Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur - Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur - Sejarah. Tampilkan semua postingan
Label: , , ,

Wisata Jawa Timur : Tugu Pahlawan dan Museum 10 Nopember, Surabaya


 Tugu Pahlawan dan Museum 10 November di Surabaya bisa menjadi destinasi wisata yang bisa memberikan pelajaran bernilai akan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Jadi bagi Anda yang sedang merencanakan liburan ke Surabaya, maka jangan lupa untuk berkunjung ke tempat yang berada di pusat Kota Surabaya ini tepatnya terletak di depan kantor Gubernur Jawa Timur.


Mungkin bagi Anda yang belum pernah mengunjungi tempat paling bersejarah di Kota Surabaya ini akan bertanya-tanya, mengapa tugu tersebut dibangun? Berdasarkan catatan sejarah, Tugu Pahlawan dibangun untuk menghormati para prajurit Surabaya yang gugur di medan perang, kala itu dengan gagah berani berjuang melawan tentara sekutu yang hendak kembali menjajah Indonesia pada tanggal 10 November 1945. Maka dari itu, setiap tanggal 10 November Tugu Pahlawan menjadi pusat 
perhatian untuk mengenang jasa mereka dalam perang kemerdekaan.

Selain itu, jika Anda berkunjung ke tempat ini juga bisa menikmati wisata sejarah lainnya, yaitu 
Museum 10 November. Dalam museum yang sebenarnya dibuka pada tahun 2000 ini tersimpan benda-benda bersejarah terkait dengan perjuangan rakyat Surabaya kala melawan penjajah. Keunikan dari museum tersebut adalah bangunannya yang berbentuk menyerupai piramida, dimana pada bagian tengahnya terdapat tiga patung pemuda yang sedang membawa bambu runcing, sebuah alat perang tradisional yang dipakai saat melawan penjajah.

Saat masuk ke dalam museum, Anda akan disuguhkan dengan suasana yang menggambarkan perjuangan arek-arek Surabaya saat itu. Kemudian akan terdengar rekaman suara Bung Tomo yang sedang berpidato untuk memberikan semangat perjuangan kepada rakyat Srabaya, disana terdapat juga benda koleksi milik Bung Tomo seperti peta dan senjata yang digunakan saat perang melawan para sekutu dan Belanda.

Untuk Anda yang ingin berkunjung ke Tugu Pahlawan untuk menelusuri peristiwa sejarah yang terjadi kala itu, Anda tidak akan dipungut biaya. Sementara apabila Anda mengunjungi Museum 10 November akan dikenakan tarif untuk tiket masuk.

Sejarah Berdirinya Tugu Pahlawan 
Monumen Tugu Pahlawan terletak di pusat kota Surabaya, tepatnya ditengah-tengah antara Jl.Tembakan, Jl. Pahlawan, Jl, Kebun Rojo dan Jl Bubutan. Monumen dibangun dalam bentuk "Paku Terbalik" yang menggambarkan filosofis monumental.
Monumen Tugu Pahlawan didirikan sebagai simbol semangat kepahlawanan Arek-arek Surabaya dalam menghadapi penjajah serta sebagai simbol cagar budaya yang perlu dilestarikan. Monumen Tugu pahlawan memiliki Tinggi 41,15m, diameter bawah 3,1m dan diameter atas 1,3m.
Batu Peletakan pertamanya dilakukan oleh Presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno tanggal 10 November 1951 dengan mengambil lokasi tepat diatas areal bekas Gedung Road Van Justice Belanda, yang pada masa pendudukan jepang  di gunakan sebagai Gedung Kempetai, tempat dimana Kempetai Jepang menahan, mengadili, menghukum dan menyiksa para pejuang. Gedung ini hancur saat terjadi perlawanan Arek-arek Suroboyo melawan pendudukan sekutu, akibat terkena tembakan artileri sekutu.

Latar Belakang Museum 10 November
Museum didirikan sebagai pendukung keberadaan Monumen Tugu Pahlawan dan melengkapi fasilitas sejarah yang ada didalamnya. Bangunan berbentuk pyramid yang di tenggelamkan sedalam 7m di bawah permukaan dan 10 meter diatas permukaan tanah, dengan maksud bangunan museum tidak mendominasi Tugu Pahlawan. 
Musem 10 November resmi dibuka secara soft opening pada tanggal 10 Nopember 1998 oloeh walikota Surabaya Bpk. Sunarto Sumaprawira, sedangkan Grand Opening tanggal 19 Februari 2000 oleh Bpk Presiden Abdurakhman Wahid.

Koleksi yang dipamerkan :
1. Gerbang Bentar
Berupa Candi Bentar sebagai gerbang masuk Utama dengan ketinggian 4,5 m dan lebar 1,7 m

2. Relief
Pada dinding sepanjang areal parkiran terdapat 1 sampai 8 relief yang menggambarkan peristiwa kota surabaya dari masa Hujung galuh hingga masa penyerahan kedaulatan kembali dari tangan Belanda.

3. Patung Proklamator.
Patung Dwi Tunggal Sukarno-Hatta terletak diantara lapangan upacara dan gerbang bentar, pada pedestrial terdapt prasasti berbunyi "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai Pahlawannya."

4. Lapangan Upacara
sebagai tempat untuk memperingati hari 10 November dan 17 Agustus hari proklamasi Bangsa Indonesia.

5. Koleksi Paung Areal Barat
a.) Gubernur Soeryo adalah Gubernur pertama Jawa Timur tahun 1945 yang berperan pada tanggal 10 November 1945.
b.) Doel Arnowo adalah Ketua Komite Nasional Indonesia untuk Surabaya yang ikut berperan pada tanggal 10 November 1945 tersebut.
c.) Bung Tomo adalah tokoh pencetus BPRI (Barisan Pemberontak Republik Indonesia) yang sangat menonjol mengobarkan semangat  juang arek-arek Suroboyo.

6. Monumen Tugu Pahlawan
Jika diperhatiakan secara detail Tugu Pahlawan yang berdiri kokoh dengan ketinggian mencapai 41,15 meter itu seperti bentuk lingga atau paku terbalik, dimana tubuh tugu berbentuk seperti lengkungan sebanyak 10 lengkung yang terbagi atas 11 ruas. Jadi jika digabungkan antara ruas, tinggi dan jumlah lengkungan maka mengandung makna tanggal bersejarah yakni 10-11-1945.

7. Batu Prasasti
Batu ini berasal dari malang bertuliskan "Padamu generasi, tanpa pertempuran Surabaya, Sejarah Bangsa dan Negara Indonesia akan menjadi lain.

8. Areal Patung Pahlawan tak dikenal.
Terletak dibelakang Tugu Pahlawan dikelilingi kolam, dibawahnya terdapat tulang belulang para pejuang yang gugur tanpa nama.

9. Koleksi Museum
Koleksi Museum 10 November bagian dalam terdiri dari: 
a. Ruang Bawah I
Terdapat nama tokoh dan organisasi yang terlibat pertempuran 10 November dan maket tugu Pahlawan.
b. Ruang Bawah II
Terdapat diorama patung, sociodrama pidato Bung Tomo dan koleksi-koleksi tempo dulu.
c. Ruang Auditorium
d. Ruang Diorama Elektronik
Digambarkan peristiwa pertempuran arek-arek Surabaya melawan sekutu hingga sekutu kalah.
e. Ruang Atas I 
- Vitrin I Gambaran Surabaya Tempo Dulu.
- Vitrin II Gambaran Perlawanan Rakyat Surabaya melawan sekutu
- Vitrin III Gambaran akibat pertempuran Rakyat Surabaya melawan sekutu.
- Vitrin IV Gambaran prosesi peletakan dan pendirian  tugu pahlawan
- Senjata : Berbagai macam senjata yang dipakai dari mulai pistol hingga senjata otomatis.
- Radio : Hasil sumbangan keluarga Bung Tomo
- Lukisan : 

f. Ruang Atas II 
- Diorama Statis I : Pembentukan KNI, BKRI, dan TKR serta inseden di hotel Yamato, penyerbuan markas Kempetai.
- Diorama Statis II : Ekspedisi Pulau Nyamuk, Pertempuran 3 hari, perundingan Soekarno dan Hawthorn (30 Okt 1945) dan penolakan arek-arek surabaya terhadap sekutu.

Foto selengkapnya di sini
[]Lovalia - Berbagai 

2 komentar
Label: , ,

WISATA JAWA TIMUR : WISATA RELIGI DI MASJID AGUNG TUBAN

Bukan lagi jualan sandal

Megah Penuh warna
Satu lagi yang menarik dari wisata religi di Tuban adalah mendatangi masjidnya. Masjid Agung Tuban terletak tidak jauh dari alun-alun komplek makam Sunan Bonang dan Museum Kambang Putih. Jangan lupa melancong ke sini! Masjidnya itu subhanallah, indahnya berbeda dengan masjid pada umumnya. Warna warni ada merah, pink, kuning , biru, hijau, putih, hitam cokelat ahhh pokonya kereeennn.
Seperti biasa ketika saya mengunjungi tempat yang luar biasa yang saya cari adalah prasasti sejarahnya. Hmm ternyata awal Masjid Agung Tuban berdiri pada saat Tuban diperintah oleh Raden Ario Tedjo (Syeh Abdurrahman), belum diketahui secara pasti. Pada tahun 1894 saat Tuban diperintah oleh Kusumodigdo Masjid ini mengalami renovasi. Hingga tahun 1985-2004 Masjid Tuban juga mengalami renovasi di beberapa bagian.

Menurut keterangan arkeolog, masjid ini telah mengalami perombakan. Namun sayangnya arsitektur lama yang merupakan kekhasan dari Masjid Tuban tidak dipertahankan dan diubah hingga menjadi seperti saat ini. :( Tapi nggak apa-apa tetap megah dan indah kok.


1 komentar
Label: , ,

WISATA JAWA TIMUR : ADA KEPITING RAKSASA DAN NAGA DI KWAN SING BIO

04092013-kelenteng.jpg 

Nah guys, ini tempat wisata terakhir yang kami kunjungi di Tuban hari ini : KLENTENG KWAN SING BIO. Nggak usah mikir aneh-aneh mengira kami mau numpang sholat Ashar di sini, apalagi ngater Sunti ziarah ke tempat leluhurnya... tidaaakk meskipun iya sih, muka Sunti pantes banget masuk sini hahaha piizzzz :D



Nggak seperti Klenteng batu Sam Po Kong, masuk ke Klenteng kwan Sing Bio GRATISSS tidak dipungut biaya. Kamu cukup perlu meninggalkan KTP aja kepada petugas piket di dekat gerbang masuk.

Nah guys saya pernah melihat dari berita media Klenteng Kwan Sing Bio adalah tempat ibadah Tri Darma yang paling banyak dikunjungi olah para wisatawan, baik dari dalam dan luar kota Tuban, seperti Surabaya dan Semarang, atau bahkan pengunjung dari Singapura, Malaysia dan China.  Wooww kenapa coba ? Mungkin karena GRATIS ? :D hahah ngawur


Kelenteng Kwan Sing Bio memang tampak seperti bangunan kelenteng pada umumnya. Didominasi warna merah, kuning dan hijau  yang  terang   pada bangunannya dengan  banyak hiasan Naga, lampion dan  lilin berbagai ukuran. Dan tentu saja   bau dupa dan hio yang senantiasa menguar dari dalam kelenteng.Namun ternyata ada banyak kisah menarik di kelenteng yang berada sekitar 2 km arah barat dari  pusat kota  ini.

Kelenteng Kwan Sing Bio berada di Jalan  Raya R.E. Martadinata , Tuban – Jawa Timur.  Cukup  mudah menuju  ke kelenteng ini karena lokasinya yang berada di  tepi jalan raya utama jalur Pantai Utara Jawa dengan  banyak angkutan umum yang melintasinya.

Klenteng ini menghadap langsung ke laut lepas dan banyak yang percaya setiap orang yang berdoa di sini akan terkabul doanya. Klenteng Kwan Sing Bio merupakan klenteng yang megah dan salah satu icon di Tuban. Saat Imlek tiba, klenteng ini banyak dikunjungi oleh mereka yang ingin melihat kemeriahan Tahun Baru Cina ini, dimana terdapat pertunjukan barongsai, pertunjukan wayang titi, pesta kembang api hingga atraksi kung fu.



Hiasan Satwa Bermakna Simbolis

Dari banyak artikel yang saya baca Kelenteng Kwan Sing Bio menganut  ajaran Tri Dharma  yaitu Budha, Tao dan Konghucu dengan pemujaan pada dewa utamanya yaitu Dewa Kwan Kong.  Selaras dengan arti nama Kwan Sing Bio yang berarti kelenteng untuk memuja dan menghormati Dewa Kwan Kong.

Sebelum memasuki kelenteng Kwan Sing Bio, sebuah gerbang dengan bentuk khasnya akan menyambut pengunjung kelenteng. Di bagian atas gerbang itu terdapat hiasan seekor kepiting yang berukuran cukup besar. Di Indonesia, hiasan kepiting itu konon cuma  ada di kelenteng ini. Waah kalau begitu saya harus segera membuat kepiting yang lebih besaaarrrr :D

Hiasan kepiting yang seolah menjadi ikon Kelenteng Kwan Sing Bio itu  ternyata berkaitan dengan sejarah awal  kelenteng yang diperkirakan dibangun pada abad 18 ini.  Karena dulunya , lokasi dibangunnya kelenteng ini adalah daerah tambak dengan banyak hewan kepiting hidup dan berkembang biak di sekitarnya.

“ Untuk mengenang bagian dari sejarah tempat awal dibangunnya kelenteng Kwan Sing Bio itulah  kemudian digunakan hewan kepiting sebagai hiasan di kelenteng , “ ujar salah seorang Bapak yang iseng-iseng saya tanyai.
Kwan Sing Bio
Tak hanya itu, hewan kepiting itu ternyata juga bermakna simbolis karena dipercaya dapat memberi perlindungan  pada kelenteng dan umatnya dari pengaruh unsur-unsur jahat sekaligus mengusirnya.

Makna-makna simbolis tentang nilai-nilai kehidupan itu  juga terdapat pada banyaknya hiasan satwa pada beberapa bagian bangunan kelenteng baik yang berupa relief, patung, lukisan dan sebagainya.

Sekitar 5 meter tepat di belakang gerbang, bangunan utama kelenteng Kwan Sing Bio berdiri dengan anggunnya. Di bagian depan kelenteng dan di dalam bangunan utama pada sebelah kanan dan kiri pintu masuk terdapat sepasang patung singa dengan posisi duduk .  Patung singa ini juga bermakna simbolis sebagai kekuatan dan penjaga kelenteng.  Kenapa mereka nggak sewa satpam aja ya buat jaga ?



Nah karena ketika saya berkunjung ke sana Klenteng sedang dipugar di beberapa tempat dan kita nggak boleh masuk, makanya artikel tentang ruangan-ruangan dalam Klenteng ini saya ambil dari berbagai sumber .  Lumayanlah buat tambahan wacana.

Arca Dewa Kwan Kong

Bangunan utama kelenteng Kwan Sing Bio terbagi menjadi 3  bagian ruangan dengan banyak petugas kelenteng yang hilir mudik membantu keperluan umat kelenteng. Ruangan yang pertama di bagian depan untuk membakar dupa dan hio dengan terdapat banyak lilin berbagai ukuran . Di ruangan ini sambil membakar dupa atau hio, umat  kelenteng bersembahyang dengan menghadap utara, ke arah laut.

Sedangkan di ruangan yang kedua yang berada di bagian tengah digunakan untuk melakukan  sembahyang dan juga menaruh buah-buah persembahannya.

Untuk ruangan ketiga yang terdapat di bagian belakang inilah terdapat Arca Dewa Kwan Kong dan arca dewa-dewa lainnya yang dikeramatkan. Umat dan pengunjung kelenteng dilarang keras untuk memotret ruangan ini dengan segala isinya. Waahhh jadi penasaran :D

Di depan arca Dewa Kwan Kong inilah biasanya umat atau pengnjung kelenteng melakukan ritual jiam sie untuk berbagai keperluan seperti kelancaran usaha, kesehatan dan pengobatan atau sekedar  untuk menerawang peruntungan dan nasib pada karir, jodoh dan sebagainya.  

Kompleks kelenteng Kwan Sing Bio memiliki luas areal  sekitar 4-5 hektar dengan berbagai bangunan dan fungsi,  yang menjadikan kelenteng ini dikenal sebagai kelenteng yang paling besar dan luas di Indonesia.

Di sebelah barat  kelenteng terdapat ruangan untuk  pembaca jiam sie,  kantor, berlatih barongsai dan liang-liong,dan  stand souvenir. Sedangkan di sebelah  timur terdapat  ruangan Altar Tri Nabi untuk beribadah umat Tri Darma. Di ruangan ini  terdapat arca  Nabi Khong Hu Cu, Nabi Lao Tze dan Budha Gautama. Di dekat pintu masuknya terdapat   pajangan seekor harimau yang telah diawetkan. Ada juga  panggung mini untuk pementasan kesenian wayang potehi.


Legenda Sembilan Gada Suci

Di belakang bangunan utama kelenteng terdapat taman yang disebut Taman Dua Naga karena disana terdapat patung sepasang  naga.

Yang menarik, di belakang taman itu terdapat  bangunan  Sembilan  Gada Suci untuk menyimpan bendera dan panji-panji, barongsai, dan liang-liong khusus untuk persembahyangan dan pemujaan Dewa Kwan Kong, Di dalam ruangan yang berkaca ini  juga terdapat patung Dewa Kwan Kong yang berukuran cukup besar.

Sementara di bagian luarnya pada sebelah kanan-kiri dan depan terdapat patung-patung para tokoh  pembesar dalam sejarah dan legenda China. Patung-patung itu ditampilkan dengan penggarapan pada ekspresi, detail  dan  warna yang cukup bagus dan menarik.

Di belakang bangunan  Sembilan Gada Suci terdapat ruangan semacam aula  yang cukup luas dengan relief-relief  berisi kisah legenda China  yang berukuran cukup besar  pada dinding di  bagian barat dan timur.

Pada langit-langit ruangan ini terdapat ornament bergambar lambing umat Tri Darma yaitu Swastika ( Budha ) , Yin dan Yang ( Khong Hucu )  dan Genta Rohani ( Konfusius ). Katanya ruangan ini dulunya digunakan sebagai tempat menginap bagi umat atau pengunjung yang ingin bermalam dengan menggelar karpet atau matras yang disediakan oleh pihak kelenteng.

Welcome to my palace :D
Melangkahkan kaki  keluar dari ruangan ini di bagian belakangnya terdapat halaman yang sangat luas. Di halaman inilah terdapat bangunan yang cukup megah laksana istana kaisar China lengkap dengan gerbang, taman , kolam dan jembatan penghubung .

Keren kan ?

Ini istana pribadi saya haha
Di klenteng ini juga ada bangunan yang cukup menarik dan artistik yang digunakan  sebagai panggung terbuka untuk pentas kesenian ala Tionghoa.  Banyak pengunjung yang masuk ke istana ini untuk menikmati keindahannya sambil tak lupa berfoto ria.

Di sebelah barat terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat makan dan dapur umum. Siapapun dan kapan pun boleh makan disana secara gratis dengan jenis makanan  yang disediakan oleh pihak kelenteng.
 
Di belakang  bangunan pangggung kesenian  ini  terdapat bangunan bertingkat yang besar dan   megah dengan hiasan kepiting di bagian atasnya . Seolah  belum lengkap, di  kompleks  kelenteng ini  rencananya juga menyusul akan dibangun Pagoda Sembilan Lantai yang sangat megah.

Selain relief dan patung naga dan singa ,pada beberapa bagian bangunan di kelenteng   juga terdapat relief bergambar burung phoenix ( Feng ), kuda bertanduk atau Unicorn ( Kili ), kuda ( Ma), rusa, bangau dan harimau dengan arti filosofisnya masing-masing.  
The Great Wall

Ada hal yang menarik di  lorong pintu masuk di  sebelah barat kelenteng yang terdapat pilar-pilar berhiaskan relief naga dan burung Hong. Selain itu juga terdapat relief berukuran jumbo dengan  nuansa tiga dimensinya. Relief itu bergambar Candi Borobudur dan Peta Indonesia di dinding sebelah barat, kemudian Tembok raksasa dan peta Republik Rakyat China di dinding sebalah Timur. Hmmm .... mungkinkah ini hubungan yang sangat erat antara Indonesia dan China ?? Kebetulan kami masuk dan keluar melalui pintu ini
 
Borobudur

Republik Indonesia

Republik Rakyat China




Ritual Tolak bala

Kelenteng Kwan Sing Bio sering digunakan sebagai tempat untuk  ritual Ciswak atau Fung Shen . Keduanya adalah ritual untuk membuang sial bagi orang yang sedang bermasalah pada kehidupannya  atau yang merasa shio-nya  jiong ( bertentangan)  dengan tahun yang sedang dijalani.

Kedua ritual itu dilakukan dengan membeli seekor atau beberapa ekor penyu atau kura-kura  dan menuliskan doa-doa dan nama yang bersangkutan pada tempurung (karapas) penyu atau kura-kura dalam huruf  Cina. Ritual dilakukan  di halaman kelenteng oleh petugas pembaca Jiam sie.

[]Lovalia : berbagai sumber


0 komentar
Label: , ,

WISATA JAWA TIMUR : GOA AKBAR, LEGENDA MASA LALU DI TUBAN

Goa Akbar. Terik mentari memapar Bumi Tuban, menemani setiap warganya melanjutkan aktivitas. Di Pasar Baru Tuban, riuh rendah percakapan antara penjual dan pembeli terus menggaung bagaikan orkestra kehidupan yang dinamis. Dan di antara riuh rendah kesibukan itu, empat orang anak muda dengan tampang yang mulai kucel memasuki arena parkir Goa Akbar Tuban. Siapa? Ya iyalah siapa lagi kalau bukan saya, Sunti, Gresninda dan Alfian Kami bertekad minimal hari ini harus dapat mengunjungi tiga atau empat objek wisata di Tuban. udah jauh-jauh re -_-
legenda goa akbar
Goa Akbar
Ini kedua kalinya saya berkunjung ke Goa Akbar. Ketika dulu saya berkunjung saya baru saja menyelesaikan ujian akhir di SMP. Hiks jadi kangen gank kesayangan saya : FIVE GIRL.
wisata goa akbar
Indah kan ?
Oke balik lagi... dan ditengah hiruk pikuk itu ada sebuah tempat yang menjanjikan ketenangan, kedamaian, keheningan, atau apapunlah namanya. Tepat di bawah tanah yang kami pijak, tak lebih dari 10 meter dalamnya, ada sebuah goa yang dinding-dindingnya menyimpan rahasia masa lalu. Goa Akbar namanya, dialah saksi bisu segala kedigdayaan kota Seribu Goa tersebut.  
Goa Akbar memiliki luas 1 hektar dan mengandung kisah religi yang sangat tinggi. Diceritakan, dulu Sunan Bonang mengetahui goa ini atas ajakan Sunan Kalijaga yang saat itu masih dikenal sebagai Brandal Lokajaya.Goa Akbar dijadikan sebagai tempat tinggal Brandal Lokajaya setelah diusir oleh ayahnya, Wilotikto, Bupati Tuban ke-9.
Ketika memasuki goa, Sunan Bonang terpesona dan seketika berucap "Allahu Akbar". Sejak itulah goa yang terletak di tengah Kota Tuban itu disebut Goa Akbar. Versi lain diceritakan, bahwa di sekitar goa banyak dijumpai pohon Abar. Masyarakat setempat kemudian menyebutnya Ngabar. Kata "Ngabar" berasal dari bahasa Jawa yang berarti latihan. Tapi ada juga yang mengatakan goa ini disebut Goa Akbar karena memang goa ini sangat luas sekali. Ah, entahlah mana yang benar yang jelas saya hanyalah wisatawan yang berkewajiban menikmati keindahan wisata itu hahah :D

Oke sip, dalam catatan kali ini saya akan menuliskan kembali sejarah yang saya baca di pintu masuk Goa Akbar ya. Agak-agak versi dikit lah yaaa...
Konon, goa ini pernah menjadi tempat latihan ilmu kanuragan prajurit Ronggolawe, yang ketika itu berencana mengadakan pemberontakan ke Kerajaan Majapahit. Pemberontakan itu disulut oleh ketidakpuasan Ronggolawe atas pelantikan Nambi sebagai Maha Patih Majapahit. Karena seringnya dijadikan tempat latihan, goa dan daerah sekitarnya dijuluki Ngabar, yang kemudian menjadi nama dusun yaitu Dusun Ngabar, Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding. Enak banget ya ngasih namanya.
Dahulu, goa yang diperkirakan berusis 20 juta tahun ini sempat dilupakan dan menjadi tempat pembuangan sampah oleh masyarakat. Namun pada 1998, Pemkab Tuban berinisiatif membersihkan goa ini dan mengelolanya dengan baik.
goa akbar tuban
Pagar Steinless
Kini goa ini diisi berbagai fasilitas. Jauh dari perkiraan wisatawan tentang goa yang gelap dan berbau kotoran kelelawar, kini di dalam goa telah dibangun jalur dari paving block yang dibatasi oleh pagar steinless steel. Selain pagar pembatas, di lintasan sepanjang 1,2 kilometer itu tertempel larangan balik arah, agar pengunjung tidak sampai kebablasan tanpa memperhitungkan keselamatan. Di sana juga terdapat sumber air yang bernama Kedung Tirta Agung. Walaupun memang di beberapa sudut bau kotoran memang sangat menyegat sih -_-
Ruang dalam goa tampak kian menarik dengan dekorasi lampu hias. Sinar lampu itu membantu menampilkan dimensi bebatuan yang mengagumkan.Sepanjang lintasan ini terdapat setidaknya tiga ruang besar semacam hall. Ruang besar ini kerap menjadi terminal pengunjung untuk bersantai sejenak.
Selain itu, di depan musholla terdapat ruang yang sangat luas yang dikenal sebagai Paseban Para Wali, atau tempat para wali menyampaikan fatwa dan ajaran agama. Paseban itu mirip ruang pertemuan. Stalaktit dan stalagmit juga seakan menjadi hiasan ruangan. Itu ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, seakan menjadi podium bagi pembicara. Beberapa tempat di Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah para sunan.
 
Namun, di balik berbagai cerita-cerita yang merupakan percampuran dari berbagai legenda dan kepercayaan itu, Goa Akbar tetap merupakan tempat yang sangat penting. Di samping sebagai tempat wisata, goa ini juga memiliki arti bagi ilmu pengetahuan, baik sejarah, arkeologi, maupun ziarah agama. Jangan sampai goa ini bernasib sama dengan tempat-tempat bersejarah lain yang penuh dengan grafiti modern, atau coretan-coretan tangan.

[]Lovalia

 

0 komentar
Label: , , ,

WISATA JAWA TIMUR : BENTENG VAN DEN BOSCH NGAWI


Wisata sejarah yang saya lakukan kemarin Minggu ialah ke benteng pendem yang ada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Karena boring seperti biasa akhirnya muncullah sebuah ide untuk ke kabupaten ngawi yang jarak tempunya sekitar 1 jam lebih sedikit lah ya dari kota Cepu untuk menuju ke Benteng Van Den Bosch. 

Benteng Pendem itu terletak di tengah-tengah kota Ngawi dekat dengan alun-alun kota Ngawi tepatnya di Kelurahan Pelem. Benteng ini di dirikan pada tahun 1839 - 1845 oleh seorang gubernur belanda yang bernama Van Den Bosch yang di manfaatkan untuk mengatasi serangan dan pengaruh kerajaan mataram di yogyakarta. Selain itu benteng ini dulunya juga digunakan oleh ilmuwan belanda sebagai tempat persinggahan. 


Meskipun telah berusia tua, benteng pendem ngawi masih sangat kokoh. Bangunan ini terdiri dari pintu gerbang utama serta kamar kamar yang digunakan untuk para tentara. Ada sebuah halaman rumput di tengah tengah benteng dan juga ada beberapa tempat yang dulunya digunakan sebagai kandang kuda. Di sekeliling benteng ada gundukan tanah yang memang sengaja dibuat untuk menahan luapan air sungai bengawan solo hal ini pula yang menjadikan benteng ini terkesan terpendam. Parit selebar 5 meter dahulunya juga ada mengelilingi benteng ini, Namun karena sudah lama parit ini sudah tertutup tanah. 

Setelah belanda pergi dari Indonesia benteng ini sempat di gunakan oleh YON Armed 12 sebagai tempat latihan dan di gunakan untuk gudang senjata. Namun benteng ini baru di buka untuk umum pada tahun 2011. Karena sudah tidak di pakai lagi oleh YON Armed 12. Untuk Masuk ke benteng ini di kenakan tarif sebesar Rp. 5000,- @2org + motor. Mr. Tukul jalan-jalan saja sudah pernah kesini loh ayooo yang belum kesini monggo datang sekalian Uji Nyali hehehe. Buat Hunting foto juga seru loh.... Hayoo monggo yang mau pre wedding ala ala Pengantin Belanda atau Pengantin Jawa kuno atau bahkan Pengantin Penjajahan, wahhh pas banget itu.



Meskipun belum terawat sepenuhnya seperti Lawang Sewu yang ada di Semarang, tapi benteng ini tetap menyimpan nuansa Belanda yang kental begitu kamu masuk ke dalamnya.  Bahkan di beberapa titik saya merasakan seolah-olah saya benar-benar berada di tengah-tengah aktivitas zaman Belanda hiiiii agak merinding disko juga sih.

Oh ya, tempat ini juga sering digunakan untuk tempat kumpul komunitas. Kebetulan ketika saya berkunjung ke situ sedang ada acar yang digelar oleh ALL BIKERS PLAT AE yang mengaku FANATIK MOTOR ANTIK. Selain itu ada juga beberapa pengemar fotografi yang hunting foto di benteng tersebut.

Pokoknya berpetualang ke sini asyik deehh ... Bye, saya ngantuk. Istirahat dulu ya.


[]Lovalia

0 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters