syekh Jatikusuma.

“Keris apa itu?” Tanya Ki Mranggi penuh keheranan.

“ini keris pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Dengan pusaka ini, aku dapat menemukan tempat ular naga berada.”

Lalu Syekh Jatikusuma menancapkan pusaka itu di puncak Gunung Butak dan terbukalah puncak Gunung Butak itu. Di dalamnya ular naga sedang tidur pulas, tampak jinak dan tidak ganas. Namun, tiba-tiba datang angin ribut dan hujan deras yang berlangsung sampai beberapa hari.

Setelah hujan reda, di puncak Gunung Butak muncul beberapa mata air. Melihat munculnya beberapa mata air, Ki Mranggi terkejut dan bertanya kepada Syekh Jatikusuma.

“Dari manakah munculnya mata air itu dan akan mengalir kemanakah air itu?”

Syekh Jatikusuma dengan tenang dan yakin menjawab, “Lihatlah dan perhatikan saja ke mana airnya mengalir, kamu nanti akan mengerti.”

Mata air yang airnya mengalir ke timur dinamakan Sungai Kesemen melewati Desa Tahunan, Bangilan, dan terus ke Bojonegoro. Air yang mengalir ke arah barat menjadi Sungai Brubulan. Air yang mengalir kea rah utara menjadi sungai Mudal melewati daerah Pamotan. Sementara itu, mata air yang airnya mengalir ke arah selatan melalui Desa Gunung Kajar terus ke BLora dinamakan Sungai Lusi. Mengapa? Sebab daerah yang di lalui air tersebut tanahnya menjadi longsor dan para penduduknya mencari selamat atau mengungsi. Mengungsi dalam bahasa Jawa Kuno disebut ngusi. Dari kata ngusi itulah lahir nama Sungai Lusi.

Setelah melihat peristiwa itu. Ki Mranggi pulang ke rumahnya dan hidup seperti sedia kala. Ia hidup bersama Parta Gendul dan Parta Balung serta hidup berdampingan dengan Ki Bahurena. Setelah kematian Ki Mranggi, makamnya banyak di ziarahi dan makam itu di sebut sebagai Pundhen Mranggi sedangkan makam Ki Bahurena di sebut sebagai Pundhen Bahurena.


Dikutip Dari Buku :Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)

0 komentar
Label: , , , , , ,

LEGENDA BLORA : LEGENDA KEDUNGPUTRI RANDUBLATUNG

Konon ini adalah tempat mandi Putri Citrowati
Kedung Putri adalah suatu situs budaya yang pada masa lalu sampai sekarang banyak menyimpan misteri, bahkan berbau mistik yang konon menurut cerita tempat ini sering dipakai mandi oleh Citro Wati putri raja Purwocarito yang cantik Jelita.
Kedung Putri terletak di sebelah utara Kecamatan Randublatung, kurang lebih 10 km dari pusat kota Randublatung, tepatnya di hutan petak 52 RPH Gumeng BKPH Temanjang, KPH Randublatung. Secara administrative turut wilayah Desa Tanggel Kecamatan Randubaltung Kab. Blora.
Begitu kentalnya muatan mistik di lokasi ini menjadikannya cukup terkenal di Randublatung. Legenda Kedung Putri dimulai pada jaman dulu dimana terdapat suatu daerah yang bernama Negara Purwocarito (sekarang Desa Gumeng) yang dipimpin oleh seorang raja bernama Dian Gondo Kusumo dengan permaisuri Loro Girah, Pasangan raja dan permaisuri ini dikarunia 3 orang  anak yaitu  Citro Menggolo, Citro Kusumo dan Citro Wati.
Masing-masing keturunan raja Dian Gondo Kusumo diberikan kekuasaan untuk memimpin tiga kerajaan. Masing-masing adalah Citro Menggolo kerajaanya di Mlumpang (sekarang Desa Trembes), Citro Kusumo kerajaannya di Bale Kambang (sekarang Desa Temetes) dan Citro Wati kerajaanya di Purwocarito (sekarang Desa Gumeng).
Salah seorang dari ke tiga anaknya yaitu Citro Wati mempunyai paras yang  cantik jelita. Karena kecantikannya itu maka banyak putra raja yang lain atau dari golongan bangsawan tertarik dan ingin meminang Citro Wati. Sampai pada akhirnya Putri Citro Wati  dilamar oleh 2  raja, yaitu Begede Katong dari kerajaan Pandan (Sekarang Desa Njetak Wanger,Ngawen) dan Jonggrang Prayungan dari kerajaan Atas Angin. Kedua raja tersebut akhirnya perang untuk merebutkan Cito Wati. Keduanya belum ada yang kalah dan menang dalam peperangan tersebut. Akhirnya Citro Wati datang dan menolak keduanya (Begede Katong dan Jonggrang Prayungan).
Karena merasa ditolak, Begede Katong marah dan mendatangkan angin ribut untuk menghancurkan negara Purwocarito. Akibatnya negara Purwocarito luluh lantah rata dengan tanah.
Situs Banyu Tes
Beberapa hari kemudian Begede Katong tidak putus asa walapun cintanya di tolak. Dia tetap berangkat menuju kerajaan Purwocarito untuk melamar Citro wati. Sesampainya di suatu tempat dataran tinggi, Begede Katong melihat Citrowati sedang mandi di sendang, begitu melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Citrowati, birahi Begede Katong memuncak dan meneteslah air maninya, yang sekarang menjadi Banyu Tes, di dukuh Temetes. ”Sendang tetes” tersebut sampai sekarang dipercaya oleh masyarakat bisa menyembuhkan impotensi dan membangkitkan libido bagi kaum pria apabila mandi di tempat tersebut.
Jati Denok
Setelah itu Begede Katong melanjutkan perjalan kembali. Sesampainya di Gunung Serangkang, dia bertemu dengan Jonggrang Prayungan musuh bebuyutannya, dan keduanya saling berperang lagi. Keduanya berperang saling membunuh sehingga menyebabkan semua perangkat untuk melamar yang dibawa oleh Begede Katong berserakan dan terlempar jauh ke tempat lain. Tempat upeti (Bokor Kencono) terlempar ke Desa Pengkol (Kec. Banjarejo) yang dinamakan Kedung Bokor, Sirih (bahasa jawanya Suruh) terlempar ke Desa Banyuurip yang dinamakan Suruhan, Gemblongnya (dodol) yang teriris–iris terlempar ke Desa Temetes yang dinamakan Tiris, sedangkan emban yang membawa Bokor Kencono bernama Denok meninggal dan dikubur dengan di tandai Pohon jati yang sampai sekarang jati tersebut masih hidup dan dinamakan “Jati Denok”. Walaupun Begede Katong memaksa melamar, Cito Wati tetap tidak mau menerima lamaran Begede Katong. Meskipun ditolak cintanya, Begede Katong tidak mau kembali ke negaranya. Gilaaa setia bangeetttt
Citro Wati mempunyai kebiasaan yang setiap hari tidak pernah ditinggalkannya yaitu mandi di sungai (Kedung) yang sekarang dinamakan Kedung Putri. Begede katong memanfaatkan situasi tersebut yaitu dengan merubah dirinya menjadi ikan gabus (Kutuk) dan masuk ke dalam sungai. Pada saat Citro Wati mandi di sungai, ia melihat ikan gabus (kutuk) yang sebenarnya adalah  jelmaan Begede Katong. Citro Wati sangat  senang melihat ikan tersebut dan ia pun bermain di sungai (kedung) itu tanpa curiga sedikitpun akan keberadaan ikan tersebut. Karena seringnya bermain dengan  ikan gabus (kutuk) tersebut, tanpa disadari ia bercinta dengan ikan gabus jelmaan Begede katong yang pada akhirnya menyebabkan Citro Wati hamil.
Citro Kusumo kakak Citro Wati marah melihat adiknya hamil tanpa diketahui siapa yang menghamili adiknya. Citro Wati tidak boleh melahirkan secara normal tetapi harus melalui perut sebelah kiri. Perut Citro Wati ditusuk dengan keris oleh Citro Kusumo dan keluarlah dari perut Citro Wati anak ikan gabus (Kutuk). Keanehan yang terjadi pada anak Citro Wati  menjadikannya sebuah larangan bagi masyarakat dusun Gumeng bahwa mereka tidak boleh makan ikan gabus (kutuk) karena itu merupakan darah dagingnya Citro Wati. Karena ditusuk perutnya, Citro Wati pingsan dan tidak sadarkan diri. Citro Wati diseret oleh Cito Kusumo dan di siram air. Akhirnya Citro Wati sadar dan air yang dipakai untuk menyiram Citro Wati dinamakan Banyuurip.
Banyu Urip
Sampai sekarang banyuurip masih tetap ada dan selalu dijaga keberadaanya karena dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit.
Setelah kejadian itu, Citro Wati berjanji tidak akan kawin sebelum ketemu Joko Sayuto dengan pengapit Joko Santoso. Citro Wati semedi di sungai (kedung Putri) sambil menunggu Joko Sayuto dan Joko Santoso.
Cerita Legenda yang masih melekat pada Kedung Putri, bagi masyarakat dusun Gumeng merupakan salah satu peninggalan sejarah yang harus dijaga, baik lokasi, peninggalan-peninggalannya maupun nilai-nilai spiritualnya.
Saat ini, tradisi yang dilakukan masyarakat dusun Gumeng di Kedung Putri adalah upacara sedekah bumi. Tujuannya adalah untuk meminta berkah dan keselamatan bagi dusun Gumeng dan daerah sekitarnya. Terkadang ada juga yang melakukan ritual khusus di tempat ini yaitu memberikan sesaji yang tujuannya untuk meminta kekayaan (pesugihan)
[]Lovalia : Berbagai Sumber
Note : karena penulis adalah pemuda yang terlahir di era modern jauh sebelum kisah ini terjadi, maka mohon kiranya jika ada kesalahan/ kekurangan dalam penulisan ini pembaca bisa meluruskan dan mengoreksi secara bijak

7 komentar
Label: , , , , , , , , , ,

Legenda Blora : Asal-usul Kemantren - Wado dan Pernikahan Terlarang Di Wilayah Blora Selatan

Kemantren dan Wado adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Sejak kecil saya sering mendengar cerita dari orang-orang dewasa bahwa ada sebuah tradisi di mana warga desa Wado dilarang untuk menikah dengan warga desa Kemantren. Setelah saya beranjak remaja, saya yang memang menyukai hal-hal berbau tradisi, mistis dan legenda, mencoba mengumpulkan cerita dari berbagai sumber, tentang tradisi ini. Tulisan ini dikumpulkan dari berbagai sumber, jika ada versi lain, atau ada ketidaksesuaian dengan pendapat dan pengetahuan pembaca, semoga berkenan untuk mengoreksi dengan cara yang santun. Selamat membaca ....



Tentang Desa Kemantren

Diceritakan oleh sesepuh Desa Kemantren, beliau munuturkan bahwa waktu zaman penjajahan Belanda banyak mantri hutan yang ditugaskan di daerah ini. Waktu itu keadaannya masih hutan belantara dan mereka ditugaskan untuk membuka hutan untuk perluasan pemukiman. Bahkan banyak dari mereka yang menetap di daerah ini. Maka untuk mengenang bahwa tempat ini sebagai tempat berkumpulnya mantri hutan apabila kelak di daerah ini sudah ramai dan menjadi sebuah desa maka mereka memberinama “Desa Kemantren”.

Secara geografis, Desa Kemantren emang cukup jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Kedungtuban. Jarak Desa Kemantren sendiri dengan kecamatan Kedungtuban ± 6 km. jarak Kabupaten kota yakni Kabupaten Blora adalah ± 42 km. Sedangkan jarak Desa Kemantren dengan propinsi jawa tengah adalah ± 171 km. Desa Kemantren memiliki batas wilayah yakni di sebelah utara bebatasan dengan Desa Bajo dan Desa Ngeloram, untuk sebelah selatan berbatasan dengan sungai gelandangan, sebelah barat berbatasan dengan Desa Sidorejo, Desa Wado, Desa Pulo dan Desa Tanjung, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Desa Klagen dan Desa Panolan. 

Asal-usul Desa Wado
Riwayat dan asal-usul yang diceritakan oleh para tokoh-tokoh masyarakat dan para tetua adat tentang Desa Wado adalah sebagai berikut, Hal ini bermula pada  kurun waktu -+ 2,5 Abad yang lalu, di tempat yang masih berupa hutan belantara dan masih sedikit sekali penghuninya, datanglah seorang Bangsawan yaitu Putra dari Raden Danang Sutowijoyo Sultan Mataram yang saat itu berkuasa, beliau Raden Mas Ronggo Kusumo dimana beliau adalah seorang yang sakti mandraguna dan seorang Senopati (panglima Perang ) yang handal dan ahli strategi tempur. Namun Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut mempunyai sifat-sifat yang jelek dan jahat sehingga tidak disukai oleh Paduka Ayahanda Kanjeng Sultan .Sehingga Ayahanda Kanjeng sultan tidak akan menggantikan kedudukanya nanti Kepada Raden Mas Ronggo Kusumo, sebaliknya karena prilaku Putranya itu Kanjeng Sultan ingin mencari upaya untuk membunuh Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut. Dengan dalih bahwa didaerah hutan Panolan (yang sekarang adalah Desa Panolan) yang berjarak + 3,5 Km dari Desa Wado terjadi suatu kerusuhan yaitu ada seekor ular besar yang selalu memangsa semua penghuni serta membuat kekisruhan di wilayah hutan Panolan Tersebut. Maka oleh Ayahanda Kanjeng Sultan Mataram memrintah Putranya yaitu Raden mas Ronggo Kusumo tersebut untuk menangkap dan membunuh ular tadi. Namun semua itu adalah taktik upaya dari Sultan karena ular tersebut adalah penjelmaan dari Ratu Laut Pantai Selatan atau Nyi Roro kidul, yang ditugaskan Sultan untuk membunuh Raden Mas Ronggo Kusumo,yang nantinya akan menggantikan Singgasana Kerajaan  Mataram.

Berangkatlah Raden Mas Ronggo Kusumo ke wilayah hutan Panolan untuk membasmi ular besar tersebut. Tibalah beliau di hutan (yang sekarang Desa Wado) untuk mengadakan persiapan-persiapan penyerbuan. Sebelum terjadinya penyerbuan besar-besaran ke hutan panolan Raden Mas Ronggo Kusumo mengadakan persiapan baik itu bidang persenjataan dan latihan-latihan beladiri (ulah kanuragan), setelah persiapan dirasa sudah cukup dan sudah matang maka dengan berpakain lengkap kebesaran pimpinan prajurit dan diikuti prajurit secukupnya maka berangkatlah untuk berperang melawan ular besar di hutan panolan, pakaian kebesaran yang dimaksud adalah: Parang, uluk dan kalung. Ular tersebut kalah, namun hal itu hanya untuk meneter (mengetes) kedigdayaan atau kesaktian dari Raden mas Ronggo Kusumo saja, karena ular tersebut sudah mengetahui secara pasti titik kelemahan dari Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut.

Pada Perang berikutnya segera saja ular tersebut mengigit telinga dan sumping dari Raden Mas Ronggo Kusumo yang merupakan titik lemah ( pengapesan ) darinya. Sehingga mundur kembali ke Posnya Desa Wado bersama iring-iringan seluruh prajurit dengan menjerit meng-ADUH jatuhlah ia maka pesan terakhir kalau nanti ramainya Desa maka dinamakanlah WADO. Adapun tempat jatuhnya di kemudian hari dikenal menjadi sebuah Tempat Pemakaman Umum yang lazim disebut Makam Ronggolawe Wado. Demikian sekilas cerita asal-usul dari Desa Wado yang berasal dari tetua dan tokoh-tokoh secara turun temurun yang diyakini kebenarannya dari sumber cerita tersebut.

Secara geografis, meskipun Desa Wado cukup jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Kedungtuban, tetapi desa ini menjadi jantungnya kecamatan Kedungtuban. Hal itu dikarenakan adanya pasar besar yang menjadi pusat perekonomian rakyat, selain itu stasiun kereta api serta berbagai jenis usaha dan industri ada di desa ini. Jarak Desa Wado sendiri dengan Kecamatan kedungtuban adalah ± 5 km dan . jarak dengan Kabupaten Blora adalah ± 50 Km. Sedangkan jarak Desa Wado dengan Propinsi Jawa Tengah adalah ±175 km. Desa Wado memiliki batas wilayah yakni di sebelah utara bebatasan dengan Desa Pulo, Desa Tanjung dan Desa Bajo, untuk sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sidorejo danDesa Gondel, sebelah barat berbatasan dengan Desa Sumber, kecamatan Keradenan 90Sejarah Desa Wado kec.Kedungtuban kab. Blora 91Observasi di Kantor Kelurahan Desa Wado Kec.Kedungtuban Kab.Blora 5 Desember 2016. 61 dan sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Desa Kemantren.


Sejarah terjadinya Larangan Perkawinan antar Desa

Larangan dalam adat perkawinan antara Desa Kemantren dan Desa Wado yaitu masyarakat desa Kemantren tidak boleh melakukan perkawinan dengan masyarakat desa Wado begitupula sebaliknya. Larangan perkawinan ini sudah ada sejak zaman dahulu dan diyakini hingga masa modern ini.

Sejarah tentang terjadinya larangan perkawinan antar masyarakat desa Kemantren dan masyarakat desa Wado ini konon dimulai dengan adanya perkelahian antara seorang pedagang atau penjual yang konon terjadi di pasar desa Wado. Perkelahian itu dimenangkan oleh masyarakat desa Wado dan setelahnya ia berikrar kepada anak cucunya tidak boleh menikah dengan masyarakat desa Kemantren. 

Versi lain menceritakan, bahwa suatu hari seorang pemuda desa Wado hendak melamar putri dari desa Kemantren. Berkenaan dengan hal ini, orang tua si pemuda berpesan, ketika nanti datang agar jangan disuguhi ikan lele. Namun, ketika sampai di rumah caln besan, ternyata terdapat suguhan ikan lele. Orang tua si pemuda pun bertitah, "Kelak anak cucuku jangan ada yang menikah dengan orang Kemantren!". 

Dalam adat, larangan perkawinan tersebut, masih berjalan sampai sekarang ini dan masyarakat Kemantren dan Wado sangat memegang teguh hukum adat tersebut.


Sebuah Solusi

Bagi yang akan melanggar baik laki-laki maupuun perempuan, harus tinggal dan menjadi penduduk desa lain di luar Desa Kemantren dan desa Wado.  Dalam larangan perkawinan antar warga Desa Kemantren dan Desa Wado Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora, masyarakat berpedoman dengan kepercayaan yang dipelajari dan diterapkan untuk menjadi landasan hukum selanjutnya, karena sebelumnya sudah pernah terjadi sesuatu hal-hal yang tidak di inginkan (musibah), setelah melakukan perkawinan antar warga Desa Kemantren dan Desa Wado.

Sanksi dan Konsekuensi

Sanksi bagi yang akan melanggar larangan perkawinan antara Desa Kemantren dan Desa Wado, mereka harus pindah dari desa mereka agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu ada sebuah mitos bagi yang melanggar larangan perkawinan antar Desa Kemantren dan Desa Wado salah satu di antara si laki-laki dan si perempuan mereka akan meninggal segera setelah pernikahan dan apabila tidak terjadi apa-apa di antara keduanya, kemungkinan itu biasa berdampak kepada salah satu di antara orang tua si laki-laki atau perempuan mereka yang akan meninggal.

Demikianlah salah satu kultur unik yang masih diyakini dan dipegang teguh oleh masyarakat Blora khususnya Warga Desa Wado dan Desa Kemantren Kecamatan Kedungtuban. Apabila kita tidak sependapat dengan hal ini, hendaknya kita sampaikan dengan bahasa yang santun tanpa perlu melukai hati orang lain. Hukum adat dan nilai-nilai kekeluargaan yang di miliki masyarakat desa kemantren dan desa wado sejak dahulu memiliki keampuhan untuk tetap menjaga persatuan dalam relasi yang majemuk. Setiap kehidupan dan kegiatan didasarkan pada hukum adat memberi peluang kepada setiap individu untuk tunduk kepadanya dan percaya bahwa hukum yang ada merupakan suatu yang sakral dan punya kekuatan. Hukum adat menjamin hak-hak asasi, harkat dan martabat manusia, adanya penghargaan yang tinggi terhadap individu, kelompok, dan nilai kehidupan manusia.


[]Alia Machmudia - Berbagai Sumber

 


1 komentar
Label: , , , ,

The Legend : Mount Lawu, Raden Brawijaya & Adipati Cepu

1 Muharram 1434 H, Pengalaman terunik selama mendaki gunung. Dimaki-maki orang saat perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 . Karena apa? Karena saya ORANG CEPU, BLORA. So What? Ada apa dengan Gunung Lawu, Adipati Cepu dan Raja Brawijaya? Cekidoottt ceritanya si Mbah ...

Terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, Gunung Lawu memiliki panorama alam yang indah. Banyak wisatawan yang minat unutk mendakinya. Gunung ini pun kerap disambangi para peziarah karena menyimpan obyek-obyek sakral bersejarah.

Di gunung berketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini memang menyimpan berbagai peninggalan sejarah kerajaan Majapahit seperti, Candi Ceto, Candi Sukuh yang Tempat sakral di sekitar Gunung Lawu terutama petilasan-petilasan Raden Brawijaya seperti Pertapaan Raden Brawijaya, dan Cungkup (rumah kecil yang ditengah-tengahnya terdapat makhom).

Konon nisan yang ada di Cungkup itu adalah Petilasan Prabu Brawijaya, bekas Raja Majapahit yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Lawu. Cungkup dan tempat pertapaan Raden Brawijaya ini terletak di Hargo Dalem, puncak tertinggi kedua Gunung Lawu yang merupakan peninggalan Raden Brawijaya selama dalam pelariannya.

Gunung Lawu adalah gunung yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar terutama penduduk yang tinggal di kaki gunung lawu ini. Tidak heran bila pada bulan-bulan tertenu seperti bulan Syuro pada penanggalan Jawa, gunung ini ramai didatangi oleh para peziarah terutama yang datang dari daerah sekitar kaki Gunung Lawu seperti daerah Tawangmangu, Karanganyar, Semarang, Madiun, Nganjuk, dan sebagainya.

Mereka sengaja datang dari jauh dengan maksud terutama meminta keselamatan dan serta kesejahteraan hidup di dunia. Lokasi yang dikunjungi para peziarah terutama tempat yang dianggap keramat seperti petilasan Raden Brawijaya yang dikenal oleh mereka dengan sebutan Sunan Lawu. Selain itu Sendang Derajat dan Telaga Kuning dan sebagainya.

Di Gunung Lawu ini, menurut cerita yang berkembang di masyarakat yang tinggal di kaki gunung, bahwa Raden Brawijaya lari ke Gunung lawu untuk menghindari kejaran pasukan Demak yang dipimpin oleh putranya yang bernama Raden Patah, serta dari kejaran pasukan Adipati Cepu yang menaruh dendam lama kepada Raden Brawijaya.
Konon Raden Brawijaya mukso (menghilang dari dunia nyata tanpa meninggalkan jasad) di Gunung Lawu ini dibuktikan dengan adanya Cungkup serta petilasan-petilasannya di Gunung Lawu ini.


Pengejaran Raden Brawijaya di Gunung Lawu

Menurut kisah, setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, muncul kerajaan Islam yang berkembang cukup pesat yaitu Kerajaan Demak yang dipimpin oleh seorang raja bernama Raden Patah, masih merupakan putra Raden Brawijaya.

Beliau menjadikan Kerajaan Demak menjadi kerajaan besar di Jawa. Pada saat itu Raden Patah bermaksud mengajak ayahnya yaitu Raden Brawijaya memeluk agama Islam, akan tetapi Raden Brawijaya menolak ajakan anaknya untuk memeluk ajaran yang dianut Raden Patah.

Raden Brawijaya tidak ingin berperang dengan anaknya sendiri dan kemudian Raden Brawijaya melarikan diri. Penolakan ayahnya untuk memeluk agama Islam membuat Raden Brawijaya terus dikejar-kejar oleh pasukan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Candi Sukuh
Untuk menghindari kejaran pasukan Demak, Raden Brawijaya melarikan diri ke daerah Karanganyar. Disini Raden Brawijaya sempat mendirikan sebuah candi yang diberi nama Candi Sukuh yang terletak di Dusun Sukuh Desa Berjo Karanganyar. Tetapi belum juga merampungkan candinya, Raden Brawijaya keburu ketahuan oleh pasukan Demak, pasukan Demak dan pengikut-pengikut Raden Patah terus mengejarnya sehingga Raden Brawijaya harus meninggalkan Karanganyar dan meninggalkan sebuah candi yang belum selesai sepenuhnya.

Kemudian Raden Brawijaya melarikan diri menuju kearah timur dari Candi Sukuh. Di tempat persembunyiannya, Raden Brawijaya sempat pula mcndirikan sebuah Candi, tetapi sayang tempat persembunyian Raden Brawijaya akhirnya diketahui oleh Pasukan Demak.


Candi Cetho
Raden Brawijaya melarikan diri lagi dengan meninggalkan sebuah candi yang sampai sekarang dikenal masyarakat dengan sebutan Candi Cetho. karena merasa dirinya telah aman dari kejaran Pasukan Demak, Raden Brawijaya sejenak beristirahat akan tetapi malapetaka selanjutnya datang lagi kali ini pengejaran bukan dilakukan oleh Pasukan Demak tetapi dilakukan oleh pasukan Cepu yang mendengar bahwa Raden Brawijaya yang merupakan Raja Majapahit bermusuhan dengan kerajaan Cepu masuk wilayahnya sehingga dendam lama pun timbul.

Pasukan Cepu yang dipimpin oleh Adipati Cepu bermaksud menangkap Raden Brawijaya hidup atau mati. Kali ini Raden Brawijaya lari ke arah puncak Gunung Lawu menghindari kejaran Pasukan Cepu tapi tak satu pun dari pasukan Cepu yang berhasil menangkap Raden Brawijava yang lari ke arah puncak Gunung Lawu melalui hutan belantara.

Didalam persembunyian di Puncak Gunung Lawu, Raden Brawijaya merasa kesal dengan ulah Pasukan Cepu lalu ia mengeluarkan sumpatan kepada Adipati Cepu yang konon isinya :

Sawijining ono anggone uwong cepu utawi turunane Adipati Cepu pinarak sajroning gunung lawu bakale kengeng nasib ciloko lan agawe biso lungo ing Gunung Lawu. 

( Jika ada orang-orang dari daerah Cepu atau dari keturunan langsung Adipati Cepu naik ke Gunung Lawu, maka nasibnya akan celaka atau mati di Gunung Lawu.)

Dan katanya bahwa sumpatan dari Raden Brawijaya ini sampai sekarang tuahnya masih diikuti oleh orang-orang dari daerah Cepu terutama keturunan Adipati Cepu yang ingin mendaki ke Gunung Lawu, mereka masih merasa takut jika melanggarnya.

So ... how about u ? :D

[]Lovalia - Berbagai Sumber

1 komentar
Label: , , , ,

LEGENDA BLORA - SUMBER LUMPUR KESONGO

Pada suatu hari di belantara hutan Randublatung Ki Joko Linglung datang untuk melakukan pertapaan. Pada pertapaannya itu, Ki Joko Linglung menjelma menjadi seekor ular yang sangat besar. Pertapaan ini memakan waktu bertahun-tahun lamanya, sehingga tubuh ular penjelmaan Ki Joko Linglung tertutup oleh pepohonan dan tanaman merambat. Berdasarkan pesan sang guru, selama bertapa Ki Joko Linglung dilarang makan, kecuali ada sesuatu yang masuk kedalam mulutnya. Dalam pertapaannya, Ular “ Joko Linglung” membuka mulutnya, sehingga terlihat seperti mulut goa.
Suatu ketika, datanglah sepuluh anak pengembala mengembalakan sapinya di daerah tempat Ki Joko Linglung bertapa. Tiba-tiba terjadi hujan lebat sehingga kesepuluh pengembala itu mencari tempat berteduh. Secara tidak sengaja, salah satu dari sepuluh pengembala tersebut ada yang menemukan goa. Kemudian dia mengajak teman-temannya untuk berteduh di goa yang diketemukannya. Namun satu dari teman mereka tidak mau masuk ke dalam goa tersebut.

Pada saat berteduh kesembilan pengembala tersebut tidak menyadari kalau goa tempat mereka berteduh merupakan mulut dari ular penjelmaan Ki Joko Linglung yang sedang bertapa. Di dalam goa kesembilan anak tesebut memukul-mukulkan goloknya ke dinding goa. Dikarenakan terkejut dan kesakitan dengan adanya orang yang masuk ke dalam mulutnya, ular jelmaan Ki Joko Linglung pun menutup mulutnya. Dan kesembilan pengembala tadi pun tertelan ke dalam perut ular penjelmaan Ki Joko Linglung.

Satu teman mereka yang tidak masuk ke dalam mulut goa tersebut kaget melihat kejadian itu. Dan Ki Joko Linglung yang telah kekenyangan setelah memakan kesembilan anak pengembala tersebut mengeluarkan air liur dari mulutnya. Hal tersebut dikarenakan dia telah berpuasa bertahun-tahun lamanya. Air liur Ki Joko Linglung yang jatuh ke tanah (bumi) secara menakjubkan menjadi letupan-letupan sumber lumpur yang keluar dari perut bumi. Setelah merasa kenyang Ki Joko Linglung pun kembali melanjutkan proses pertapaannya dengan masuk ke perut bumi. Sumber lumpur yang keluar dari perut bumi itu, sampai saat ini terus keluar dengan lokasi yang berpindah-pindah.Pada saat tertentu terjadi letupan yang besar dan berlangsung seharian. Masyarakat sekitar menyakini lokasi lumpur yang berpindah-pindah itu merupakan tempat pertapaan Ki Joko Lingkung

Satu anak pengembala yang selamat itu pun pulang ke desanya. Dia kemudian menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama teman-temannya. Tempat semburan lumpur tersebut akhirnya dinamakan Kesongo atau Pesongo yang berasal dari kata apesnya cah songgo (sialnya anak sembilan). Dikarenakan cerita tentang kesaktian Ki Joko Linglung dan tempat pertapaannya tersebut berkembang di masyarakat luas, maka tempat ini pun sampai sekarang merupakan tempat yang banyak dikunjungi orang untuk melakukan ritual permohonan berkah kepada Ki Joko Linglung agar diberi kesuksesan dunia. Dalam setiap kegiatan ritual orang yang akan meminta berkah Ki Joko Linglung selalu membawa susu putih yang diyakini merupakan makanan kesukaan Ki Joko Linglung. Hal tersebut bertujuan agar keinginan peziarah dapat dikabulkan hajatnya oleh Ki Joko Linglung.
Lovalia - Berbagai Sumber

4 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters