Tampilkan postingan dengan label Blora - Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blora - Tradisi. Tampilkan semua postingan
Label: , , ,

Seni Budaya Blora : Wayang Krucil

Wayang merupakan budaya khas dan asli dari Indonesia terutama di pulau jawa,sebagian wilayah wilayah yang terletak di pulau Jawa memiliki ciri khas Wayangnya sendiri,terutama Kota Blora.Kota ini memiliki wayang yang unik yaitu Wayang Krucil,wayang yang satu ini memiliki perbedaan dari yang lainnya,yaitu dari bahan dan bentuknya,wayang yang ini cenderung lebih kecil dari wayang lainnya,dan karena bentuknya yang kecil dan bagus,membuat orang yang menontonnya akan tertarik.
Sumber Foto : www.infoblora.com

Selain seni Barongan,Blora masih memiliki seni yang tidak kalah denganny,termasuk adalah Wayang Krucil ini,pementasan wayang ini biasanya dilakukan setiap hari hari besar seperti HUT RI,Sedekah Bumi dan lainnya

Namun banyak masyarakat yang hampir melupakan kebudayaan ini.Wayang ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan wayang-wayang lainnya,dan pada saat di tengah tengah pertunjukan,biasanya terjadi dialog antara dalang,wayang,dan penyinden yang mementaskan wayang ini,dan berikut adalah para tokoh-tokoh pewayangan yang ada di dalam wayang krucil :

  • Damarwulan
  • Menakjingga
  • Layangseta
  • Layang Kumitir
  • Logender
  • Prabu Kencanawungu
  • Patih Udara
  • Wahita
  • Puyengan
  • Adipati Sindura
  • Menak Koncar
  • Ranggalawe
  • Buntaran
  • Watangan
  • Anjasmara
  • Banuwati
  • Panjiwulung
  • Sabdapalon
  • Nayagenggong
  • jaka Sesuruh
  • Prabu brawijaya
  • Angkatbuta
  • Ongkotbuta
  • Dayun
  • Melik
  • Klana Candrageni
  • Klanasura
  • Ajar Pamengger
  • Dewagung Walikrama
  • Dewagung Baudenda
  • Daeng Marewah
  • Daeng Makincing
Tokoh yang digunakan termasuk tokoh yang sangat unik dan sangat banyak,serta tokoh yang ada di dalam wayang krucil ini memiliki sifat atau karakter yang berbeda beda dan beragam,maka dari itu wayang yang satu ini tidak mudah membuat bosan orang yang menontonnya.Namun sekarang ini sudah sangat menurun yang meminati pementasan Wayang Krucil  ini,mungkin hanya sebagian saja yang masih berminat untuk menonton pertujukan ini.Serta para pengerajin wayang krucil ini juga sudah berkurang tahun demi tahun,hal ini bisa jadi disebabkan oleh menurunnya para peminat wayang krucil sehingga para pengerajin sudah tidak lagi membuat atau menghasilkan wayang wayang krucil.

Wayang ini mempunyai sejarah yang sangat besar,jenis wayang ini adalah jenis yang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah diwilayah pulau jawa terutama pada Jawa Tengah dan sangat berkembang pesat dari zaman ke zaman,namun belakangan ini kesenian wayang sudah tidak lagi diminati serta telah tergeser oleh budaya budaya asing dari luar negeri.Marilah kita lestarikan budaya budaya Indonesia salah satunya adalah Wayang Krucil.

Sekian ulasan yang dapat saya berikan,semoga bermanfat bagi anda.Terima kasih sudah membaca ulasan ini dan marilah kita lestarikan budaya Indonesia.
[]Lovalia : Berbagai Sumber

0 komentar
Label: , , ,

KESENIAN BLORA : TAYUBAN

Tayuban merupakan kesenian yang tradisional lainnya dari seni Barongan dan Wayang Krucil,seni ini sangat dominan dengan tarian tarian penari yang sangat teratur dan para penabuh gendang yang mengiringi iramanya dengan serempak sehingga terciptanya kesenian yang sangat dinamin san sangat indah untuk disaksikan.Seni Tayuban mempunyai arti tersendiri yaitu Tayub,tayub menurut bahasa artinya "ditoto guyub" dan dalam seni ini sangat kental dalam pelaksanaanya,arti kental disini adalah dalam proses kesenian tayuban tidak pernah berubah sejak dulu hingga sekarang,jadi tidak ada perbedaan dalam proses pelaksanaannya tidak ada yang berbeda dari dulu.

Dalam Kesenian Tayuban ini,sifat kekeluargaan dan persaudaraan sangat dijunjung tinggi jadi salah satu manfaat dari kesenian ini adalah mempererta tali persaudaraan dan kekeluargaan masyarakat Blora.Biasanya kesenia Tayub akan dilaksanakan pada saat menerima tamu tamu besar dan terhormat serta para wanita yang menjadi penari akan menyerahkan sampur atau selendang yang dikenakan atas petunjuk pengarih,para tamu akan menari bersama dengan para penari,Tamu ini disebut juga "ketiban sempur" yang berarti orang yang akan diserahi sampur oleh para penari wanita
Bapak Bupati sedang menari tayub pada Hari Jadi Kota Blora.

Sifat yang paling meninjol dari Tayuban sendiri adalah sifat kekeluargan dan persaudaraannya,dan juga sangat merakyat dikalangan orang dewasa sampai anak anak,dan juga kaum orang kaya dan kamu orang miskin,semuanya mengenali seni Tayub ini.Seni Tayub ini merupakan acara penghormatan kepada para tamu tamu besar dan terhormat,para wanita menarikan tarian tarian khas dari tari ini mulai dari gayanya yang lemah lembut dan krancak,dan yang paling unik dari seni ini adalah turut menarinya para penonton atau tamu yang menghadiri, sehingga menimbulkan sifat persaudaraan yang kuat.

Namun,seiring perkembangan zaman dan arus globalisasi yang sangat deras,sama seperti kesenian Wayang Krucil dan Barongan,kesenian ini mulai perlahan terkikis dari hati masyarakat,hanya orang tertentu saja yang masih meminati kesenian ini,karena seni Tayub sendiri sudah tergeser dengan budaya budaya asing dari luar negeri,kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya turut melesatrikan kesenian ini,jangan sampai seni Tayub ini punah dan tidak bisa dinikmati oleh anak cucu kita,mari kita lestarikan seni ini.

Sekian ulasan saya mengenai Seni tayuban Dari Blora,semoga berguna bagi anda dan mari lestarikan budaya ini.Terima kasih sudah membaca ulasan saya kali ini.
 
[]Lovalia
Berbagai Sumber 

0 komentar
Label: , , , , , , , , , ,

Legenda Blora : Asal-usul Kemantren - Wado dan Pernikahan Terlarang Di Wilayah Blora Selatan

Kemantren dan Wado adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Sejak kecil saya sering mendengar cerita dari orang-orang dewasa bahwa ada sebuah tradisi di mana warga desa Wado dilarang untuk menikah dengan warga desa Kemantren. Setelah saya beranjak remaja, saya yang memang menyukai hal-hal berbau tradisi, mistis dan legenda, mencoba mengumpulkan cerita dari berbagai sumber, tentang tradisi ini. Tulisan ini dikumpulkan dari berbagai sumber, jika ada versi lain, atau ada ketidaksesuaian dengan pendapat dan pengetahuan pembaca, semoga berkenan untuk mengoreksi dengan cara yang santun. Selamat membaca ....



Tentang Desa Kemantren

Diceritakan oleh sesepuh Desa Kemantren, beliau munuturkan bahwa waktu zaman penjajahan Belanda banyak mantri hutan yang ditugaskan di daerah ini. Waktu itu keadaannya masih hutan belantara dan mereka ditugaskan untuk membuka hutan untuk perluasan pemukiman. Bahkan banyak dari mereka yang menetap di daerah ini. Maka untuk mengenang bahwa tempat ini sebagai tempat berkumpulnya mantri hutan apabila kelak di daerah ini sudah ramai dan menjadi sebuah desa maka mereka memberinama “Desa Kemantren”.

Secara geografis, Desa Kemantren emang cukup jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Kedungtuban. Jarak Desa Kemantren sendiri dengan kecamatan Kedungtuban ± 6 km. jarak Kabupaten kota yakni Kabupaten Blora adalah ± 42 km. Sedangkan jarak Desa Kemantren dengan propinsi jawa tengah adalah ± 171 km. Desa Kemantren memiliki batas wilayah yakni di sebelah utara bebatasan dengan Desa Bajo dan Desa Ngeloram, untuk sebelah selatan berbatasan dengan sungai gelandangan, sebelah barat berbatasan dengan Desa Sidorejo, Desa Wado, Desa Pulo dan Desa Tanjung, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Desa Klagen dan Desa Panolan. 

Asal-usul Desa Wado
Riwayat dan asal-usul yang diceritakan oleh para tokoh-tokoh masyarakat dan para tetua adat tentang Desa Wado adalah sebagai berikut, Hal ini bermula pada  kurun waktu -+ 2,5 Abad yang lalu, di tempat yang masih berupa hutan belantara dan masih sedikit sekali penghuninya, datanglah seorang Bangsawan yaitu Putra dari Raden Danang Sutowijoyo Sultan Mataram yang saat itu berkuasa, beliau Raden Mas Ronggo Kusumo dimana beliau adalah seorang yang sakti mandraguna dan seorang Senopati (panglima Perang ) yang handal dan ahli strategi tempur. Namun Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut mempunyai sifat-sifat yang jelek dan jahat sehingga tidak disukai oleh Paduka Ayahanda Kanjeng Sultan .Sehingga Ayahanda Kanjeng sultan tidak akan menggantikan kedudukanya nanti Kepada Raden Mas Ronggo Kusumo, sebaliknya karena prilaku Putranya itu Kanjeng Sultan ingin mencari upaya untuk membunuh Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut. Dengan dalih bahwa didaerah hutan Panolan (yang sekarang adalah Desa Panolan) yang berjarak + 3,5 Km dari Desa Wado terjadi suatu kerusuhan yaitu ada seekor ular besar yang selalu memangsa semua penghuni serta membuat kekisruhan di wilayah hutan Panolan Tersebut. Maka oleh Ayahanda Kanjeng Sultan Mataram memrintah Putranya yaitu Raden mas Ronggo Kusumo tersebut untuk menangkap dan membunuh ular tadi. Namun semua itu adalah taktik upaya dari Sultan karena ular tersebut adalah penjelmaan dari Ratu Laut Pantai Selatan atau Nyi Roro kidul, yang ditugaskan Sultan untuk membunuh Raden Mas Ronggo Kusumo,yang nantinya akan menggantikan Singgasana Kerajaan  Mataram.

Berangkatlah Raden Mas Ronggo Kusumo ke wilayah hutan Panolan untuk membasmi ular besar tersebut. Tibalah beliau di hutan (yang sekarang Desa Wado) untuk mengadakan persiapan-persiapan penyerbuan. Sebelum terjadinya penyerbuan besar-besaran ke hutan panolan Raden Mas Ronggo Kusumo mengadakan persiapan baik itu bidang persenjataan dan latihan-latihan beladiri (ulah kanuragan), setelah persiapan dirasa sudah cukup dan sudah matang maka dengan berpakain lengkap kebesaran pimpinan prajurit dan diikuti prajurit secukupnya maka berangkatlah untuk berperang melawan ular besar di hutan panolan, pakaian kebesaran yang dimaksud adalah: Parang, uluk dan kalung. Ular tersebut kalah, namun hal itu hanya untuk meneter (mengetes) kedigdayaan atau kesaktian dari Raden mas Ronggo Kusumo saja, karena ular tersebut sudah mengetahui secara pasti titik kelemahan dari Raden Mas Ronggo Kusumo tersebut.

Pada Perang berikutnya segera saja ular tersebut mengigit telinga dan sumping dari Raden Mas Ronggo Kusumo yang merupakan titik lemah ( pengapesan ) darinya. Sehingga mundur kembali ke Posnya Desa Wado bersama iring-iringan seluruh prajurit dengan menjerit meng-ADUH jatuhlah ia maka pesan terakhir kalau nanti ramainya Desa maka dinamakanlah WADO. Adapun tempat jatuhnya di kemudian hari dikenal menjadi sebuah Tempat Pemakaman Umum yang lazim disebut Makam Ronggolawe Wado. Demikian sekilas cerita asal-usul dari Desa Wado yang berasal dari tetua dan tokoh-tokoh secara turun temurun yang diyakini kebenarannya dari sumber cerita tersebut.

Secara geografis, meskipun Desa Wado cukup jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Kedungtuban, tetapi desa ini menjadi jantungnya kecamatan Kedungtuban. Hal itu dikarenakan adanya pasar besar yang menjadi pusat perekonomian rakyat, selain itu stasiun kereta api serta berbagai jenis usaha dan industri ada di desa ini. Jarak Desa Wado sendiri dengan Kecamatan kedungtuban adalah ± 5 km dan . jarak dengan Kabupaten Blora adalah ± 50 Km. Sedangkan jarak Desa Wado dengan Propinsi Jawa Tengah adalah ±175 km. Desa Wado memiliki batas wilayah yakni di sebelah utara bebatasan dengan Desa Pulo, Desa Tanjung dan Desa Bajo, untuk sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sidorejo danDesa Gondel, sebelah barat berbatasan dengan Desa Sumber, kecamatan Keradenan 90Sejarah Desa Wado kec.Kedungtuban kab. Blora 91Observasi di Kantor Kelurahan Desa Wado Kec.Kedungtuban Kab.Blora 5 Desember 2016. 61 dan sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Desa Kemantren.


Sejarah terjadinya Larangan Perkawinan antar Desa

Larangan dalam adat perkawinan antara Desa Kemantren dan Desa Wado yaitu masyarakat desa Kemantren tidak boleh melakukan perkawinan dengan masyarakat desa Wado begitupula sebaliknya. Larangan perkawinan ini sudah ada sejak zaman dahulu dan diyakini hingga masa modern ini.

Sejarah tentang terjadinya larangan perkawinan antar masyarakat desa Kemantren dan masyarakat desa Wado ini konon dimulai dengan adanya perkelahian antara seorang pedagang atau penjual yang konon terjadi di pasar desa Wado. Perkelahian itu dimenangkan oleh masyarakat desa Wado dan setelahnya ia berikrar kepada anak cucunya tidak boleh menikah dengan masyarakat desa Kemantren. 

Versi lain menceritakan, bahwa suatu hari seorang pemuda desa Wado hendak melamar putri dari desa Kemantren. Berkenaan dengan hal ini, orang tua si pemuda berpesan, ketika nanti datang agar jangan disuguhi ikan lele. Namun, ketika sampai di rumah caln besan, ternyata terdapat suguhan ikan lele. Orang tua si pemuda pun bertitah, "Kelak anak cucuku jangan ada yang menikah dengan orang Kemantren!". 

Dalam adat, larangan perkawinan tersebut, masih berjalan sampai sekarang ini dan masyarakat Kemantren dan Wado sangat memegang teguh hukum adat tersebut.


Sebuah Solusi

Bagi yang akan melanggar baik laki-laki maupuun perempuan, harus tinggal dan menjadi penduduk desa lain di luar Desa Kemantren dan desa Wado.  Dalam larangan perkawinan antar warga Desa Kemantren dan Desa Wado Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora, masyarakat berpedoman dengan kepercayaan yang dipelajari dan diterapkan untuk menjadi landasan hukum selanjutnya, karena sebelumnya sudah pernah terjadi sesuatu hal-hal yang tidak di inginkan (musibah), setelah melakukan perkawinan antar warga Desa Kemantren dan Desa Wado.

Sanksi dan Konsekuensi

Sanksi bagi yang akan melanggar larangan perkawinan antara Desa Kemantren dan Desa Wado, mereka harus pindah dari desa mereka agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu ada sebuah mitos bagi yang melanggar larangan perkawinan antar Desa Kemantren dan Desa Wado salah satu di antara si laki-laki dan si perempuan mereka akan meninggal segera setelah pernikahan dan apabila tidak terjadi apa-apa di antara keduanya, kemungkinan itu biasa berdampak kepada salah satu di antara orang tua si laki-laki atau perempuan mereka yang akan meninggal.

Demikianlah salah satu kultur unik yang masih diyakini dan dipegang teguh oleh masyarakat Blora khususnya Warga Desa Wado dan Desa Kemantren Kecamatan Kedungtuban. Apabila kita tidak sependapat dengan hal ini, hendaknya kita sampaikan dengan bahasa yang santun tanpa perlu melukai hati orang lain. Hukum adat dan nilai-nilai kekeluargaan yang di miliki masyarakat desa kemantren dan desa wado sejak dahulu memiliki keampuhan untuk tetap menjaga persatuan dalam relasi yang majemuk. Setiap kehidupan dan kegiatan didasarkan pada hukum adat memberi peluang kepada setiap individu untuk tunduk kepadanya dan percaya bahwa hukum yang ada merupakan suatu yang sakral dan punya kekuatan. Hukum adat menjamin hak-hak asasi, harkat dan martabat manusia, adanya penghargaan yang tinggi terhadap individu, kelompok, dan nilai kehidupan manusia.


[]Alia Machmudia - Berbagai Sumber

 


1 komentar
Label: , ,

TRADISI BLORA : GAS DESO

Membaca judulnya mungkin yang terlintas di benak pembaca tak jauh dari pengeboran atau gas bumi :D . Eiitss tapi jangan terkecoh, karena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan gas gas apapun.

Kabupaten Blora adalah sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Tengah bagian timur. Kabupaten Blora berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati di utara, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) di sebelah timur, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di selatan, serta Kabupaten Grobogan di barat. Separuh dari wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan. Daratan rendah di bagian tengah umumnya merupakan area persawahan. Sehingga pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Blora.

Masyarakat Blora memiliki sebuah tradisi yang sangat unik yaitu Tradisi Sedekah Bumi yang lebih umum disebut Manganan atau Gas Deso . Sedekah Bumi (Bersedekah kepada Bumi) adalah tradisi tahunan berupa Selamatan atau Bacak’an dengan membawa makanan dan sesaji ke kuburan dan atau tempat-tempat lainnya yang dianggap keramat. Biasanya tradisi ini dilakukan pada bulan selo (Bulan Jawa) dan setiap tradisi ini digelar pasti ada hiburan berupa “Tayuban”. Ini dimaksudkan agar tradisi ini semakin meriah dan tidak mengurangi kesyahan tradisi ini.

Tradisi Sedekah Bumi ini seakan sudah membudaya di seluruh warga, sehingga sulit untuk dihilangkan. Banyak dari warga mengatakan bahwa tradisi ini adalah tradisi dari nenek moyang, maka tradisi ini harus selalu diselenggarakan setiap tahunnya agar tradisi ini tidak hilang. Masyarakat menyakini apabila tradisi ini tidak diselenggarakan, maka akan terjadi suatu musibah. Mungkin hal ini yang mendasari bahwa tradisi Sedekah Bumi ini harus selalu diselenggarakan oleh warga.

Sedekah bumi atau gas deso biasanya disambut suka cita oleh masyarat. Mereka merayakannya dengan membuat nasi tumpeng dan jajanan khas daerah seperti dumbeg, pasung, tape, bugis dan lain sebagainya.

Lalu nasi tumpeng dan jajanan khas tersebut dibawa ke balai desa, sumur (sendang), atau makam tokoh desa yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat setempat sebagai tempat untuk menggelar acara tersebut dan didoakan oleh pemuka agama. Usai dioakan nasi tumpeng dan jajanan dimakan secara ramai-ramai oleh masyarakat yang merayakan acara sedekah bumi itu. 
 
Sebagian masyarakat beranggapan tradisi ini tidak mencerminkan ajaran agama Islam dan merupakan ajaran dari agama hindu yang masih tertinggal di diri masyarakat. Walaupun begitu tetap saja banyak masyarakat yang masih menyelenggarakan tradisi ini, yang notabenenya sebagian besar masyarakat yang menyelengarakan tradisi ini adalah masyarakat yang beragama islam. Tradisi ini sudah dianggap oleh warga sebagai tuntunan atau sebuah tradisi yang sudah melekat dan sulit dihilangkan hanya dengan sekejap saja pada diri masyarakat.

Tradisi Sedekah Bumi juga dapat dikatakan sebagai hari berbagi rejeki atau makanan karena setiap tradisi ini diselenggarakan pasti diikuti dengan ater-ater (Saling membagikan makanan ke rumah-rumah tetangga dan sanak saudara). Oleh karena itu mungkin kelebihan dari tradisi ini adalah adanya sifat saling berbagi, rasa saling peduli dan sifat kekeluargaan yang tinggi. Jadi mungkin karena ini juga yang membuat tradisi ini tetap ada dan tetap dipertahankan hingga sekarang.

Dengan masih adanya tradisi Sedekah Bumi ini membuktikan bahwa sejarah tidak akan pernah mati atau terlupakan selama manusia masih bisa menghargai budayanya sendiri.

Terlepas dari budaya sedekah bumi.. intinya kita sebagai generasi penerus bangsa harus menjaga dan melestarikan setiap budaya yang kita miliki agar tidak hilang dan terus ada sebagai warisan budaya dan sebagai simbol negara kita. Selain itu kita harus pintar-pintar memilih dan memilah mana budaya yang baik dan mana budaya yang tidak baik. Karena apabila kita salah memilih pasti kita akan terjerumus sendiri. Oleh karena itu mari kita lestarikan budaya yang baik dan tinggalkan budaya yang tidak baik.
 
[]Lovalia
Berbagai Sumber 

0 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters