Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah - Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah - Sejarah. Tampilkan semua postingan
Label: , , , , , , , ,

Wisata Blora - Monumen Nol Kilometer Cepu Pertamina



Aku memohon perlindungan baginya (Ayatuz Zidni Everesta Apriyonia) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk." (HR. Abu Daud) , Amiin

Moment piknik pertama untuk Zii di tanggal 22 Februari 2021. Piknik tipis-tipis di Kilometer 0 Cepu Pertamina.

Kilometer 0 Cepu Pertamina adalah sebuah objek wisata sejarah berupa monumen yang terletak di Kecamatan Cepu, kabupaten Blora, Jawa Tengah. Tepatnya di Jl. Gajah Mada, Mentul,  Kelurahan Karangboyo, dekat dengan lapangan Bina Patra.

Monumen ini merupakan pengingat bahwa sejarah dunia industri perminyakan di Indonesia yang dikelola oleh Pertamina itu dimulai dari sebuah sumur minyak yang ada di Cepu ini.

Seperti namanya, Monumen Kilometer 0 Cepu Pertamina ini memang dibangun oleh Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, untuk mengingatkan sejarah perminyakan di Cepu. Karena itu pula, Pertamina EP Aset 4 melengkapi Monumen Kilometer 0 dengan monumen Pompa Unit karena arti tersendiri bagi pergerakan bisnis Pertamina.


Selain itu, Pompa Unit ini bisa dijadikan wahana edukasi bagi masyarakat agar mengetahui tahu proses pengangkatan minyak bumi menuju penampungan menggunakan unit pompa ini. Monumen Kilometer 0 Cepu Pertamina juga memberikan pesan untuk senantiasa mengawali hidup ini, untuk terus belajar dan hidup benar. 

Selain monumen, di sini juga ada taman yang dilengkapi tempat bersantai dan beberapa koleksi burung. Sebelum pandemi mendera, setiap malam minggu sering ada pertunjukan seni di sini lho. Semoga pandemi ini lekas berakhir ya, amiin...


Sudah pernah ke sini kak?

 #PesonaIndonesia

#IndonesiaIndah 

#WonderfulIndonesia 

#IndoTraveller 

#TrueClimber 

#TheROKer

#BloraTheExplorer 

#MyShafarMySyiar 

#DiaryPendaki 

#CatatanPerjalanan 

#BackpackerIndonesia 

#HijabTraveller

#Wisatakuliner

#wisatablora

#Cepueksis

#WisataBelanja

#Kulinerblora

#EksploreBlora

#PasarBlora

#PasarTradisional

#Pertamina

#Patuhprotokolkesehatan

#LawanCorona

#Kedungtuban 

#Blora

#JawaTengah 

#VisitIndonesia 

#Indonesia

#Bayilucu

#MyBaby

0 komentar
Label: , , , , , ,

LEGENDA BLORA : LEGENDA KEDUNGPUTRI RANDUBLATUNG

Konon ini adalah tempat mandi Putri Citrowati
Kedung Putri adalah suatu situs budaya yang pada masa lalu sampai sekarang banyak menyimpan misteri, bahkan berbau mistik yang konon menurut cerita tempat ini sering dipakai mandi oleh Citro Wati putri raja Purwocarito yang cantik Jelita.
Kedung Putri terletak di sebelah utara Kecamatan Randublatung, kurang lebih 10 km dari pusat kota Randublatung, tepatnya di hutan petak 52 RPH Gumeng BKPH Temanjang, KPH Randublatung. Secara administrative turut wilayah Desa Tanggel Kecamatan Randubaltung Kab. Blora.
Begitu kentalnya muatan mistik di lokasi ini menjadikannya cukup terkenal di Randublatung. Legenda Kedung Putri dimulai pada jaman dulu dimana terdapat suatu daerah yang bernama Negara Purwocarito (sekarang Desa Gumeng) yang dipimpin oleh seorang raja bernama Dian Gondo Kusumo dengan permaisuri Loro Girah, Pasangan raja dan permaisuri ini dikarunia 3 orang  anak yaitu  Citro Menggolo, Citro Kusumo dan Citro Wati.
Masing-masing keturunan raja Dian Gondo Kusumo diberikan kekuasaan untuk memimpin tiga kerajaan. Masing-masing adalah Citro Menggolo kerajaanya di Mlumpang (sekarang Desa Trembes), Citro Kusumo kerajaannya di Bale Kambang (sekarang Desa Temetes) dan Citro Wati kerajaanya di Purwocarito (sekarang Desa Gumeng).
Salah seorang dari ke tiga anaknya yaitu Citro Wati mempunyai paras yang  cantik jelita. Karena kecantikannya itu maka banyak putra raja yang lain atau dari golongan bangsawan tertarik dan ingin meminang Citro Wati. Sampai pada akhirnya Putri Citro Wati  dilamar oleh 2  raja, yaitu Begede Katong dari kerajaan Pandan (Sekarang Desa Njetak Wanger,Ngawen) dan Jonggrang Prayungan dari kerajaan Atas Angin. Kedua raja tersebut akhirnya perang untuk merebutkan Cito Wati. Keduanya belum ada yang kalah dan menang dalam peperangan tersebut. Akhirnya Citro Wati datang dan menolak keduanya (Begede Katong dan Jonggrang Prayungan).
Karena merasa ditolak, Begede Katong marah dan mendatangkan angin ribut untuk menghancurkan negara Purwocarito. Akibatnya negara Purwocarito luluh lantah rata dengan tanah.
Situs Banyu Tes
Beberapa hari kemudian Begede Katong tidak putus asa walapun cintanya di tolak. Dia tetap berangkat menuju kerajaan Purwocarito untuk melamar Citro wati. Sesampainya di suatu tempat dataran tinggi, Begede Katong melihat Citrowati sedang mandi di sendang, begitu melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Citrowati, birahi Begede Katong memuncak dan meneteslah air maninya, yang sekarang menjadi Banyu Tes, di dukuh Temetes. ”Sendang tetes” tersebut sampai sekarang dipercaya oleh masyarakat bisa menyembuhkan impotensi dan membangkitkan libido bagi kaum pria apabila mandi di tempat tersebut.
Jati Denok
Setelah itu Begede Katong melanjutkan perjalan kembali. Sesampainya di Gunung Serangkang, dia bertemu dengan Jonggrang Prayungan musuh bebuyutannya, dan keduanya saling berperang lagi. Keduanya berperang saling membunuh sehingga menyebabkan semua perangkat untuk melamar yang dibawa oleh Begede Katong berserakan dan terlempar jauh ke tempat lain. Tempat upeti (Bokor Kencono) terlempar ke Desa Pengkol (Kec. Banjarejo) yang dinamakan Kedung Bokor, Sirih (bahasa jawanya Suruh) terlempar ke Desa Banyuurip yang dinamakan Suruhan, Gemblongnya (dodol) yang teriris–iris terlempar ke Desa Temetes yang dinamakan Tiris, sedangkan emban yang membawa Bokor Kencono bernama Denok meninggal dan dikubur dengan di tandai Pohon jati yang sampai sekarang jati tersebut masih hidup dan dinamakan “Jati Denok”. Walaupun Begede Katong memaksa melamar, Cito Wati tetap tidak mau menerima lamaran Begede Katong. Meskipun ditolak cintanya, Begede Katong tidak mau kembali ke negaranya. Gilaaa setia bangeetttt
Citro Wati mempunyai kebiasaan yang setiap hari tidak pernah ditinggalkannya yaitu mandi di sungai (Kedung) yang sekarang dinamakan Kedung Putri. Begede katong memanfaatkan situasi tersebut yaitu dengan merubah dirinya menjadi ikan gabus (Kutuk) dan masuk ke dalam sungai. Pada saat Citro Wati mandi di sungai, ia melihat ikan gabus (kutuk) yang sebenarnya adalah  jelmaan Begede Katong. Citro Wati sangat  senang melihat ikan tersebut dan ia pun bermain di sungai (kedung) itu tanpa curiga sedikitpun akan keberadaan ikan tersebut. Karena seringnya bermain dengan  ikan gabus (kutuk) tersebut, tanpa disadari ia bercinta dengan ikan gabus jelmaan Begede katong yang pada akhirnya menyebabkan Citro Wati hamil.
Citro Kusumo kakak Citro Wati marah melihat adiknya hamil tanpa diketahui siapa yang menghamili adiknya. Citro Wati tidak boleh melahirkan secara normal tetapi harus melalui perut sebelah kiri. Perut Citro Wati ditusuk dengan keris oleh Citro Kusumo dan keluarlah dari perut Citro Wati anak ikan gabus (Kutuk). Keanehan yang terjadi pada anak Citro Wati  menjadikannya sebuah larangan bagi masyarakat dusun Gumeng bahwa mereka tidak boleh makan ikan gabus (kutuk) karena itu merupakan darah dagingnya Citro Wati. Karena ditusuk perutnya, Citro Wati pingsan dan tidak sadarkan diri. Citro Wati diseret oleh Cito Kusumo dan di siram air. Akhirnya Citro Wati sadar dan air yang dipakai untuk menyiram Citro Wati dinamakan Banyuurip.
Banyu Urip
Sampai sekarang banyuurip masih tetap ada dan selalu dijaga keberadaanya karena dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit.
Setelah kejadian itu, Citro Wati berjanji tidak akan kawin sebelum ketemu Joko Sayuto dengan pengapit Joko Santoso. Citro Wati semedi di sungai (kedung Putri) sambil menunggu Joko Sayuto dan Joko Santoso.
Cerita Legenda yang masih melekat pada Kedung Putri, bagi masyarakat dusun Gumeng merupakan salah satu peninggalan sejarah yang harus dijaga, baik lokasi, peninggalan-peninggalannya maupun nilai-nilai spiritualnya.
Saat ini, tradisi yang dilakukan masyarakat dusun Gumeng di Kedung Putri adalah upacara sedekah bumi. Tujuannya adalah untuk meminta berkah dan keselamatan bagi dusun Gumeng dan daerah sekitarnya. Terkadang ada juga yang melakukan ritual khusus di tempat ini yaitu memberikan sesaji yang tujuannya untuk meminta kekayaan (pesugihan)
[]Lovalia : Berbagai Sumber
Note : karena penulis adalah pemuda yang terlahir di era modern jauh sebelum kisah ini terjadi, maka mohon kiranya jika ada kesalahan/ kekurangan dalam penulisan ini pembaca bisa meluruskan dan mengoreksi secara bijak

7 komentar
Label: , , ,

WISATA BLORA : SITUS CAGAR BUDAYA PURWOSUCI KEDINDING, KEDUNGTUBAN

Kawasan ini dapat dikategorikan sebagai kawasan wisata spiritual dan arkeologis.  Merupakan sebuah situs cagar budaya yang terletak di Dukuh Kedinding, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban sekitar 43 Km ke arah tenggara dari Kota Blora, tepatnya di puncak sebuah bukit kecil, tidak jauh dari situs prasejarah yang terletak di bawahnya.

Secara astronomis, situs Purwosuci berada pada 07° 08′ 50,7″ LS dan 111° 30’18,0″ BT.  Mudah dijangkau kendaraan roda dua ataupun roda empat sampai ke jalan desa, serta jalan kaki sambil menikmati pemandangan alam untuk mencapai ke makam dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 500 m karena letaknya berada di puncak perbukitan..

Sumberdaya arkeologi di desa ini meliputi dua situs yang berasal dari kurun waktu yang berbeda, yaitu masa prasejarah dan masa Islam.

Lingkungan situs berupa tegalan yang secara aktif digarap oleh penduduk, dimana pernah ditemukan fosil hewan purba dan budaya manusia purba berupa alat serut dari bahan batu balsedon. Fosil dan budaya manusia purba tersebut berada di lingkungan endapan pasir dengan struktur silang siur di atas lapisan pasir konglomeratan yang merupakan teras sungai. Secara umum, situs yang secara keruangan sangat terbuka ini tidak tampak adanya perawatan maupun perlindungan khusus.

Sedang secara geografis Desa Kedinding berada di lembah dari dua bukit yang berbeda, yaitu Gunung Purwosuci dan Gunung Kedinding.  Di kedua lokasi tersebut, terdapat situs spiritual  yang berbeda sifat mitologisnya yang cukup terkenal dan hingga hari ini masih secara rutin diziarahi oleh masyarakat se-Kabupaten Blora. Makam Purwosuci berbentuk batu dengan ukuran halaman makam ± 49 m berada diatas perbukitan. Bangunan makam dibelilingi oleh dua lapis pagar khas era kerajaan Jawa kuno. Pagar luar berukuran 11 m X 8,80 m dibuat dengan batu-batu berukuran bolder dengan spesi pasir, gamping, dan semen merah.

Sementara pagar dalam berukuran 5,5 m X 4 m dibuat dengan bata berspesi pasir, gamping, dan semen merah. Walaupun telah rusak namun kekunaan makam masih tampak cukup jelas. Jirat makam dibuat dengan balok-balok batu putih, dan pada salah satu makam (sebelah barat) pada bagian sudut dasar jirat dilengkapi dengan ornamen berbentuk seperti antefiks candi. Sementara nisannya terbuat dari batu berbentuk empat persegi panjang dan selalu yang ditutupi/dibungkus dengan kain putih.

Menurut informasi juru kunci makam (plawangan) yaitu P. Rois, tokoh yang dimakamkan di Lokasi ini adalah Hadiwijaya dan istrinya Puspasariraji. Hadiwijaya adalah Tumenggung Panolan semasa Arya jipang (Arya Penangsang). Namun, menurut sumber lain,  makam Purwo Suci adalah makam seorang Adipati Panolan sesudah Ario Penangsang bernama Pangeran Adipati Noto Wijoyo. Di dalam halaman tersebut juga terdapat makam Nyai Tumenggung Noto Wijoyo. Karena jasa-jasanya yang sampai saat ini masih dikunjungi masyarakat untuk tujuan tertentu bahkan pernah dipugar oleh Bupati Blora pada tahun 1864 dengan memakai sandi sengkolo, Karenya Guna Saliro Aji (1864). . Sedangkan di Gunung Kedinding kemungkinan merupakan pagar dari petilasan yang sekarang telah runtuh termakan zaman. Lokasi petilasan disekelilingnya ditumbuhi jenis pohon rimba yang berusia tua dan berdiameter besar dengan kondisi penutupan tajuk yang rapat.
 


Makam Purwo Suci bisa diakses dengan kendaraan roda empat sampai ke jalan desa, dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 500 meter. Sepanjang perjalanan kita akan ditemani pemandangan alam yang hijau dan asri. Kebun-kebun petani pun telihat sedap dipandang. Sebagian besar petani bertanam ketela pohon dan membuat kita seolah berada di perkebunan di luar daerah Blora.

Sekitar pertengahan tahun 2013 kompleks pemakaman ini mendapat renovasi. Kini makam tidak berada di tempat terbuka melainkan pada sebuah pondok kecil yang dikunci. Hal ini dapat dipahami karena banyak sekali pengunjung yang merusak makam. So... cintai warisan leluhur yaa ... tangannya jangan nakal.

Saya dan kawan-kawan sering sekali hangout ke tempat yang satu ini sekedar untuk hangout atau bahkan kegiatan organisasi.


Lovalia : Berbagai Sumber

0 komentar
Label: , , , , , , , , , ,

Legenda Blora : Asal-usul Kemantren - Wado dan Pernikahan Terlarang Di Wilayah Blora Selatan

Kemantren dan Wado adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Sejak kecil saya sering mendengar cerita dari orang-orang dewasa bahwa ada sebuah tradisi di mana warga desa Wado dilarang untuk menikah dengan warga desa Kemantren. Setelah saya beranjak remaja, saya yang memang menyukai hal-hal berbau tradisi, mistis dan legenda, mencoba mengumpulkan cerita dari berbagai sumber, tentang tradisi ini. Tulisan ini dikumpulkan dari berbagai sumber, jika ada versi lain, atau ada ketidaksesuaian dengan pendapat dan pengetahuan pembaca, semoga berkenan untuk mengoreksi dengan cara yang santun. Selamat membaca ....



Tentang Desa Kemantren

Diceritakan oleh sesepuh Desa Kemantren, beliau munuturkan bahwa waktu zaman penjajahan Belanda banyak mantri hutan yang ditugaskan di daerah ini. Waktu itu keadaannya masih hutan belantara dan mereka ditugaskan untuk membuka hutan untuk perluasan pemukiman. Bahkan banyak dari mereka yang menetap di daerah ini. Maka untuk mengenang bahwa tempat ini sebagai tempat berkumpulnya mantri hutan apabila kelak di daerah ini sudah ramai dan menjadi sebuah desa maka mereka memberinama “Desa Kemantren”.

Secara geografis, Desa Kemantren emang cukup jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Kedungtuban. Jarak Desa Kemantren sendiri dengan kecamatan Kedungtuban ± 6 km. jarak Kabupaten kota yakni Kabupaten Blora adalah ± 42 km. Sedangkan jarak Desa Kemantren dengan propinsi jawa tengah adalah ± 171 km. Desa Kemantren memiliki batas wilayah yakni di sebelah utara bebatasan dengan Desa Bajo dan Desa Ngeloram, untuk sebelah selatan berbatasan dengan sungai gelandangan, sebelah barat berbatasan dengan Desa Sidorejo, Desa Wado, Desa Pulo dan Desa Tanjung, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Desa Klagen dan Desa Panolan. 

Asal-usul Desa Wado
Riwayat dan asal-usul yang diceritakan oleh para tokoh-tokoh masyarakat dan para tetua adat tentang Desa Wado adalah sebagai berikut, Hal ini bermula pada  kurun waktu -+ 2,5 Abad yang lalu, di tempat yang masih berupa hutan belantara dan masih sedikit sekali penghuninya, datanglah seorang Bangsawan yaitu Putra dari Raden Danang Sutowijoyo Sultan Mataram yang saat itu berkuasa, beliau Raden Mas Ronggo Kusumo dimana beliau adalah seorang yang sakti mandraguna dan seorang Senopati (panglima Perang ) yang handal dan ahli strategi tempur. Namun Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut mempunyai sifat-sifat yang jelek dan jahat sehingga tidak disukai oleh Paduka Ayahanda Kanjeng Sultan .Sehingga Ayahanda Kanjeng sultan tidak akan menggantikan kedudukanya nanti Kepada Raden Mas Ronggo Kusumo, sebaliknya karena prilaku Putranya itu Kanjeng Sultan ingin mencari upaya untuk membunuh Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut. Dengan dalih bahwa didaerah hutan Panolan (yang sekarang adalah Desa Panolan) yang berjarak + 3,5 Km dari Desa Wado terjadi suatu kerusuhan yaitu ada seekor ular besar yang selalu memangsa semua penghuni serta membuat kekisruhan di wilayah hutan Panolan Tersebut. Maka oleh Ayahanda Kanjeng Sultan Mataram memrintah Putranya yaitu Raden mas Ronggo Kusumo tersebut untuk menangkap dan membunuh ular tadi. Namun semua itu adalah taktik upaya dari Sultan karena ular tersebut adalah penjelmaan dari Ratu Laut Pantai Selatan atau Nyi Roro kidul, yang ditugaskan Sultan untuk membunuh Raden Mas Ronggo Kusumo,yang nantinya akan menggantikan Singgasana Kerajaan  Mataram.

Berangkatlah Raden Mas Ronggo Kusumo ke wilayah hutan Panolan untuk membasmi ular besar tersebut. Tibalah beliau di hutan (yang sekarang Desa Wado) untuk mengadakan persiapan-persiapan penyerbuan. Sebelum terjadinya penyerbuan besar-besaran ke hutan panolan Raden Mas Ronggo Kusumo mengadakan persiapan baik itu bidang persenjataan dan latihan-latihan beladiri (ulah kanuragan), setelah persiapan dirasa sudah cukup dan sudah matang maka dengan berpakain lengkap kebesaran pimpinan prajurit dan diikuti prajurit secukupnya maka berangkatlah untuk berperang melawan ular besar di hutan panolan, pakaian kebesaran yang dimaksud adalah: Parang, uluk dan kalung. Ular tersebut kalah, namun hal itu hanya untuk meneter (mengetes) kedigdayaan atau kesaktian dari Raden mas Ronggo Kusumo saja, karena ular tersebut sudah mengetahui secara pasti titik kelemahan dari Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut.

Pada Perang berikutnya segera saja ular tersebut mengigit telinga dan sumping dari Raden Mas Ronggo Kusumo yang merupakan titik lemah ( pengapesan ) darinya. Sehingga mundur kembali ke Posnya Desa Wado bersama iring-iringan seluruh prajurit dengan menjerit meng-ADUH jatuhlah ia maka pesan terakhir kalau nanti ramainya Desa maka dinamakanlah WADO. Adapun tempat jatuhnya di kemudian hari dikenal menjadi sebuah Tempat Pemakaman Umum yang lazim disebut Makam Ronggolawe Wado. Demikian sekilas cerita asal-usul dari Desa Wado yang berasal dari tetua dan tokoh-tokoh secara turun temurun yang diyakini kebenarannya dari sumber cerita tersebut.

Secara geografis, meskipun Desa Wado cukup jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Kedungtuban, tetapi desa ini menjadi jantungnya kecamatan Kedungtuban. Hal itu dikarenakan adanya pasar besar yang menjadi pusat perekonomian rakyat, selain itu stasiun kereta api serta berbagai jenis usaha dan industri ada di desa ini. Jarak Desa Wado sendiri dengan Kecamatan kedungtuban adalah ± 5 km dan . jarak dengan Kabupaten Blora adalah ± 50 Km. Sedangkan jarak Desa Wado dengan Propinsi Jawa Tengah adalah ±175 km. Desa Wado memiliki batas wilayah yakni di sebelah utara bebatasan dengan Desa Pulo, Desa Tanjung dan Desa Bajo, untuk sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sidorejo danDesa Gondel, sebelah barat berbatasan dengan Desa Sumber, kecamatan Keradenan 90Sejarah Desa Wado kec.Kedungtuban kab. Blora 91Observasi di Kantor Kelurahan Desa Wado Kec.Kedungtuban Kab.Blora 5 Desember 2016. 61 dan sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Desa Kemantren.


Sejarah terjadinya Larangan Perkawinan antar Desa

Larangan dalam adat perkawinan antara Desa Kemantren dan Desa Wado yaitu masyarakat desa Kemantren tidak boleh melakukan perkawinan dengan masyarakat desa Wado begitupula sebaliknya. Larangan perkawinan ini sudah ada sejak zaman dahulu dan diyakini hingga masa modern ini.

Sejarah tentang terjadinya larangan perkawinan antar masyarakat desa Kemantren dan masyarakat desa Wado ini konon dimulai dengan adanya perkelahian antara seorang pedagang atau penjual yang konon terjadi di pasar desa Wado. Perkelahian itu dimenangkan oleh masyarakat desa Wado dan setelahnya ia berikrar kepada anak cucunya tidak boleh menikah dengan masyarakat desa Kemantren. 

Versi lain menceritakan, bahwa suatu hari seorang pemuda desa Wado hendak melamar putri dari desa Kemantren. Berkenaan dengan hal ini, orang tua si pemuda berpesan, ketika nanti datang agar jangan disuguhi ikan lele. Namun, ketika sampai di rumah caln besan, ternyata terdapat suguhan ikan lele. Orang tua si pemuda pun bertitah, "Kelak anak cucuku jangan ada yang menikah dengan orang Kemantren!". 

Dalam adat, larangan perkawinan tersebut, masih berjalan sampai sekarang ini dan masyarakat Kemantren dan Wado sangat memegang teguh hukum adat tersebut.


Sebuah Solusi

Bagi yang akan melanggar baik laki-laki maupuun perempuan, harus tinggal dan menjadi penduduk desa lain di luar Desa Kemantren dan desa Wado.  Dalam larangan perkawinan antar warga Desa Kemantren dan Desa Wado Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora, masyarakat berpedoman dengan kepercayaan yang dipelajari dan diterapkan untuk menjadi landasan hukum selanjutnya, karena sebelumnya sudah pernah terjadi sesuatu hal-hal yang tidak di inginkan (musibah), setelah melakukan perkawinan antar warga Desa Kemantren dan Desa Wado.

Sanksi dan Konsekuensi

Sanksi bagi yang akan melanggar larangan perkawinan antara Desa Kemantren dan Desa Wado, mereka harus pindah dari desa mereka agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu ada sebuah mitos bagi yang melanggar larangan perkawinan antar Desa Kemantren dan Desa Wado salah satu di antara si laki-laki dan si perempuan mereka akan meninggal segera setelah pernikahan dan apabila tidak terjadi apa-apa di antara keduanya, kemungkinan itu biasa berdampak kepada salah satu di antara orang tua si laki-laki atau perempuan mereka yang akan meninggal.

Demikianlah salah satu kultur unik yang masih diyakini dan dipegang teguh oleh masyarakat Blora khususnya Warga Desa Wado dan Desa Kemantren Kecamatan Kedungtuban. Apabila kita tidak sependapat dengan hal ini, hendaknya kita sampaikan dengan bahasa yang santun tanpa perlu melukai hati orang lain. Hukum adat dan nilai-nilai kekeluargaan yang di miliki masyarakat desa kemantren dan desa wado sejak dahulu memiliki keampuhan untuk tetap menjaga persatuan dalam relasi yang majemuk. Setiap kehidupan dan kegiatan didasarkan pada hukum adat memberi peluang kepada setiap individu untuk tunduk kepadanya dan percaya bahwa hukum yang ada merupakan suatu yang sakral dan punya kekuatan. Hukum adat menjamin hak-hak asasi, harkat dan martabat manusia, adanya penghargaan yang tinggi terhadap individu, kelompok, dan nilai kehidupan manusia.


[]Alia Machmudia - Berbagai Sumber

 


1 komentar
Label: ,

Wisata Jawa Tengah : Lawang Sewu Semarang

Foto diambil dari Tugu Muda Semarang
Semarang - terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.

Ini ketiga kalinya saya mengunjungi tempat bersejarah peninggalan Belanda, Lawang Sewu. Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu

Kemegahan Lawang Sewu dari  halaman
Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Jika pengunjung memasukkan bangunan utama, mereka akan menemukan tangga besar ke lantai dua. Di antara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. Semua struktur bangunan, pintu dan jendela mengadaptasi gaya arsitektur Belanda. Dengan segala keeksotisan dan keindahannya Lawang Sewu ini merupakan salah satu tempat yang indah untuk Pre Wedding.

Lawang Sewu Pasca Pemugaran:

Nuansa Belanda sangat kental terasa
Setelah cukup lama lawang sewu seperti tak terurus, akhirnya Lawang Sewu dilakukan pemugaran yang memakan waktu cukup lama, akhirnya selesai pada akhir Juni 2011 dan kembali dibuka untuk umum setelah pada tanggal 5 Juli 2011 diresmikan oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dan dilanjutkan dengan event Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang menampilkan produk-produk tradisional dari seluruh Nusantara.


 

Berapakan sebenarnya jumlah pintu dari Lawang Sewu?

Seribu pintu .. magic
Seperti Kepulauan Seribu yang jumlah pulau yang sebenarnya tak sampai 1.000, karena tercatat hanya 342 buah pulau saja. Sebutan “Sewu” [Jawa: Seribu], merupakan penggambaran sedemikian banyaknya jumlah pintunya. Menurut guide lawang sewu, jumlah lubang pintunya terhitung sebanyak 429 buah, dengan daun pintu lebih dari 1.200 (sebagian pintu dengan 2 daun pintu, dan sebagian dengan menggunakan 4 daun pintu, yang terdiri dari 2 daun pintu jenis ayun [dengan engsel], ditambah 2 daun pintu lagi jenis sliding door/pintu geser).

Sejarah Lawang Sewu:

Foto diambil dari lantai dua
Sejarah gedung ini tak lepas dari sejarah perkeretaapian di indonesia karena dibangun sebagai Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) yaitu kantor pusat NIS, perusahaan kereta api swasta di masa pemerintahan Hindia belanda yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia menghubungkan Semarang dengan “Vorstenlanden” (Surakarta dan Yogyakarta) dengan jalur pertamanya Jalur Semarang Temanggung 1867.

Awalnya administrasi NIS diselenggarakan di Stasiun Semarang NIS. Pertumbuhan jaringan yang pesat diikuti bertambahnya kebutuhan ruang kerja sehingga diputuskan membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh pada lahan di pinggir kota dekat kediaman Residen Hindia Belanda, di ujung selatan Bodjongweg Semarang. Direksi NOS menyerahkan perencanaan gedung ini kepada Prof Jacob F Klinkhamer dan B.J Ouendag, arsitek dari Amsterdam Belanda.

Pelaksanaan pambangunan dimulai 27 Februari 1904 dan selesai 1907. Kondisi tanah di jalan harus mengalami perbaikan terlebih dahulu dengan penggalian sedalam 4 meter dan diganti dengan lapisan vulkanis. Bangunan pertama yang dikerjakan adalah rumah penjaga dan bangunan percetakan, dilanjutkan dengan bangunan utama. Setelah dipergunakan beberapa tahun, perluasan kantor dilaksanakan dengan membuat bangunan tambahan pada tahun 1916 – 1918.

Pada tahun 1873 rel kereta api pertama di Hindia Belanda selesai dibangun. Jalan itu dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij (NIS), suatu perusahaan swasta yang mendapat konsesi dari pemerintah kolonial untuk menghubungkan daerah pertanian yang subur di Jawa Tengah dengan kota pelabuhan Semarang (Durrant, 1972). Stasiun di Semarang yang berada di tambaksari tidak jauh dari pelabuhan.

Ini aula yang katanya jadi tempat menjatuhkan vonis, lantai 3
Pada peralihan abad ke-20 NIS membangun stasiun stasiun baru yang besar. Pada tahun 1914 stasiun Tambaksari digantikan oleh Stasiun Tawang. Sebelumnya pada tahun 1908 selesai dibangun pula kantor pusat NIS yang baru, bangunan itu berada di ujung jalan Bodjong, di Wilhelmina Plein berseberangan dengan kediaman gubernur.

Kantor pusat NIS yang baru itu adalah bangunan besar 2 lantai berbentuk “L” yang dirancang oleh J.F Klinkhamer dan Ouendag dalam gaya Renaissance Revival (Sudrajat,1991). Menurut Sudrajat pembangunan kantor pusat NIS di Semarang adalah tipikal 2 dasawarsa awal abad 20 ketika diperkenalkan politik etis, ketika itu “… Muncul kebutuhan yang cukup besar untuk mendirikan bangunan bangunan publik dan perumahan, akibat perluasan daerah jajahan, desentralisasi administrasi kolonial dan pertumbuhan usaha swasta”.

Penduduk Semarang memberinya nama “Lawang Sewu” (pintu seribu), mengacu pada pintu pintunya yang sangat banyak, yang merupakan usaha para arsiteknya untuk membangun gedung kantor modern yang sesuai dengan iklim tropis Semarang. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa kecuali batu bata, batu alam dan kayu jati.

Pada saat yang bersamaan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) berusaha mengambil alih kereta api, pertempuran pecah antara pemuda dan tentara Jepang, belasan pemuda terbunuh di gedung ini, 5 diantara mereka dimakamkan di halaman (tetapi pada tahun 1975 jenazah mereka dipindah ke Taman Makam Pahlawan). Di depan Lawang Sewu berdiri monumen untuk memperingati mereka yang gugur di Pertempuran Lima Hari.

Sesaat setelah kemerdekaan Lawang Sewu digunakan Kantor Perusahaan Kereta Api, kemudian militer mengambil alih gedung ini, tetapi sekarang telah kembali ke tangan PT KAI.

Lihat foto-foto kunjungan saya ke Lawang Sewu ---> DI SINI

Lovalia
Sumber artikel : http://seputarsemarang.com
Photo's by " Abby 

0 komentar
Label: ,

Wisata Jawa Tengah : Tugu Muda Semarang

Semarang - Tugu Muda Semarang terletak di tengah persimpangan Jalan Pandanaran, Jalan Mgr Sugiopranoto, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda dan Jalan Dr. Sutomo. Sebelah Utara Tugu Muda ini terdapat Gedung Pandanaran di sebelah Timur terdapat Lawang Sewu, di sisi selatan berhadapan dengan Museum Mandala Bhakti, serta di sebelah barat Tugu Muda terdapat Wisma Perdamaian.
Kemegahan Tugu Muda Semarang
Air Mancur ini bikin suasana adem
Tugu Muda merupakan sebuah monumen bersejarah kota Semarang yang dibangun untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang melawan penjajah Jepang. Tugu Muda ini menggambarkan tentang semangat berjuang dan patriotisme warga semarang, khususnya para Remaja yang gigih, rela berkorban dengan semangat yang tinggi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia pada Umumnya dan mempertahankan kota Semarang pada khususnya. Tugu Muda didirikan atas prakarsa Koordinasi Pemuda Indonesia. Namun, karena mengalami sebuah kendala dalam pendanaan, akhirnya rencana inipun gagal. Pada tahun 1951 dibentuklah Panitia Tugu Muda yang diketuai Subeno Sosro Wardoyo (Walikota Semarang pada saat itu). Desain Tugu Muda sendiri dirancang oleh Salim, sedangkan pada bagian relief dikerjakan oleh seniman yang bernama Hondro.

Mengambil foto Lawang Sewu dari Tugu Muda
Kini Tugu Muda dijadikan sebuah tempat berkumpul oleh kawula muda Semarang untuk berkumpul, bercanda, photo-photo pada malam hari, terutama Malam Minggu di area Tugu Muda Semarang sangat ramai.
Dari angel manapun tetap keren
Lovalia
Sumber : http://seputarsemarang.com
Photo's by : Abby

0 komentar
Label: , ,

Album Foto : Memories Of Lawang Sewu

Memories bersama kawan-kawan Jurusan Desain Grafis dan Multimedia dan juga kawan-kawan Jurusan Komputer Akuntansi 
bulan Mei tahun 2012







Foto bareng cewek-cewek jurusan Desain grafis dan cewek-cewek akuntansi

Foto bareng Mr. Maco

Di penjara bawah tanah


Sebagian foto liburan bareng dedek Musa , Ahad 2 Maret 2014


Foto pemugaran Lawang Sewu

Adekkuuuuu

Miniatur Lawang Sewu

Eropa Bangeettt

Keren kan :D

Kereta tua yang menghubungkan Semarang-Blora jaman dahulu kala

Naik kereta tua tuuutt tuuut tuuut


Hunting foto bersama kakak Abby , Ahad 9 Maret 2014

 
Lawang Sewu : Foto diambil dari Tugu Muda Semarang

Lawang Sewu : Foto diambil dari Tugu Muda Semarang

Lawang Sewu : Foto diambil dari Tugu Muda Semarang

Gaya Arsitek yang luar biasa megah

Lawang Sewu dengan kedua sayap membentang

Lantai tiga lawang sewu berupa ruangan kosong yang luas seperti aula

Ada bekas-bekas garis lapangan bulutangkis di sini

Icon Lawang Sewu adalah pintu yang magic ini
Pintu yang memiliki sense magic ini pas banget buat foto apapun


Di teras lantai dua Lawang Sewu

Seperti bisa merasakan zaman Belanda menjajah Indonesia
 
Pintu-pintu ini memiliki empat daun pintu

Merupakan icon wisata Lawang Sewu

Lokomotif kereta uap

Lokomotif kereta uap

Miniatur Lawang Sewu di dalam kaca
Photos by : Abby

1 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters