Tampilkan postingan dengan label Petualangan - Pendakian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan - Pendakian. Tampilkan semua postingan
Label: ,

Renungan Hari Gunung Internasional


Peringatan setiap tanggal 11 desember hanyalah simbolis, 'penghargaan' tahunan teruntuk gunung-gunung di berbagai belahan dunia. Kesempatan ini diperingati untuk semakin menumbuhan kesadaran manusia tentang pentingnya gunung bagi kehidupan, sebagai anugerah sekaligus bencana, rumah bagi flora dan fauna, tempat melestarikan budaya dan juga sebagai daya tarik wisata.

Namun, sebesar apapun jasa gunung bagi manusia, seindah apapun gunung dipandang mata, sebagian manusia awalnya memproklamirkan diri sebagai penjelajah namun setelah dimabuk oleh 'pesona' gunung berubah haluan menjadi seorang penjajah. Tak sedikit gunung-gunung dijarah, digunduli, di komersialisasi secara berlebihan dan ditumpuki sampah.

Belum lagi tragedi kecelakaan berujung maut pada saat mendaki gunung yang beberapa kejadian diakibatkan oleh kurangnya persiapan semakin hari semakin santer terdengar. Kematian sangat dekat di tempat yang selama ini dipuja-puji sebagai 'surga'. Ya, surga berbahaya tersebut bernama gunung.

Gunung memang tak punya hati, tapi dia patuh terhadap Sang Pencipta dan Gunung sangatlah rapuh maka itulah kepedulian manusia dibutuhkan. Selamat Hari Gunung bagi kawan-kawan yang selama ini mengexpresikan kepeduliannya terhadap gunung dimanapun, sebesar atau sekecil apapun usaha kalian seperti membawa turun sampah pribadi dikala berwisata gunung sangatlah berdampak besar.
-
Semoga kedepannya gunung tidak hanya dianggap sebagai objek tanah dan bebatuan yang menumpuk, lebih dari itu, ada tanggung jawab besar dari generasi ke generasi manusia agar kelestariannya dapat tetap terjaga. Salam lestari.

[]Lovalia Inspired By : #gunungindonesia

0 komentar
Label: , , , ,

Wisata Blora : Puncak Suroyudan , Pesona Kebun Matahari

Matahariku

Satu lagi destinasi wisata lokal Blora yang layak masuk daftar rekomendasi kamu saat hendak berpetualang di Kabupaten Blora. Wisata ini terletak di wilayah utara kecamatan Jepon yang pastinya seru banget untuk dikunjungi. Wisata tersebut digugusan Pegunungan Kendeng dan berada diketinggian sekitar 300 mdpl. 

Lokasi ini merupakan Kebun Bunga Matahari di Puncak Suroyudan. Tepatnya terletak di  Ds Soko di seberang jalan pemandian Sayuran. Tidak perlu bingung mencarinya karena menuju lokasi ada papan penunjuk jalan Lur.

Berasa di negeri dongeng
Murah meriah, cukup bayar parkir Rp 2.000,- anda bisa jalan kaki menyusuri lereng bukit. Jalan menanjak sekitar ketinggian 20 meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 10 menit. Bunga Matahari yang berada di kebun seluas 3000 meter persegi ini tampak syahdu menyambut kedatangan pengunjung. Lokasi yang indah untu kamu para pecinta fotografi atau yang ingin pre wedding di sini. :D

Bila hendak  berlibur ke Kebun Bunga Matahari nan cantik ini tidak perlu repot bawa bekal aneh aneh. Bila lelah karena kepanasan dan perut kondisi keroncongan, di seberang jalan dari lereng bukit kebun matahari ini ada resto baru yang menawarkan pesona landscape alam Blora yang menakjubkan, yaitu Warung Dhuwur Blora (WDB).

So, selamat liburan Lur ...
Pemandangan Puncak Suroyudan

[]Lovalia 
Berbagai Sumber

0 komentar
Label: ,

Pendakian Gunung Prau 2.565 mdpl Tapal Batas 3 Kabupaten

Welcome Dieng Plateau

Gunung Prau atau Prahu memang pendek, kadang hanya dilirik sebelah mata oleh pendaki Indonesia, tapi coba rasakan sensasi dalam pelukannya, gunung yang terkenal dengan sebutan Gunung Seribu Bukit.

Hanya memiliki ketinggian 2.565 mdpl, memang tergolong pendek dan juga tidak terkenal seperti gunung2 disekitarnya, ada Sindoro,Sumbing, Slamet, Unggaran, dll. Tapi gunung ini memiliki pesona tersendiri yang tidak kalah dengan gunung2 yang lebih terkenal dikalangan pendaki Indonesia.

Karena bentuk gunung ini memanjang, jadi secara administratif Gunung Prau yang berada di Dataran Tinggi Dieng ini meliputi wilayah Kab. Banjarnegara, Kab. Wonosobo, Kab. Batang dan Kab. Kendal. Di Campa reannya pun terdapat patok batas wilayahnya.

Gunung ini dapat ditempuh melalui beberapa Jalur Alternatif Pendakian. Lewat Jalur utara, bisa melalui Kabupaten Kendal, Semisal dari Desa Kenjuran yang berada di Kecamatan Sukoreja. Jarak tempuh perjalanan kurang lebih 6 Jam.

Alternatif lain jalur pendakian bisa dilakukan melalui Jalur selatan, yaitu lewat Dataran Tinggi Dieng atau Desa Patak Banteng. Jalur inirelatif lebih singkat, hanya sekitar 2-3 Jam perjalanan yang jalurnya lumayan terjal. Dan ... taraaa jalur inilah yang menjadi pilihan kami untuk mendaki pada 20-21 September 2014 kemarin :)

Track log diatas adalah hasil tracking dari awal start pendakian sampai turun. Untuk lebih jelasnya lihat dibawah mengenai waypoint-waypoint yang terdapat pada track log diatas.

DESA PATAK BANTENG
Perjalanan panjang dari Cepu 19 September 2014 jam 9 malam dan kami tiba di Wonosobo 20 September 2014 jam 12 siang. Karena rehat dulu di beberapa tempat.

Menuju Desa Patak Banteng dapat dicapai dari kota Wonosobo. Jalur ini yang kami pilih, mengingat jarak tempuh yang singkat untuk sampai ke camp areanya sekitar 3 jam saja. 

POS I : Sikut Dewo
POS I
Pos 1 ditandai dengan papan nama "Sikut Dewo" wuiihhh sikutnya dewa kayak apa ya? Ya mungkin kayak di sini lah ya. Pos 1 Gunung Prau tidak seperti kebanyakan gunung pada umumnya, mengingat ketinggian gunung tidak seberapa, wajar saja kalau dari Pos 1 ini suasana kota masih bisa nampak, bahkan deru kendaraan dan adzan pun sayup-sayup masih terdengar.

POS II
Kira2 berjalan 1 jam yang tidak ada bonusnya, sampailah di Pos II, kondisi pos tidak terdapat bangunan berupa shelter ataupun pondokan


POS III
Tidak jauh dari Pos II sampailah di Pos III, kondisi sama seperti Pos II, tidak terdapat bangunan. Dari Pos III ke camp Area sudah tidak jauh lagi dan jalurnya semakin terjal, lumayan buat menguras tenaga yang kurang tidur nih. Adrenalin yang terpacu seakan bisa ditenangkan oleh bunga-bunga kecil yang bermekaran di sepanjang trek sempit dan curam. Apalagi kami tiba di jalur ini menjelang senja, jadi panorama semakin manis dan eksotis.

My Lovely Team : NGAKAKPALA

CAMP AREA GUNUNG PRAU
Di belakangku ituuu semua tenda, semua manusia , banyaknyaaaa :D
Saya menyebutnya demikian, karena tempat inilah tujuan utama para pendaki, dari camp area ini kita dapat melihat tanpa halangan (kalo ga ada kabut) Gunung Sindoro Sumbing di depan mata, dan dikejauhan Gunung Merapi & Merbabu. Kami tiba di area ini tepat ketika adzan maghrib berkumandang ( Heloo .. sumpah adzannya bener-bener kedengeran dari sini). Ketika kami sampai ratusan tenda sudah berdiri, maklum Gunung Prau memang jadi pilihan utama bagi para pecinta alam di sekitar Dieng Plateau untu menghabiskan weekend. Ehhhh tapi jangan salah, banyak juga yang dari luar provinsi bahkan dari luar pulau lho. Karena meskipun tingginya tidak seberapa, tapi pemandangannya itu lho, kereeeennnn banget. Apalagi ketika pagi tiba. Kami mendirikan tiga tenda, menunaikan ibadah sholat, makan daaan,,,,,,, melihat bintang. Asli, keren banget. 




Kenal nggak kenal asal bawa bendera IPM, ajak foto aja daaahh :D

AREA PADANG SABANA & BUKIT TELETUBIES
Pagi tiba. Apalah yang jadi tujuan para pendaki kalau bukan melihat sunrise dan melihat awan-awan bermunculan laksana di negeri impian. Moment foto-foto, sudah pasti :D Pemandangan yang benar-benar luar biasa. Berbagai puncak seolah saling berlomba untuk terlihat lebih tinggi. Begitu indah, begitu rapi ciptaan Sang Illahi. Setelah puas berfoto-foto, kemudian perjalanan turun. Jalur turun tidak melewati jalur naek, tapi melewati Padang Sabana, Bukit Teletubies, Menara Repeater dan berakhir di Desa Dieng Kulon.


MENARA REPEATER
Kira-kira berjalan sekitar 1 jam, sampailah di Menara Repeater milik pemerintah kab Jawa Tengah, ada yang punya perhutani, operator seluler, dll.

DESA DIENG KULON
Dari Menara Repeater, menuju Desa Dieng Kulon sekitar 1 jam, dengan jalur menurun terus dengan jalur bervariasi dari terjal hingga landai. Dari sini juga dapat melihat Komplek Candi Arjuna Dieng yang terkenal itu.


TELAGA WARNA
Jalan lupa mampir ke Telaga Warna

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Foto selengkapnya Pendakian Gunung Prau ---> Klik di sini

2 komentar
Label: ,

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN 2.050 MDPL VIA JALUR MAWAR

Gunung Ungaran 2.050 mdpl
Gunung Ungaran terletak di Selatan-Barat Daya kota Semarang, Jawa Tengah. Gunung ini mempunyai tinggi 2.050 mdpl. Bukan angka yang fantastis memang, tapi cukup menguras tenaga juga karena walaupun jalur pendakiannya yang singkat, namun medannya yang berbatu dan sulit. Rute pendakian gunung ungaran bisa ditempuh lewat dua jalur, yaitu jalur Mawar dari pasar Jimbaran dan jalur Medini lewat Boja Kendal, dimana kedua jalur tersebut akan bertemu di pertigaan kebun teh Peromasan, sebagian orang ada yang menyebutnya "Goa jepang". Jalur pulang pun bisa ditempuh dengan kembali ke jalur keberangkatan atau turun melewati Gedong Songo Bandungan, Ambarawa.

Memasuki sebuah warung makan, kita pesan menu makan malam yang simpel saja tapi cukup untuk mengganjal perut hiking menuju puncak gunung ungaran. Saat makan kita bertegur sapa dengan gerombolan lainnya yang juga akan mendaki, ada yang dari bekasi, jogja, dan lain tempat. Perjalanan terhenti di Pos Mawar, pemandangan dari sini cukup indah, lampu kota yang berderet dari ungaran sampai salatiga terlihat jelas. Di dalam warung begitu hangat. Apapun bisa jadi bahan obrolan, ide guyonan yang sepele dan hampir tidak terpikirkan.
 
By the way, bagian yang menyenangkan dalam pendakian ini adalah kita melewati kebun teh Ungaran. Sebenarnya kalau mau jalan pintas mendaki bisa dari kebun teh Ungaran, dimana mobil masih bisa masuk ke dalam lokasi ini. Cuman, karena kita sombong dan begaya sok-sokan jago hiking semua, kita mengambil jalan susah. Hahaha. Menuju kebun teh dari arah Umbul Sidomukti, treknya berkelok-kelok tanpa kemiringan sekalipun.
 

Perjalanan dimulai dari Umbul Sidomukti, Gunung Ungaran. Saya Start dari Pasar sayur Jimbaran setelah adzan magrib bareng Mas Adam, Mas Aris, Mas Arik, Mas Muji, Mas Imut, Mas Thonie, Kakak Aby dan Kha . Dua nama terakhir adalah Newbie :p Dari Umbul Sidomukti nanti naik terus aja, sampai pada akhirnya ketemu pos pendakian pertama Gunung Ungaran. Sampai pada titik ini,  karena kami mengendarai motor maka kami cukup menaiki motor untuk sampai di basecamp Mawar.
Di basecamp mawar malam ini ramai sekali, orang-orang yang akan mendaki mempersiapkan dirinya di sini, bahkan ada yang cuma camping, karena pemandangan dari sini dah cantik banget, lain waktu boleh juga niy coba camping ceria bersama teman-teman disini. Di basecamp Mawar ini ada penitipan sepeda motor dengan tarif Rp 2.000,00 per motor. Dan yang terpenting,  disinilah warung terakhir dimana kita menikmati makan malam kita dan menambah ransum perbekalan pendakian kalo dirasa masih kurang.
Usai makan tidak kami langsung bergegas. Kami menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim untuk Sholat Maghrib dan Isya terlebih dahulu. Setelah itu kami baru melanjutkan perjalanan. Jalan kurang nuansa mendaki tapi suasana hutan memberi semangat yang beda. Kami berjalan santai, tidak terlalu cepat. Sambil bersenda gurau yang lumayan buat penyegaran.

Di sepanjang jalan kami menemukan  pipa-pipa paralon putih bergantungan, rupanya aliran air dari sumber mata air di atas sana. Ketika di coba, ternyata lumayan brr..dingin airnya dan sweger. Keluar dari hutan, kebun kopi sudah menanti. Disana ada bak penampung air bersih dan kolam berukuran sekitar 8x15x1.5 meter yang bisa digunakan untuk berenang. Kami hanya lewat dan tidak mampir di kolam, hanya di sekitar kolam saja, bisa dikatakan kolam ini adalah kolam renang tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian diatas 1900 mdpl dengan bonus pemandangan hijau rimbun pohon dan atap birunya langit. Semakin jauh treknya berkombinasi antara tanjakan yang melelahkan dan jalan datar yang menyenangkan hingga tibalah kami di perkebunan teh, waah jadi berasa teawalk niy, tampak beberapa rumah penunggu perkebunan di pinggir jalan, dan tak jauh kemudian tibalah kami di pertigaan camp Promasan. Kami memutuskan untuk tidak nge-camp di jalan.
Dari awal kami berjalan kami di temani bintang-bintang yang gemerlap di langit. Semakin malam bintang yang muncul semakin banyak, berkelip dan bermacam rasi bintang terbentuk (aku cuma tau rasi bintang layang-layang. Hahaha). Pemandangan indah di langit berpadu dengan kerlip lampu kota semarang di bawah sana, menjadi kontras dan komplit. Pemandangan indah ini menjadi pengobat letih yang lumayan mujarab untukku


Di penghujung kebun teh Ungaran ini kami langsung disergap tannjakan tanpa ampun dan dinding batu terjal menghadang, voila ini adalah medan yang paling bikin nangis setengah mati dengan hiking tingkat elevasi hampir 45 derajat, menembus hutan belantara melewati batang pohon yang melintang di tengah jalan. Jalannya emang bener cuman karena jarang dilewati jadi melewati jalan neraka dengan perasaan takut karena tiba-tiba ada ular muncul senggol-senggol kaki. Haha siapa suruh meremehkan Ungaran ?? :P

Perjalanan belum selesai, setelah menebas hutan-hutan yang nggak karuan jelasnya seperti baru babat alas, sesi kedua adalah menaiki gunung curam dengan berisi batu-batu. Kami harus hati-hati mengingat kalau salah langkah mengakibatkan keruntuhan batu yang lebih gede atau jatuh ke bawah mengulang perjalanan lagi. Oh God, cann’t imagine T.T 


Trek bebatuan seperti nggak ada habisnya, nggak ada bonus jalan datar, setiap satu puncak punggungan langsung menghadang dinding batuan baru. Kembali menapaki terjalnya bebatuan, ilalang semakin tinggi. Sebelum sampai di puncak kami mendapati beberapa orang sedang shalat berjama'ah. Waaaaah rajinnya dalam suasana begini masih menunaikan Shalat Lail :) 
Saat embun mulai menetes kurang lebih pukul 02.30 dini hari kami sampai di Puncak. kami langsung mendirikan tenda dan memasak bekal yang kami bawa. Setelah perut terganjal oleh roti dan mie, kami pun beristirahat sembari menunggu sunrise. :)


Sunrise di Puncak Gunung Ungaran adalah sungguh luar baisa. Pemandangan di sekeliling tanpa penghalang, di timur langit tampak merekah kemerahan, di selatan menyembul Gunung Merbabu, Merapi yang masih berselimut awan. Perkebunan teh Medini terlihat membenang. Waaah sungguh pemandangan indah yang sempurna ^_^
 
Gunung Sindoro-Sumbing dari Gunung Ungaran
Gunung Sindoro-Sumbing dari Gunung Ungaran
Walaupun matahari mulai mengintip di ufuk sana, tapi dinginnya angin di puncak gunung ini masih membuat badanku menggigil. Semakin pagi, suasana di puncak makin ramai, gaduh oleh suara orang-orang yang bersukaria berhasil tiba di puncak gunung Ungaran. Kami langsung melakukan ritual wajib yaitu foto di Puncak Gunung Ungaran. Puncak gunung Ungaran terdapat prasasti Benteng Raider, lengkap dengan topi khas nya, ada satu tiang bendera untuk upacara. Kami dipuncak Gunung Ungaran hanya sekejap, tidak baik juga berlama-lama dipuncak karena matahari sudah tidak bersahabat, Sinar UV mulai menjilat kening dan wajah. 20 menit kami rasa cukup untuk mengabadikan moment narsis dalam frame foto. Usai berfoto-foto, kita kembali bersiap untuk turun.

Gunung Merapi-Merbabu dari Puncak Ungaran
Gunung Merapi-Merbabu dari Puncak Ungaran
Karena kami menanjak ketika malam hari tentu tidak banyak foto yang bisa kami ambil. Karena itulah moment turun yang biasanya sekejap jadi aur biasa lama karena setiap 5 cm kami manfaatkan untuk foto hahaha :D 
Udah dulu ceritanya, mama memangil  ;D uuppp 
foto-fotoku ada di sini 

2 komentar
Label: ,

ALBUM FOTO : PENDAKIAN UNGARAN 2.050 MDPL































0 komentar
Label: ,

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN 2.050 MDPL

Gunung Ungaran 2.050 mdpl
Gunung Ungaran terletak di Selatan-Barat Daya kota Semarang, Jawa Tengah. Gunung ini mempunyai tinggi 2.050 mdpl. Bukan angka yang fantastis memang, tapi cukup menguras tenaga juga karena walaupun jalur pendakiannya yang singkat, namun medannya yang berbatu dan sulit. Rute pendakian gunung ungaran bisa ditempuh lewat dua jalur, yaitu jalur Mawar dari pasar Jimbaran dan jalur Medini lewat Boja Kendal, dimana kedua jalur tersebut akan bertemu di pertigaan kebun teh Peromasan, sebagian orang ada yang menyebutnya "Goa jepang". Jalur pulang pun bisa ditempuh dengan kembali ke jalur keberangkatan atau turun melewati Gedong Songo Bandungan, Ambarawa.

Memasuki sebuah warung makan, kita pesan menu makan malam yang simpel saja tapi cukup untuk mengganjal perut hiking menuju puncak gunung ungaran. Saat makan kita bertegur sapa dengan gerombolan lainnya yang juga akan mendaki, ada yang dari bekasi, jogja, dan lain tempat. Perjalanan terhenti di Pos Mawar, pemandangan dari sini cukup indah, lampu kota yang berderet dari ungaran sampai salatiga terlihat jelas. Di dalam warung begitu hangat. Apapun bisa jadi bahan obrolan, ide guyonan yang sepele dan hampir tidak terpikirkan.
 
By the way, bagian yang menyenangkan dalam pendakian ini adalah kita melewati kebun teh Ungaran. Sebenarnya kalau mau jalan pintas mendaki bisa dari kebun teh Ungaran, dimana mobil masih bisa masuk ke dalam lokasi ini. Cuman, karena kita sombong dan begaya sok-sokan jago hiking semua, kita mengambil jalan susah. Hahaha. Menuju kebun teh dari arah Umbul Sidomukti, treknya berkelok-kelok tanpa kemiringan sekalipun.
 
Dari awal kami berjalan kami di temani bintang-bintang yang gemerlap di langit. Semakin malam bintang yang muncul semakin banyak, berkelip dan bermacam rasi bintang terbentuk (aku cuma tau rasi bintang layang-layang. Hahaha). Pemandangan indah di langit berpadu dengan kerlip lampu kota semarang di bawah sana, menjadi kontras dan komplit. Pemandangan indah ini menjadi pengobat letih yang lumayan mujarab untukku
30 Okt'12. Perjalanan dimulai dari Umbul Sidomukti, Gunung Ungaran. Saya Start dari Pasar sayur Jimbaran setelah adzan magrib bareng IkanTengierie Berbuluanjinkkintamani dan Adie Restoe Bomie, disini kami bertemu dengan Kambali Ali . Dari Umbul Sidomukti nanti naik terus aja, sampai pada akhirnya ketemu pos pendakian pertama Gunung Ungaran. Sampai pada titik ini,  karena kami mengendarai motor maka kami cukup menaiki motor untuk sampai di basecamp Mawar. Untuk yang pake mobil, terpaksa kalian harus jalan sampai Basecamp. Hahaha. Di basecamp Mawar kami membayar retribusi Rp 2.000,00 per orang. 
Di basecamp mawar malam ini ramai sekali, orang-orang yang akan mendaki mempersiapkan dirinya di sini, bahkan ada yang cuma camping, karena pemandangan dari sini dah cantik banget, lain waktu boleh juga niy coba camping ceria bersama teman-teman disini. Di basecamp Mawar ini ada penitipan sepeda motor dengan tarif Rp 2.000,00 per motor. Dan yang terpenting,  disinilah warung terakhir dimana kita menikmati makan malam kita dan menambah ransum perbekalan pendakian kalo dirasa masih kurang. Awalnya kami melakukan trip ini untuk Halal Bi Halal IKAPALA, tetai karena adanya acara yang bertabrakan maka tak banyak juga yang datang. Hikz.,

Usai makan tidak kami langsung bergegas. Kami masih menunggu salah satu teman kami Aby Sang Petualang sambil makan ubi bakar, dengan perjuangan yang sangat akhirnya aq berhasil merebut ubi bakar terakhir dari tangan Blangkrah Edan. Hahaha. Abie sudah datang dang waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan kamipun memulai langkah kami memasuki hutan. Ternyata Teguh tertinggal dan kami pun menunggu di jalur setelah sungai. Kata Ambon Kriting sih di skitar sungai itu aja yang agak horor di gunung ini. Tak lama kemudian, Teguh menyusul dan kami masih menunggu agar kondisinya fit kembali karena dia sempat ngedrop tadi. Pohon-pohon tinggi menambah pekat malam, karena menutupi cahaya langit. Memulai perjalanan langsung di sambut trek yang lumayan buat menghabiskan asupan makan malam tadi, bikin keringetan. Jalan lumayan mendaki tapi suasana hutan memberi semangat yang beda. Kami berjalan santai, tidak terlalu cepat. Sambil bersenda gurau yang lumayan buat penyegaran.

Di sepanjang jalan kami menemukan  pipa-pipa paralon putih bergantungan, rupanya aliran air dari sumber mata air di atas sana. Ketika di coba, ternyata lumayan brr..dingin airnya dan sweger. Keluar dari hutan, kebun kopi sudah menanti. Disana ada bak penampung air bersih dan kolam berukuran sekitar 8x15x1.5 meter yang bisa digunakan untuk berenang. Kami hanya lewat dan tidak mampir di kolam, hanya di sekitar kolam saja, bisa dikatakan kolam ini adalah kolam renang tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian diatas 1900 mdpl dengan bonus pemandangan hijau rimbun pohon dan atap birunya langit. Semakin jauh treknya berkombinasi antara tanjakan yang melelahkan dan jalan datar yang menyenangkan hingga tibalah kami di perkebunan teh, waah jadi berasa teawalk niy, tampak beberapa rumah penunggu perkebunan di pinggir jalan, dan tak jauh kemudian tibalah kami di pertigaan camp Promasan. Di sini kami mendirikan tenda dan beberapa dari kami tidur untuk mengumpulkan tenaga. ^_^

Sunrise di Puncak Gunung Ungaran
Sunrise di Puncak Gunung Ungaran
Jam setengah 4 dini hari, ketika embun jatuh membasahi dedaunan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Bersama rombongan kami tadi, ditambah dengan teman baruku Gilang Sang Fajar Putra, Echy Decied Woyo-woyo Joss, Bayou Cavalera PendakiFreelance, Kaztolsikommo Ingin Dicintai  Di penghujung kebun teh Ungaran ini kami langsung disergap tannjakan tanpa ampun dan dinding batu terjal menghadang, voila ini adalah medan yang paling bikin nangis setengah mati dengan hiking tingkat elevasi hampir 45 derajat, menembus hutan belantara melewati batang pohon yang melintang di tengah jalan. Jalannya emang bener cuman karena jarang dilewati jadi melewati jalan neraka dengan perasaan takut karena tiba-tiba ada ular muncul senggol-senggol kaki.
Perjalanan belum selesai, setelah menebas hutan-hutan yang nggak karuan jelasnya seperti baru babat alas, sesi kedua adalah menaiki gunung curam dengan berisi batu-batu. Kami harus hati-hati mengingat kalau salah langkah mengakibatkan keruntuhan batu yang lebih gede atau jatuh ke bawah mengulang perjalanan lagi. Oh God, cann’t imagine T.T 


Narsis dulu di Benteng Raider. hahaha
Narsis dulu di Benteng Raider. hahaha
Trek bebatuan seperti nggak ada habisnya, nggak ada bonus jalan datar, setiap satu puncak punggungan langsung menghadang dinding batuan baru. Kembali menapaki terjalnya bebatuan, ilalang semakin tinggi. Sebelum sampai di puncak kami mendapati beberapa orang sedang shalat berjama'ah. Waaaaah. Sesampainya di Puncak Gunung Ungaran aq langsung numpang eksis, ada yang mo foto numpang foto deh walaupun nggak kenal sama orangnya. Hahaha. Cukup lama juga kami menunggu sunrise muncul dari kandangnya. Hmmmm. Akhirnya dengan menahan kantuk yang amat sangat dan dinginnya angin di subuh ini, kupaksa diriku untuk menunggu sunrise.


Sunrise di Puncak Gunung Ungaran adalah sungguh luar baisa. Pemandangan di sekeliling tanpa penghalang, di timur langit tampak merekah kemerahan, di selatan menyembul Gunung Merbabu, Merapi yang masih berselimut awan. Perkebunan teh Medini terlihat membenang. Waaah sungguh pemandangan indah yang sempurna ^_^
 
Gunung Sindoro-Sumbing dari Gunung Ungaran
Gunung Sindoro-Sumbing dari Gunung Ungaran
Walaupun matahari mulai mengintip di ufuk sana, tapi dinginnya angin di puncak gunung ini masih membuat badanku menggigil. Semakin pagi, suasana di puncak makin ramai, gaduh oleh suara orang-orang yang bersukaria berhasil tiba di puncak gunung Ungaran. Kami langsung melakukan ritual wajib yaitu foto di Puncak Gunung Ungaran. Puncak gunung Ungaran terdapat prasasti Benteng Raider, lengkap dengan topi khas nya, ada satu tiang bendera untuk upacara. Kami dipuncak Gunung Ungaran hanya sekejap, tidak baik juga berlama-lama dipuncak karena matahari sudah tidak bersahabat, Sinar UV mulai menjilat kening dan tengkuk leher. 20 menit kami rasa cukup untuk mengabadikan moment narsis dalam frame foto. Usai berfoto-foto, kita kembali bersiap untuk turun.

Gunung Merapi-Merbabu dari Puncak Ungaran
Gunung Merapi-Merbabu dari Puncak Ungaran
Sampai di pertigaan Promasan kami masak untuk sekedar mengganjal perut ^_^ Sebelum makan aq menyempatkan untuk istirahat sebentar, tapi dasar anak-anak yang kurang ajar. Masak aq tidur trus ditutupin kain, anak-anak belagak kayak berdoa trus aq mati. Hadeeeeh. Awas sajja. Tunggu giliran kalian. Rrrrrrr. >,<  karena hari semakin siang, maka kami bergegas bongar tenda dan packing untuk kembali melanjutkan perjalanan turun.

0 komentar
Label: ,

Apa Yang Kau Cari Wahai Para Pendaki ?


Lewat obrolan virtual itu  kau bertanya tentang petualangan-petualanganku. Tentang seberapa banyak puncak tinggi yang pernah kugagahi. Juga tentang seberapa luas rimba raya yang telah kucumbui. Selebihnya kau hanya bercerita tentang petualanganmu saja, tanpa titik koma. Padahal jika bisa kau  tatap mataku saat itu, tentu kau akan tahu jika sebenarnya aku enggan mendengar ceritamu.
Beberapa tahun yang lalu aku juga sama sepertimu kawan. Ketika secarik kain berwarna ungu itu baru saja melingkar di leherku. Saat benak ini hanya dipenuhi oleh satu obsesi. Mendaki, mendaki dan mendaki, itu saja. Namun, di tengah perjalanan akhirnya aku baru sadar akan sesuatu. Tak harus menjadi seorang pencinta alam, jika kau hanya ingin berpetualang! Sebab, mendaki sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukan hanya aku atau kamu, tapi juga mereka.

Kurasa mendaki itu cuma butuh tiga hal saja kawan. Duit yang cukup di tangan. Sedikit ketrampilan serta kekuatan. Dan, yang terpenting adalah belas kasihan. Yah, belas kasihan, itu yang paling dibutuhkan oleh seorang petualang. Bukankah karena sebuah belas kasihan Tuhan,  puncak tinggi itu bisa kita gapai dengan tangan? Bukankah karena setitik sifat Rahman-NYA pula kita bisa selamat  pulang, dan kembali berkumpul dengan keluarga?.
Kawan, mendaki itu bukan sebatas menumpuk dokumentasi di situs jejaring pribadi. Bukan pula ajang pembuktian sebagai seorang pencinta alam yang jantan. Jika itu saja yang ada dalam pikiranmu, kurasa kau masih belum memahami esensi dari mendaki. Dari setiap cucuran keringat, disitu ada mutiara hikmat. Dalam setiap perjalanan, disitu pula ada makna pelajaran tentang kehidupan.
Saat kau dirundung gila tenar dan sanjung. Cobalah untuk berdiri di puncak tinggi itu. Lihat kawan, adakah sorak sorai tepuk tangan penonton yang mengitarimu. Adakah spanduk “selamat datang” yang menyambutmu? Mungkinkah pula ada sebuah tropi yang bisa kau angkat tinggi-tinggi sebagai tanda kemenanganmu?
Saat kau di puncak tinggi itu, mungkin saja kau merasa lebih tinggi dari segalanya. Coba tengok di sekelilingmu. Kanan, kiri dan juga  yang ada di atasmu. Lihat, bandingkan dirimu dengan bentang alam yang menghampar di sana. Bayangkan dirimu ada diantaranya, itulah sebenarnya dirimu. Kau tak lebih hanyalah sebuah noktah yang mungkin tak nampak jika ditatap dari kejauhan. Masihkah kau merasa lebih tinggi? Jadi, kenapa kita merasa seakan mampu memegang matahari? Bukankah di atas langit masih ada langit kawan? Tak mungkin  kita mampu menggapai matahari itu. Bahkan untuk menatapnya saja, kau tak akan kuasa oleh silaunya.
Berada di puncak yang paling tinggi, bukan berarti kita telah menjadi pemenang sejati.  Jangan lupa kawan, semakin tinggi tempat kita berdiri, semakin kencang pula angin yang menerpa di kanan kiri. Posisi tinggi dalam kehidupan bukanlah jaminan tidur kita akan menjadi aman sekaligus nyaman. Sebab, bisa jadi ada angin dari luar sana yang akan menerpamu secara bertubi-tubi. Sekencang-kencangnya, tanpa kau sadari dari arah mana datangnya. Bahkan acapkali angin itu mencoba menjatuhkanmu hingga posisi serendah-rendahnya. Tapi, santai saja kawan. Bukan itu yang perlu kamu takuti. Jadikan saja ikhlas dan sabar sebagai tameng  untuk menahan terpaan angin di luaran sana.
Kuhanya takut  hembusan angin kecil dalam diri yang justru akan menggoyahkan kaki penopang kita berdiri. Tiupan angin dalam hati bernama sombong, riya’ dan dengki, itulah yang harus kita waspadai. Jangan biarkan tiupan itu semakin berhembus, menerobos dinding hati ini. Sebab, jika itu menjadi kebiasaan, bisa jadi akan menjadi sindrom saat usia senja nanti. Saat rambutmu telah dipenuhi uban, kau masih saja sibuk berebut pujian. Saat keriput mulai membalut kulitmu, kau pun masih saja bernafsu memburu jempol-jempol itu.
Kawan, bukan berarti aku antipati pada kata-kata mendaki. sebab, hingga hari ini petualangan itu masih kusenangi. Mungkin saja aku sedang jemu untuk melakukannya. Seperti halnya kejemuanku pada dunia abstrak yang sedang kulakoni lewat layar mini ini. Mungkin ada baiknya kita berbincang tentang hal yang lain saja. Sesuatu yang lebih pencinta alam tentunya. Tentang periculum in mora. Atau tentang alam raya yang butuh sentuhan sayang dari tangan kita. Kenapa kita enggan perbincangkan  jernih sungai yang sekarang berubah bak comberan? Kenapa kita tak berdiskusi lagi tentang burung-burung yang enggan bernyanyi kala pagi hari?
Mungkin lain waktu kubiarkan ransel gunung itu kembali memijat lembut punggungku. Mungkin lain hari aku akan kembali mendaki sepertimu. Tapi, tentu saja bukan bermaksud untuk menjadi yang lebih tinggi, atau mungkin meninggi. Sebab, mendaki itu kulakoni ‘tuk sekedar mengasorkan diri.
Salam Lestari !


Lovalia
Photo's By : TIM 5A - GEMPA

0 komentar
Label: , ,

PENDAKIAN : LAWU 3265 mdpl ANNIVERSARRY TIM 5A- GEMPA

My TIM 5A minus Arik ( yang motret soale)
Berdiri kiri-kanan : Aris, Thonie, Adam, Alia, Imut
Jongkok kiri-kanan : Muji, Aries
4 November 2013- Ada sesuatu yang berbeda di pendakian kali ini. Karena ini pertama kalinya kami TIM 5A berpetualang dengan formasi lengkap ( Thonie, Imut, Muji, Adam, Alia, Arik, Aries, Aris). Jika saya pikir-pikir esok adalah genap 1 tahun TIM kami berdiri :) berarti juga first anniversarry GEMPA "Generasi Mahasiswa Pecinta Alam". Awal kami terbentuk pun di Gunung Lawu ini .

Seperti biasa basecamp pemberangkatan kami adalah Simsi's House alias rumahnya mas Imut. Bedanya jika biasanya kami berangkat pagi-pagi, kali ini kami berangkat siang hari, kurang lebih pukul 1 siang. Cukup nekat sebenarnya karena sejak awal berangkat mendung sudah menggelayut di langit. Tapi bukankah hujan adalah sahabat bagi para pecinta alam ? :)
 Ceiiliieehhh gayanyaa ... :D




Seperti tahun lalu kami akan merayakan tahun baru Islam di puncak Gunung Lawu. Orang Jawa bilang malam satu Suro. Cukup mendatangkan tantangan tersendiri selain karena momen yang termasuk disakralkan, pendakian kali itu juga kami lakukan di salah satu gunung yang termasuk deretan teratas gunung yang masih kental aura mistisnya. Perpaduan yang sungguh pas bukan… ^_^ Di waktu tersebut Gunung Lawu sedang ramai-ramainya dikunjungi.

Memasuki kota Magetan hujan benar-benar deras. Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh, tapi begitu menyadari tempat berteduh itu adalah pemakaman, kami memutuskan berteduh cukup lama di sebuah rumah makan. Bukan karena kami takut hujan, tapi karena kami kelaparan. :D Selain itu kami harus menjemput dua pasukan tambahan, kawan-kawan Mas Adam (kawan kami juga tentunya)

Tahun ini kami pun kami memilih Cemoro Sewu sebagai jalur pendakian yang kami pakai. Selain karena lebih singkat, di jalur itu biasanya lebih ramai pendaki maupun penduduk sekitar yang melakukan kegiatan adat. Benar saja, begitu kami sampai di basecamp Cemoro Sewu, lautan manusia memenuhi jalanan dan warung-warung yang ada disana. Kami pun sempat kebingungan mencari lokasi parkir karena memang semuanya penuh. Namun akhirnya kami menemukan area parkir yang masih bisa menampung motor kami meski harus berjalan beberapa meter dari gerbang pendakian. Dari yang kami lihat saat melewati jalanan menuju basecamp.



Tenda kami di Basecamp
Setelah motor dipastikan aman, kami pun menuju gerbang pendakian untuk mengurus perijinan dan administrasi. Biaya administrasinya cukup Rp 7.500,- saja perorangnya. Di sekitaran gerbang pendakian sudah banyak tenda yang didirikan. Mungkin mereka cuma ngecamp disitu tanpa muncak atau mungkin juga hanya istirahat sejenak sebelum meneruskan mendaki ke puncak. Bisa dipastikan malam itu Cemoro Sewu rame banget, saking ramenya saat mendaki kita tak akan berjalan satu rombongan sendirian saja, pasti di depan maupun di belakang ada saja rombongan lain yang juga mendaki. Setelah memasak makanan dan makan malam kami memutuskan istirahat dan berangkat ke puncak besok setelah shubuh.
Masak-masak di POS II

Singkat cerita esok harinya sesudah makan pagi kami pun memulai perjalanan yang cukup menyenangkan hingga kami sampai di POS I. Saling menyapa pendaki lainnya yang tidak dikenal, berbagi cerita, berbagi tempat atau bahkan berbagi bekal adalah hal yang sangat menyenangkan yang hanya bisa ditemui saat kau mendaki kawan :). Keakraban dan persaudaraan itulah pendaki.

Usai POS I kami menuju POS II. Kami melanjutkan berjalan menapaki jalur pendakian yang didominasi batu terjal yang menanjak tersebut perlahan-lahan karena di sisi kanan dan kiri mulai banyak pendaki-pendaki yang tiduran di pinggir jalur pendakian. Kalau gak melihat dengan seksama bisa-bisa pas kita jalan mereka bisa terinjak tuh karena saking berserakannya pendaki yang tiduran di jalur pendakian.

Tak terasa satu per satu pos yang ada berhasil kami lewati dengan lancar. Hingga akhirnya sampai di Pos 4 dengan tanah berkapur putih nya. Rasanya tubuh ini sebenarnya ingin segera direhatkan karena letih dan kantuk yang perlahan makin bertambah intensitasnya, namun kami memutuskan lanjut saja berjalan hingga Pos 5 karena jaraknya nggak terlalu jauh dari pos sebelumnya.

Langit di sisi timur sudah mulai gelap, kabut mulai turun dan firasatku mengatakan malam ini akan terjadi badai  :(

Kami melihat salah satu tenda kami sudah terpancang di POS V. tentulah teman-teman yang sudah terlebih dahulu sampai sebelum kami yang memasangnya. Belum sampai kami memasang tenda, tiba-tiba hujan dan angin kencang turun bersamaan, benar firasatku... telur badai mulai menetas. Ya Allah ... lindungi kami :)

Sepertinya kami mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat mendirikan camp. Gimana nggak kesulitan coba, sudah ada puluhan tenda yang didirikan disana ditambah ada sebuah warung dadakan lagi. Warungnya luar biasa lho… Seperti warung-warung yang ada di tiap pos Gunung Lawu sebelumnya yang sekaligus menyediakan pondokan bagi pendaki untuk beristirahat atau pun tiduran, di Pos 5 pun ada. Mungkin karena bertepatan dengan malem satu Suro kali ya. Biasanya sih cuman ada di Pos 1, namun kali ini kalau dihitung-hitung yang tidak ada warungnya hanya di Pos 4 saja, karena memang tempatnya nggak begitu luas.
Menghangatkan diri dengan api
Bahkan apinya pun membeku :D
Setelah berjuang dengan menahan angin ekstra kencang yang membawa hawa super dingin di Pos 5, akhirnya kami mendapat lokasi mendirikan camp yang tepat meski tak begitu sempurna. Agak miring, nggak rata, cukup tertutup sih, yah gimana lagi emang sudah penuh. Karena dikejar waktu yang terus berjalan seiring dengan langit yang mulai menguning, seadanya pun jadilah.

Rencananya sih mau tidur bakal sejam dua jam dulu sebelum memasak makanan. Begitu tenda berdiri walau terpaan angin ribut terus menghantam tenda, kami pun mengisi perut dengan makan di warung sederhana itung-itung sebagai pengganjal perut sebelum tidur pagi, #lhoh...

Ahh, akhirnya bisa tidur. Walaupun saya dan mas Adam harus berperang histeris gara-gara serangan Muji #sensor…. haha

Angin yang ribut menghantam tenda membuat saya tidur tak terlalu pulas. Apalagi tengah malam banyak pendaki menggerutu karena menganggap tenda kami berdiri di tengah jalan :D padahal seingatku jalan menuju puncak ada di sisi berlawanan.


DI PUNCAK- Menikmati minuman karya mas Imut hahaha :D
rasanya aneh
Sekitar pukul 03.00 kami berangkat menuju puncak. Muji kami tinggal di tenda. Kondisiku sendiri fatal akibat perang kontroversial Muji :D Sebelum sampai di Warung Mbok Yem, kita akan melewati sebuah sumber mata air yang disekitarnya terdapat cerukan-cerukan tanah yang bisa digunakan untuk bersembunyi dari dinginnya udara. Namun sepertinya saat itu Sendhang Drajad sedang kering kerontang hanya mengucur sedikit saja, tapi tak apa lah. Selain itu juga terdapat sebuah warung lain yang sempat saya dan beberapa teman pakai untuk nginep saat pendakian Lawu bebrapa tahun lalu.





Di Puncak Hargo Dumillah
Setelah berjalan beberapa saat kami akhirnya sampai di Hargo Dumillah.Angin bertiup semakin kencang di puncak . Tapi setidaknya rindu terobati pada punca yang kupeluk sekian kalinya ini :)

Setelah membuat minuman hangat dan mengabadikan beberapa pose kenangan di puncak akhirnya kami memutuskan untuk turun.
Sisi Lain Hargo Dumillah
Alia with Mas Adam

Bojonegoro he he he :p










Kami membereskan tenda dan kali ini kami sungguh beruntung, di tengah perut yang keroncongan dan dahaga yang menyiksa ternyata warung di POS V kehabisan air sehingga kami tidak bisa membeli makanan dan minuman.
Kakak-kakakku , Sahabat-sahabat terbaikkuuuu
Perjalanan turun terasa menyenangkan. Saya sengaja berjalan pelan-pelan, membiarkan kawan-kawan berjalan terlebih dahulu dan menunggu saya di bawah nantinya. Hanya ingin menikmati suasana lebih mendalam. :)

Sesampainya di bawah seperti biasa saya pun "mencuri" beberapa wortel di kebun petani yang habis dipanen. Membuat orang-orang yang melihat saya menggenggam bunga-bunga wortel mengira itu adalah sedelweiss :D

tapi seperti biasanya pula wortel itu tertinggal dan tidak bisa saya bawa pulang ( atau memang tak ingin ikut pulang ).

Pukul 12.30 kami memutuskan kembali pulang ditemani hujan gerimis. Yah, itulah pendakian kawan, entah orang-orang kau kenal atau tidak, pasti akan saling menyapa dan membantu :)

Alhamdulillah tak sekalipun aku tinggalkan kewajiban kepada Tuhan untuk bersujud :)

Semoga tahun depan dan tahun-tahun berikutnya tetap bisa ke sini lagi :)

Lovalia
Foto, Doc.TIM 5A

0 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters