Label: , ,

Legenda Blora : Terjadinya Sungai Lusi

Hasil gambarDi Kota Blora ada sebuah sungai yang melingkari kota. Sungai itu berada di sebelah timur kota Blora, mengalir dari utara ke selatan, kemudian berbelok ke arah barat. Sungai itu mengalir terus ke barat, masuk ke wilayah Purwodadi dan akhirnya bertemu dengan Sungai Serang. Sungai itu adalah sungai Lusi. 

Sungai Lusi melingkari separoh bagian kota Blora yang sebagian selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-krikil-lumpur dan pasir yang mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja. Tapi bila musim hujan datang, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air hingga duapuluh meter. Kadang-kadang sampai lebih. Dan air yang mengalir damai jadi gila berpusing-pusing. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di tepi-tepi kali seperti anak kecil yang mencabuti rumput. Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bidang ladang penduduk. Lusi! Dia merombak tebing-tebingnya


Bagaimanakah kisah terjadinya sungai Lusi? Ikutilah kisah dibawah ini.

Pada zaman Prabu Sri Jayabaya, raja yang bertakhta di Kediri, ada tiga orang pengembara yang bernama Ki MRanggi, Parta Gendul, dan Parta Balung. Setelah sekian lama mengembara meninggalkan Kediri, mereka berhenti di sebuah hutan di Gunung Butak yang banyak ditumbuhi pohon jati. Ki Mranggi melihat seputar tempat tersebut dan merasa cocok untuk tinggal di situ.

“Aku rasa tempat ini cocok untuk tempat tinggal. Bagaimana pendapatmu Parta Gendul?” Tanya Ki Mranggi kepada Parta Gendul.

“Saya setuju saja Ki Mranggi,” jawab Parta Gendul.

“Dan kamu Parta Balung, apakah juga setuju kalau kita tinggal disini?” Ki Mranggi memandangi Parta Balung minta pendapat.

“Saya kira saya bisa menyetujuinya Ki MRanggi,” jawab Parta Balung.

Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk tinggal di hutan yang terletak di Gunung Butak. Ternyata di tempat itu juga sudah ada penghuninya sebelum mereka bertiga datang. Dia adalah Ki Bahurena. Ketika Ki Bahurena berjalan menuju mata air, ia melihat tiga orang yang sedang membangun rumah sederhana di dalam hutan.

Ki Bahurena mendekati dan berkata,” Perkenalkan, aku Ki Bahurena. Apakah kalian mau tinggal di sini? Aku senang kalau kalian bertiga tinggal di sini sehingga aku mempunyai tetangga. “Lalu Ki Bahurena menyalamai Ki MRanggi, Parta Gendul dan Parta Balung.

“Terima kasih Ki Bahurena. Kami memang kan berdiam di Gunung Butak ini. Kami bertiga berasal dari Kediri,” jawab Ki MRanggi. Lalu Ki Mranggi memperkenalkan dirinya dan kedua temannya, Parta Gendul dan Parta Balung.

“Kalau kalian mau tinggal di sini silakan. Bukankah semua tanah di muka bumi ini milik TUhan? Jadi, siapa saja boleh tinggal di sini asalkan berniat baik dan tidak mengganggu makhluk yang ada di sini, baik pohon maupun hewan.”

“Baik Ki Bahurena. Kami akan jaga selalu pesan itu,” mereka bertiga mennjawab bersamaan.

Mereka bertiga tinggal di hutan Gunung Butak dengan senang dan damai. Ki Mranggi berpesan kepada Parta Gendul dan Parta Balung.

“Segala sesuatu yang kalian kerjakan hendaknya memberitahu aku dulu. Sebab akulah yang membawa kalian kemari dan lagi kita di sini masih baru belum tahu seluk-beluk daerah ini. Dan ingatlah selalu pesan Ki Bahurena itu”.

Pada suatu hari, Parta Balung ingin membuat perahu. Lalu Parta Balung berkeliling di sekitar tempat tinggalnya, matanya tertuju pada pohon suren. “Inilah pohon yang saya cari-cari untuk membuat perahu,”katanya dalam hati. Parta Balung menebang pohon suren. Semua yang dilakukan oleh Parta Balung itu tanpa sepengetahuan Ki Mranggi.

Setelah pohon suren di tebang, mulailah Parta Balung membuat perahu. Belum sempat menyelesaikan perahunya, tiba-tiba turun hujan deras di sertai angin rebut sehari semalam lamanya. Di tengah hujan dan angin ribut itu, tiba-tiba muncul seekor ular naga. Ular naga tersebut berjalan di dalam tanah, dan muncul gundukan tanah seperti bukit pada bekas jalannya. Tanah yang di lewati ular naga itu longsor dan longsoran tanah itu berubah menjadi aliran lumpur dan akhirnya terjadi banjir lumpur. Semua benda yang di terjang banjir lumpur itu roboh, pohon-pohon jati bertumbangan dan hutan menjadi rusak. Rumah-rumah penduduk di kaki Gunung Butak tidak luput dari amukan banjir lumpur itu, demikian juga rumah Ki Mranggi dan Ki Bahurena.

Ki Mranggi melihat di sekitar rumahnya dan disekitar hutan, ternyata telah rusak semua. Lalu ia berkata.
“Tempat ini telah rusak di terjang banjir lumpur. Oleh karena itu, tempat ini akan di namakan Desa Coban sebab di sini aku mendapat cobaan dari Tuhan.”

Lalu Ki Mranggi mencari ular yang telah membuat kerusakan parah itu. “Parta Gendul dan Parta Balung, kalian jangan pergi meninggalkan rumah ini. Walaupun sudah rusak kalian harus tetap jaga rumah ini. Aku akan pergi,” kata Ki Mranggi.

“Ki Mranggi akan pergi kemana?” Tanya Parta Gendul dan Parta Balung serempak.

“Aku mencari tempat tinggal ular naga yang telah merusak semuanya ini.”

“Baiklah Ki Mranggi, kami berdua akan tetap di sini. Hati-hatilah semoga berhasil.”

“Terima kasih. Aku segera pergi.”

Pencarian Ki Mranggi tidak membawa hasil. Ia gagal mendapatkan ular naga yang sudah menimbulkan kerusakan.

“Hampir putus asa aku. Sudah berjalan ke sana kemari, tidak dapat aku temukan ular naga itu. Aku harus mencari bantuan,” kata Ki Mranggi dalam hatinya.

Lalu ia mencari bantuan ke Syekh Jatikusuma yang bertapa di puncak Gunung Butak. Perjalanan menuju Gunung Butak harus mendaki dan menerobos hutan yang lebat. Perjalanan yang sangat melelahkan! Namun, demi tekad untuk memperoleh bantuan, segala jerih lelah tidak dirasakan oleh Ki Mranggi.

“Ada perlu apa saudara datang kemari?” kata Syekh Jatikusuma kepada Ki Mranggi yang mendatanginya di pertapaan.

“Aku datang ke pertapaan Syekh untuk memohon bantuan,” kata Ki Mranggi.

“Ada persoalan apa dan apa yang dapat saya lakukan? Kalau aku bisa, pasti aku membantumu, “jawab Syekh Jatikusuma.

“Begini Syekh Jatikusuma. Beberapa waktu yang lalu, di tempat aku tinggal di kaki Gunung Butak terjadi banjir lumpur. Banjir lumpur itu terjadi karena ulah ular naga yang berjalan di dalam tanah. Aku sudah mengejarnya berhari-hari, tetapi tidak menemukannya. Karena itu, aku datang ke sini mohon pertolongan Syekh.”

“Ya, sekarang aku mengerti. Aku akan menolongmu.”

Kemudian Syekh Jatikusuma meninggalkan Ki Mranggi. Ia mengambil pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Ia menjumpai kembali Ki Mranggi yang tertegun melihat pusaka yang di pegang oelh Syekh Jatikusuma.

“Keris apa itu?” Tanya Ki Mranggi penuh keheranan.

“ini keris pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Dengan pusaka ini, aku dapat menemukan tempat ular naga berada.”

Lalu Syekh Jatikusuma menancapkan pusaka itu di puncak Gunung Butak dan terbukalah puncak Gunung Butak itu. Di dalamnya ular naga sedang tidur pulas, tampak jinak dan tidak ganas. Namun, tiba-tiba datang angin ribut dan hujan deras yang berlangsung sampai beberapa hari.

Setelah hujan reda, di puncak Gunung Butak muncul beberapa mata air. Melihat munculnya beberapa mata air, Ki Mranggi terkejut dan bertanya kepada Syekh Jatikusuma.

“Dari manakah munculnya mata air itu dan akan mengalir kemanakah air itu?”

Syekh Jatikusuma dengan tenang dan yakin menjawab, “Lihatlah dan perhatikan saja ke mana airnya mengalir, kamu nanti akan mengerti.”

Mata air yang airnya mengalir ke timur dinamakan Sungai Kesemen melewati Desa Tahunan, Bangilan, dan terus ke Bojonegoro. Air yang mengalir ke arah barat menjadi Sungai Brubulan. Air yang mengalir kea rah utara menjadi sungai Mudal melewati daerah Pamotan. Sementara itu, mata air yang airnya mengalir ke arah selatan melalui Desa Gunung Kajar terus ke BLora dinamakan Sungai Lusi. Mengapa? Sebab daerah yang di lalui air tersebut tanahnya menjadi longsor dan para penduduknya mencari selamat atau mengungsi. Mengungsi dalam bahasa Jawa Kuno disebut ngusi. Dari kata ngusi itulah lahir nama Sungai Lusi.

Setelah melihat peristiwa itu. Ki Mranggi pulang ke rumahnya dan hidup seperti sedia kala. Ia hidup bersama Parta Gendul dan Parta Balung serta hidup berdampingan dengan Ki Bahurena. Setelah kematian Ki Mranggi, makamnya banyak di ziarahi dan makam itu di sebut sebagai Pundhen Mranggi sedangkan makam Ki Bahurena di sebut sebagai Pundhen Bahurena.


Dikutip Dari Buku :Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)

0 komentar
Label: , , , ,

Wisata Blora : Puncak Suroyudan , Pesona Kebun Matahari

Matahariku

Satu lagi destinasi wisata lokal Blora yang layak masuk daftar rekomendasi kamu saat hendak berpetualang di Kabupaten Blora. Wisata ini terletak di wilayah utara kecamatan Jepon yang pastinya seru banget untuk dikunjungi. Wisata tersebut digugusan Pegunungan Kendeng dan berada diketinggian sekitar 300 mdpl. 

Lokasi ini merupakan Kebun Bunga Matahari di Puncak Suroyudan. Tepatnya terletak di  Ds Soko di seberang jalan pemandian Sayuran. Tidak perlu bingung mencarinya karena menuju lokasi ada papan penunjuk jalan Lur.

Berasa di negeri dongeng
Murah meriah, cukup bayar parkir Rp 2.000,- anda bisa jalan kaki menyusuri lereng bukit. Jalan menanjak sekitar ketinggian 20 meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 10 menit. Bunga Matahari yang berada di kebun seluas 3000 meter persegi ini tampak syahdu menyambut kedatangan pengunjung. Lokasi yang indah untu kamu para pecinta fotografi atau yang ingin pre wedding di sini. :D

Bila hendak  berlibur ke Kebun Bunga Matahari nan cantik ini tidak perlu repot bawa bekal aneh aneh. Bila lelah karena kepanasan dan perut kondisi keroncongan, di seberang jalan dari lereng bukit kebun matahari ini ada resto baru yang menawarkan pesona landscape alam Blora yang menakjubkan, yaitu Warung Dhuwur Blora (WDB).

So, selamat liburan Lur ...
Pemandangan Puncak Suroyudan

[]Lovalia 
Berbagai Sumber

0 komentar
Label: ,

Wisata Jawa Timur : Pantai Pasir Putih Remen, Tuban


Masih dalam suasana libur Idul Fitri , ada sebuah reuni kecil dengan adik-adik saya, alumni IPM SMK Muhammadiyah 2 Cepu, Kali ini kamu touring ke Pantai Pasir Putih Remen, Tuban.



Pantai pasir putih remen ini letaknya memang tidak dipinggir jalan pantura agak masuk-masuk desa tapi paling gampang kalau dari arah Rembang ada pertigaan besar dan pos polisi pereng-belok kiri-TPPI-masuk desa remen-perempatan setelah sdn remen 2 belok kiri lurus terus arah utara pantai …Kalau dari arah Tuban paling mudah dari arah terminal wisata kambang putih-pantai kute/cemara-mangroove center-terus ke barat setelah pasar jenu-jalan bercabang ambil kanan-PLTU-desa wadung-desa rawasan-desa mentoso-desa remen-perempatan setelah balai desa lurus-mentok belok kanan arah pantai.



Pantai pasir putih remen ini memang termasuk pantai yang belum banyak dikenal bahkan oleh warga Tuban sendiri. Melihat-lihat secara landscape kawasan pantai ini memang sungguh indah ada seperti beberapa kubangan air yang membentuk danau-danau kecil di sekitar pantai kemudian beberapa tumbuhan cemara di tepi pantai dengan garis pantai pasir putih yang panjang, pasirnya memang benar-benar putih dengan latar belakang sebuah pabrik ini yang menjadikan pantai pasir putih remen ini pantai yang paling unik mempunyai ciri khas dan indah di sekitar pesisir pantai utara di Jawa Timur.


Hari itu terlihat ramai pengunjung banyak anak muda-mudi dan beberapa keluarga berkunjung bahkan tidak hanya dari penduduk lokal saya pikir banyak yang dari luar kota juga, untuk menikmati keindahan pantai pasir putih remen. Coba simak beberapa dokumentasinya dan angin disini cukup semilir-semilir kencang tak terkendali..hehe



Tarif untuk memasuki wahana wisata bahari tersebut tidak mahal gaes, dijamin tidak akan mengempeskan kantong anda, cukup dengan membayar biaya parkir+sebagai tiket masuk senilai Rp.2.000 saja [pada waktu tulisan ini dibuat] anda dapat memasuki dan menikmati panorama alam pantai pasir putih yang menakjubkan. 

Disana juga sudah banyak penjual minuman,makanan,jajanan, serta oleh-oleh kaos bertuliskan “Pantai Pasir Putih Remen” yang bisa anda jadikancindera mata maupun oleh-oleh buat keluarga dirumah. Selain itu banyak pula yang menjual layang-layang yang unik dan lucu, sehingga kamu bisa flash back sedikit ke masa kecil dulu hihi.

Tidak perlu malu berlarian di atas pasir putih ini bersama kawan-kawan, karena moment seperti ini tidak kita dapatkan setiap hari :D




Oh iya ini lanjutan cerita mengenai situasi yang unik saat kami berada dalam perjalanan pulang(lanjutan dari cerita part 1 yang aneh)haha tapi betul atau tidak kamipun tak mengerti waktu itu karena waktu sudah menjelang magrib salah satu motor bocor, dan kami menyusuri sepanjang Pantura untuk mencari tukang tambal ban, tetapi tidak ketemu. Akhirnya kami kembali ke Pm bensin tadi , dan kami butuh tempat ibadah untuk menenagkan segenap pikiran dan bersyukur , ternyata kami baru sadar bahwa situasi pom bensin ini aneh(terletak di sekitar jalan pantura) sebelah kiri jalan kalau arah dari Tuban. Hawa mistis sangat terasa dan bukan omongs kosong ketika ternyata bukan hanya saya yang merasakannya tetapi kawan saya juga. 



Aneh bagi saya (ketika itu kebetulan saya sedang berhalangan untuk menunaikan shalat) , saya memperhatikan sekeliling banyak truk dan mobil tanpa awak berhenti disana, air dari tempat wudhupun kadang keluar kadang tidak pintu kamar mandi pun terlihat bergerak dengan suara sayatan bila terkena angin aku pikir situasinya pun semakin aneh karena disebelah ada sebuah mobil sedan yang penyok tapi tak berpenghuni dengan isi didalam yang masih baru sepertinya para penumpang keluarga tapi tak ada orang sedikitpun disana sama seperti mobil-mobil lainnya seperti, panther, pickup dan truk..akhirnya saya berfikir sejanak dan tertawa haha coba kita datang malam-malam ditempatingin istirahat seperti ini dan kehabisan bensin. 



Yap begtulah ceritanya jadi bagi pengendara yang melewati daerah pantura ini sebaiknya berhati-hati dan mempersiapakan kondisi motornya sebagus mungkin karena minimnya lampu penerangan juga di daerah ini..xixixixixi

[]Lovalia 


0 komentar
Label: ,

Wisata Jawa Tengah : Pulau Panjang, Jepara

Me, Gacez and Danang

Pulau Panjang adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Jepara, Jawa Tengah. Dengan luas kurang dari 20 hektar, pulau ini berjarak 1,5 mil laut dari Pantai Kartini Jepara.  Untuk sampai di Pulau Panjang kita harus menuju ke Pantai Kartini, Jepara. Dari sana anda dermaga kecil yang khusus melayani rute jarak dekat penyeberangan pulang pergi ke Pulau Panjang. Sebenarnya bisa juga ditempuh melalui dermaga Pantai Bandengan.

Dermaga Pulau Panjang
Kapal baru berangkat kalo udah dalam kondisi penuh, yang artinya kita harus nunggu rombongan lain buat gabung. Sekitar 10 menit kemudian, kapal udah full capacity (20 orang). Kita nyeberang dengan upeti sebesar 15.000 dengan jarak tempuh sekitar 40 menit. Kapal yang dipake masih dalam kondisi bagus.

Di tengah pulau ada makam Syekh Abu Bakar, salah satu tukoh penyebar agama Islam di Jepara dan sekitarnya. Gak heran kalo banyak rombongan peziarah yang biasanya keliatan nyeberang dalam jumlah banyak. Untuk fasilitas, santai aja di sini udah tersedia mushola, sumber air warung makan dan tempat sampah. Saran kalo mau main bawa bekal sendiri aja, biar berasa suasana pikniknya *gelar tiker*

Sampai di Pulau Panjang, waw tempatnya relatif bersih. Pasir putihnya masih bisa dipake buat lari lari gemes. Ombaknya gak terlalu besar dan suasananya juga gak terlalu rame. Kalo dibandingin sama pantai Kartini/ pantai Bandengan yang modelnya wisata keluarga kaya di Ancol, Pulau Panjang ini lebih sepi dan lebih bisa dipake buat merenung. 

Turun dari dermaga kita gak langsung menuju ke bibir pantai, tetapi milih buat mengeksplor sisi kanan pulau. Masuk ke jalan lurus yang berujung ke hutan tropis, kita bisa liat semak-semak perdu, pohon kapuk randu, asam jawa dan beberapa pinus yang dipake sebagai habitat burung berkembang biak. Karena relatif lebat, kita jadi ga kepanasan waktu menelusuri jalan setapak. Udah gitu hutannya instagram banget cuy haha.

Lumayan bikin adem

Niatnya sih pengen muterin pulau, siapa tau nemu spot-spot sepi yang bisa dipake buat leyeh leyeh, tapi kok jauh ya. Setelah neglongok beberapa tepian pulau kita sampe di salah satu sisi yang punya pasir putih. Ngarepnya sih karang atau underwaternya juga keren, soalnya di ujung pantai ada anak-anak kelautan Undip yang lagi melakukan restorasi karang/ ternak rumput laut.

Iseng masuk aer. Apakah bening? Apakah jernih? Apakah memiliki nuansa seperti di Maldives? Ya  jelas enggak lah hehe. Airnya butek. Kalo kata mas Novan yang udah renang sampai ke ujung, visibilitynya emang butek. Karangnya lumayan terjal dan ikannya gak keliatan jelas. Ya jelas lah, wong biasa dipake buat nelayan mancing. 

Meskipun gak menemukan surga underwater yang sekeren Laut Merah, Cayman Island, Great Barrier Reef atau Karimunjawa, tapi kita bisa menemukan ketenangan dengan suasana teduh yang bisa dipake sebagai mini escape kalo lagi suntuk. Pulau ini juga bisa dipake buat acara ngecamp bareng temen-temen kamu. Asal inget ya, gak usah alay dan anarkis coret-coret atau ninggalin sampah di sana.

Setelah puas nikmatin mini spot di sisi kanan pulau, main air, main ombak dan foto-foto, menjelang sore kita balik ke bibir pantai. Spot yang biasa dipake wisatawan buat mancing, berjemur dan renang-renang gemes. Garis pantai yang ada di sisi kiri pulau emang yang paling rame. Ada beberapa bule yang lagi berjemur, sisanya banyak yang lagi pada main air. Karena masih iseng sama underwaternya, kita nyelup lagi. 

Again, underwaternya maish tetep butek. Kebayang gimana arus pantai dan kapal-kapal nelayang yang sering lalu lalang ngebuat para ikan jadi malu buat bikin “lapak”. Meskipun demikian kita masih bisa liat beberapa rumput laut dan ikan-ikan jenis air asin yang lalu lalang. Yang ngeri sih bulu babinya. Visibility yang rendah bikin parno kalo salah injek. 


[]Lovalia

0 komentar
Label: ,

Wisata Jawa Tengah : Pantai Kartini, Jepara


Kota Jepara dikenal dengan kota Kartini karena Kota Jepara adalah kota kelahiran pahlawan R.A Kartini yang kaya akan keindahan wisata dan pesona alamnya. Kota Jepara memiliki banyak objek wisata yang menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Kota ini, dan diantara objek wisata tersebut berupa objek wisata alam yang indah dan asri.

Ada satu objek wisata dikota Jepara yang menduduki tingkat paling atas dengan pengunjung yang begitu banyak yaitu tempat wisata Pantai Kartini. Pantai Kartini terletak sekitar 2 kilometer dari pusat kota Jepara, alamat tepatnya berda di Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Jangan keliru dengan Pantai Kartini yang ada di Rembang ya, kalau di Remang namanya Taman Kartini meskipun lokasinya juga dekat pantai, sedangkan pantainya sendiri bernama Dampo Awang Beach.

Di Pantai Kartini terdapat banyak keindahan dan bangunan seperti bangunan panggung yang biasa digunakan sebagi tempat band – band untuk konser. Selain itu juga ada bangunan yang berbentuk kura – kura raksasa yang dijuluki dengan Kura – kura Ocean Park (KOP). Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama berisi akuarium raksasa sedangkan pada lantai kedua terdapat audio visual 3D. Untuk masuk ke KOP anda cukup membayar tiket masuk Rp. 5000,-/orang pada hari biasa dan pada hari libur anda harus membayar sebesar Rp. 17.500,-/orang.

 Anda bisa melihat pantai kartini dari belakang bangunan kura – kura rakssa tersebut. Menarik bukan? Tempat ini sangat cocok untuk tempat berlibur anda dan tempat ini juga sangat bagus untuk hunting foto. Tetapi anda harus mengantri untuk mendapatkan foto pemandangan yang bagus dan indah, karena banyak juga para pengunjung yang ingin berpose atau mengambil background yang bagus.

Selain dua bangunan tersebut, ada lagi tempat yang bagus dan apik untuk dijadikan objek foto anda karena disini akan kelihatan pantainya yaitu berfoto di Tulisan Pantai Kartini. Untuk menuju tempat wisata Pantai Kartini ini anda dapat memulai perjalanan anda dari terminal Jepara, dari situ untuk menuju lokasi anda bisa menggunakan angkutan umum seperti bus dan anda akan dikenakan tarif sebesar Rp. 4000,-. Karena keindahan alamnya, rasanya tak lengkap jika anda berkunjung ke Kabupaten Jepara tapi tidak mengunjungi Pantai Kartini ini. Semoga informasi Keindahan Wisata Pantai Kartini Jepara Jawa Tengah bermanfaat dan selamat berkunjung ke Pantai Kartini. Terima kasih






0 komentar
Label: ,

Wisata Jawa Tengah : Air Terjun Songgolangit, Jepara

Lokasi Dan Rute Menuju Air Terjun Songgo Langit Jepara

Air terjun ini berada di sisi bagian utara dari kota Jepara, tepatnya di Dukuh Ngelencer, Desa Bucu, Kecamatan Kembang, terletak kurang lebih 30 kilomater dari pusat kota Jepara. Dari arah kota Jepara, Anda ambil jalur arah utara menuju kabupaten Pati melewati kecamatan MIonggo, kecamatan Bangsri dan kecamatan Kembang.
Jarak dari Jepara ke kecamatan Kembang adalah sekitar 20 kilometer. Dari sini, Anda harus menuju ke arah Desa Cepogo melintasi hutan jati milik Perhutani sepanjang kurang lebih 3 kilometer, hingga Anda menemukan pertigaan dengan papan petunjuk jalan menuju lokasi air terjun. Dari sini perjalanan masih 11 kilometer lagi. Perjalanan berlanjut ke desa Bucu tempat air terjun ini berlokasi,
Akses jalan ke air terjun sudah cukup baik dan dapat dilalui kendaraan bermotor roda 4 maupun roda 2. Anda juga dapat mencapai lokasi ini dengan menggunakan kendaraan umum. Dari terminal bus Jepara, Anda dapat naik bus jurusan Pati atau Bangsri, dan turun di pertigaan arah desa Cepogo. Dari pertigaan ini, Anda dapat melanjutkan  perjalanan dengan ojeg yang banyak terdapat di pertigaan tersebut, menuju lokasi air terjun.

Biaya Dan Tarif Di Air Terjun Songgo Langit Jepara

Harga Tiket Masuk ke lokasi air terjun adalah Rp.1.500,00 pada hari kerja dan Rp. 2.000,00 pada hari libur. Tarif parkir untuk motor Rp. 1.500,00, untuk mobil Rp.3.000,00 sedangkan untuk bus Rp.5.000,00. Bagi Anda  yang menggunakan kendaraan umum, ongkos ojeg dari pertigaan arah desa Cepogo adalah sekitar Rp.20.000,00 sekali jalan.
Area parkir yang tersedia cukup luas, dan terdapat beberapa warung makan serta toilet umum. Hanya saja kondisi toilet disana perlu diperbaiki.
Air terjun ini dinamakan Songgolangit, karena jika kita memang air terjun ini dari bawah, maka posisi tebing nya seolah menyangga langit yang ada diatas. Air terjun ini memiliki ketinggian 80 meter dengan lebar 2 meter dilengkapi kolam air penampungnya yang memiliki kedalaman 3 meter. Di sekitar air terjun ini Anda dapat melihat banyak kupu-kupu indah berwarna-warni.

GADIS SONGGO LANGIT
Air di sini dianggap dapat memberikan khasiat awet muda bagi mereka yang membasuh wajah mereka menggunakan air dari air terjun ini, atau mandi di sini. Namun ada satu hal yang perlu Anda perhatikan, bahwa di dalam kolam air terjun ini terdapat palung sedalam 8 meter dengan resiko sangat tinggi dimana orang bisa terseret ke dalamnya.

Menurut warga sekitar sudah ada beberapa pengunjung yang menjadi korban, sehingga di sekitar kolam air terjun terdapat papan peringatan larangan bagi pengunjung untuk berenang. DIkabarkan sebelumnya terdapat pagar besi melingkar yang membatasi pinggiran kolam disini untuk menjaga keamanan pengunjung, namun sayang pagar besi tersebut saat ini sudah hilang dikarenakan berkali-kali dihantan derasnya aliran dari air terjun ini.

Oh ya, jangan kaget bagi anda pengunjung pria. Biasanya di sekitaran air terjun ini ada serang anak laki-laki yang memiliki kelainan mental. Dia sangat suka mengikuti para pengunjung laki-laki. Tidak usah takut karena dia tidak akan mengganggu anda. Cukup bersikap sewajarnya dan tidak usah berlebihan :D
Disarankan untuk mengunjungi tempat ini tidak pada musim kemarau panjang, karena pada saat kemarau kucuran dari air terjun ini menipis sehingga Anda tidak dapat menikmati keindahan aliran air terjun ini.
[]Lovalia

0 komentar
Label: , , ,

Seni Budaya Blora : Wayang Krucil

Wayang merupakan budaya khas dan asli dari Indonesia terutama di pulau jawa,sebagian wilayah wilayah yang terletak di pulau Jawa memiliki ciri khas Wayangnya sendiri,terutama Kota Blora.Kota ini memiliki wayang yang unik yaitu Wayang Krucil,wayang yang satu ini memiliki perbedaan dari yang lainnya,yaitu dari bahan dan bentuknya,wayang yang ini cenderung lebih kecil dari wayang lainnya,dan karena bentuknya yang kecil dan bagus,membuat orang yang menontonnya akan tertarik.
Sumber Foto : www.infoblora.com

Selain seni Barongan,Blora masih memiliki seni yang tidak kalah denganny,termasuk adalah Wayang Krucil ini,pementasan wayang ini biasanya dilakukan setiap hari hari besar seperti HUT RI,Sedekah Bumi dan lainnya

Namun banyak masyarakat yang hampir melupakan kebudayaan ini.Wayang ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan wayang-wayang lainnya,dan pada saat di tengah tengah pertunjukan,biasanya terjadi dialog antara dalang,wayang,dan penyinden yang mementaskan wayang ini,dan berikut adalah para tokoh-tokoh pewayangan yang ada di dalam wayang krucil :

  • Damarwulan
  • Menakjingga
  • Layangseta
  • Layang Kumitir
  • Logender
  • Prabu Kencanawungu
  • Patih Udara
  • Wahita
  • Puyengan
  • Adipati Sindura
  • Menak Koncar
  • Ranggalawe
  • Buntaran
  • Watangan
  • Anjasmara
  • Banuwati
  • Panjiwulung
  • Sabdapalon
  • Nayagenggong
  • jaka Sesuruh
  • Prabu brawijaya
  • Angkatbuta
  • Ongkotbuta
  • Dayun
  • Melik
  • Klana Candrageni
  • Klanasura
  • Ajar Pamengger
  • Dewagung Walikrama
  • Dewagung Baudenda
  • Daeng Marewah
  • Daeng Makincing
Tokoh yang digunakan termasuk tokoh yang sangat unik dan sangat banyak,serta tokoh yang ada di dalam wayang krucil ini memiliki sifat atau karakter yang berbeda beda dan beragam,maka dari itu wayang yang satu ini tidak mudah membuat bosan orang yang menontonnya.Namun sekarang ini sudah sangat menurun yang meminati pementasan Wayang Krucil  ini,mungkin hanya sebagian saja yang masih berminat untuk menonton pertujukan ini.Serta para pengerajin wayang krucil ini juga sudah berkurang tahun demi tahun,hal ini bisa jadi disebabkan oleh menurunnya para peminat wayang krucil sehingga para pengerajin sudah tidak lagi membuat atau menghasilkan wayang wayang krucil.

Wayang ini mempunyai sejarah yang sangat besar,jenis wayang ini adalah jenis yang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah diwilayah pulau jawa terutama pada Jawa Tengah dan sangat berkembang pesat dari zaman ke zaman,namun belakangan ini kesenian wayang sudah tidak lagi diminati serta telah tergeser oleh budaya budaya asing dari luar negeri.Marilah kita lestarikan budaya budaya Indonesia salah satunya adalah Wayang Krucil.

Sekian ulasan yang dapat saya berikan,semoga bermanfat bagi anda.Terima kasih sudah membaca ulasan ini dan marilah kita lestarikan budaya Indonesia.
[]Lovalia : Berbagai Sumber

0 komentar
Label: , , ,

Wisata Blora : Dipo Lokomotif Tua, Cepu

gerbong kereta minyak dan batubara
Kalau kamu berkeliling Kota Cepu, kamu pasti akan menemukan banyak jalur rel yang sudah tidak terpakai. Jika kebetulan kamu penasaran dan mengikuti jalur rel tersebut, kamu akan sampai ke Pusat Diklat Pertamina. Bekas jalur ini dulunya merupakan jalur rel untuk mengangkut minyak dari kilang, tetapi sudah tidak dipakai lagi sejak lama.

ini salah satu kereta yang masih terawat dengan baik
Kemudian kalau kamu ikuti terus, kamu akan menemukan jalur rel lain di sekitar tempat itu. dan tak lama kemudian kamu akan menemukan tempat yang di dalamnya terdapat banyak kereta. Yaps kamu akan tiba di Dipo Loko milik Perhutani yang terkenal hingga mancanegara itu. Dipo ini tepatnya berada di kelurahan Ngelo, Kecamatan Cepu. 

Roda-roda kereta tua
Di tempat itu kamu mungkin akan menjumpai beberapa tukang kayu yang sedang mengerjakan pesanan. Sapalah mereka dan mintalah izin masuk ke dipo untuk melihat-lihat apa saja di dalamnya. Terlihat kondisi loko-loko di sini cukup memprihatinkan dan kotor, mungkin karena mahalnya biaya perawatan. Selain itu sudah lama tidak beroperasi karena masih sepi peminat dan kurangnya promosi.

Ini milik kita, bangsa Indonesia
Pak Eko, salah serang pengurus dipo ini mengatakan, “Dulu ada orang dari Jerman datang ke sini, mereka bahkan melepas kaosnya untuk membersihkan loko-loko uap ini, mungkin karena begitu cintanya dengan loko buatan nenek moyang mereka,” beliau bercerita. Bahkan dari beliau kami mendapat info bahwa dulunya loko-loko ini sempat mau diambil oleh orang Jerman, mereka menuntut mau dikembalikan ke sana. Namun, kereta ini khan sekarang sudah menjadi milik bangsa Indonesia, khususnya Perhutani. Akhirnya tidak terjadi karena mereka kalah di pengadilan.

Rel tua yang masih utuh, luar biasa
Sebagaimana Dipo kereta tua lainnya, tempat ini pun konon menyimpan cerita mistis. Tak heran beberapa waktu lalu sempat dijadikan lokasi syuting Mister Tukul Jalan-jalan. Wow...

Pohon beringin yang penuh aura mistis
Tapi, di samping cerita mistisnya, di tempat ini kamu akan merasakan sensasi Indonesia di zaman perjuangan dan mungkin membawa kamu pada nuansa film Kereta Api Terakhir hihi... Tidak usah takut, tempatnya adem, asri dan cocok untuk hunting foto. Ingat ya , tetap jaga kesopanan dan jangan merusak apa yang ada di sini. 

Mari lestarikan aset berharga ini
Naiklah kereta uap ini, karena selain dapat menikmati pemandangan alam yang indah hutan jati di Cepu, Anda juga ikut serta menjaga kelestarian loko uap ini. 

[]Lovalia

0 komentar
Label: , ,

Pladu Bengawan Solo

Bagi masyarakat di kampungku dan sekitarnya mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata Pladu, tapi sebagian dari mereka juga masih belum tahu betul asal muasal Pladu. Karena selama ini mereka menganggap Pladu adalah fenomena alam yang menguntungkan bagi mereka. Pladu versi orang awam kampungku adalah datangnya hujan frontal setelah musim kemarau, sehingga membuat endapan lumpur sungai Bengawan Solo naik ke permukaan. Keadaan yang demikian membuat makhluk hidup yang ada di sungai kehilangan penglihatannya dan berenang tak tentu arah hingga ke permukaan sampai ke tepian sungai.

Pladu adalah saat yang sangat dinantikan oleh sebagian masyarakat yang bertempat tinggal di daerah sekitar aliran bengawan Solo. Mereka akan menyambut dengan suka cita karena ikan dan udang seolah menghampiri mereka dan menyerahkan diri untuk dipanen tanpa susah payah Tapi tahukan mereka, bahwa Pladu adalah hasil dari perbuatan keji yang dilakukan oleh sebagian orang/oknum yang tidak bertanggung jawab, yang demi melancarkan kepentingannya pribadi mereka telah merusak ekosistem yang ada di dalam air sungai? Menurut hasil investigasi, survey dan logika saya setelah cari tahu sana sini, Pladu memang awalnya terbentuk dari fenomena alam, yaitu datangnya hujan frontal seperti pengertian awam tadi, tetapi tidak sampai membuat ikan kehilangan penglihatannya. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan debit air sungai meningkat ditambah dengan keruhnya air sungai kemudian dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuang limbah industrinya ke sungai. Kandungan racun dari limbah cair pabrik yang tidak diolah lebih dulu itulah yang menyebabkan kehancuran makhluk hidup air sungai. Bahkan limbah cair yang sudah diolah, sisa olahannyapun masih mengandung bahan beracun dan berbahaya seperti Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), Krom (Cr), Seng (Zn) dan Nikel (Ni).

Untuk kawasan aliran sungai bengawan Solo kadar racunnya mungkin tidak terlalu tinggi atau masih diambang batas, terbukti ikan ataupun udang tidak sampai mati, layaknya ikan yang terkena racun dengan kandungan Merkuri (Hg), limbah yang berasal dari pabrik kertas (Pulp=bubur kertas). Belum ada penelitian mengenai hal ini, racun apa yang terkandung dalam ikan Pladu ini. Namun jika ikan yang tercemar ini dikonsumsi terus menerus tentu saja akan berdampak yang tidak baik untuk kesehatan. Ikan yang tercemar oleh merkuri jika dikonsumsi oleh ibu hamil bisa merusak janin bahkan kematian. Pladu itu sendiri hanya terjadi kurang dari 10 kali dalam kurun waktu satu tahun. Ternyata apa yang dianggap menguntungkan menurut masyarakat itu sebenarnya tidaklah benar. Karena selain merusak alam juga kelangsungan hidup ikan dan manusia itu sendiri. Ikan sungai bengawan Solo memang berbeda dengan ikan air tawar lainnya, rasanya gurih, dan sangat jarang kita temui. Mungkin karena tidak mudah menangkapnya akibat derasnya arus sungai, kecuali jika musim kemarau. Ikan-ikan bengawan Solo antara lain, Jendil, Rengkik, Thengil, Badher dan Wader. Paling enak adalah ikan Jendil. Harga satu ekor ikan Jendil dengan panjang 15cm saja bisa setara dengan harga satu ekor ayam kampung. 

[]Lovalia : Berbagai Sumber

2 komentar
 
BOCAH BLORA MUSTIKA © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters